MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
56. Pengaruh Miras


__ADS_3

Malam ini Johan datang ke rumah kost tempat tinggal Susi. Ia menggedor-gedor pintu dengan keras dan kasar karena kesal melihat pintu tersebut digembok dari luar.


"Keluar kamu, perempuan murahan!" teriaknya sambil menendang-nendang pintu.


Penghuni kamar yang lain merasa terganggu dengan bunyi berisik membuat mereka keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Ibu kost juga keluar dari rumah karena merasa tidak nyaman dengan suara yang berisik.


Ketika berdekatan maka tahulah mereka bahwa laki-lakiitu sedang mabuk berat karena bau minuman keras tercium menyengat hidung.


Ibu kost dan penghuni kamar kost merasa takut untuk mendekat karena mereka semua adalah perempuan sehingga pelan-pelan mundur teratur lalu masuk ke kamar masing-masing dan mengunci pintu.


Ibu kost langsung menghubungi pak RT melalui ponselnya ketika sudah berada di dalam rumah.


Tak lama kemudian satpam datang dan menyuruh Johan pergi tapi Johan malawaan mereka tapi untungnya pak satpam lebih lincah berkelit untuk menghindari pukulannya sehingga Johan terjatuh karena tidak bisa menguasai diri lagi akibat pengaruh minuman keras.


Keningnya terluka karena terbentur tembok hingga ia meringis kesakitan.


"Pergi dari sini sekarang juga karena orang yang kamu cari sudah tidak tinggal di sini lagi!"


"Kamu yang sembunyikan, yah?"


Petugas merasa percuma untuk bicara dengan orang mabuk sehingga dengan mereka langsung memegangi tangannya dengan sekuat tenaga lalu membawa secara paksa keluar dari kompleks tersebut.


Johan merontah-rontah ingin melepaskan diri tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk mengalahkan tenaga satpam yang sedang memegangi kedua tangannya. Ia pun mengumpat dengan kata-kata kasar tapi kedua satpam tak menghiraukan hingga berhasil membawanya keluar dari kompleks.

__ADS_1


Dengan tubuh oleng dan semproyongan Johan mendekati motornya yang terparkir dengan sembarang di jalan masuk ke kompleks.


"Saya tidak yakin ia bisa mengendarai motornya dalam keadaan mabuk berat," kata pak Luki sambil geleng-geleng kepala.


Pak Udin tidak berkomentar. Ia duduk di teras rumah sambil mengatur nafasnya yang masih memburu dan menyeka keringat yang bercucuran dari tubuhnya tapi matanya juga tetap mengawasi gerak-gerik Johan.


Tak lama kemudian Johan membunyikan motornya dengan mempermainkan gasnya sehingga terdengar bunyi meraung-raung yang memekakkan telinga. Dalam hitungan detik saja ia melesat pergi dengan kecepatan maksimal.


Johan terus menembus ramainya jalan dengan kendaraan hingga beberapa di antaranya tersenggol bahkan ada yang jatuh. Ulahnya benar-benar meresahkan pengguna jalan hingga polisi lalu-lintas bertindak.


Ia pun diseret ke kantor polisi dan ditahan setelah sempat melawan petugas. Namun malam itu polisi belum bisa mewawancarai karena Johan masih dibawa pengaruh minuman keras. Ia seperti orang gila saja yang ngomong tanpa jelas hingga akhirnya tetidur dengan pulas.


Rupanya ia stres setelah kehilangan pekerjaan di kantor. Ia dipecat setelah katahuan menggelapkan sebagian uang yang nota-benenya diketahui bahwa uang tersebut digunakan untuk berfoya-foya bersama Dewi setelah termakan oleh bujuk rayu dari perempuan tersebut.


Ketika Dewi mengetahui bahwa Johan sudah tidak punya pekerjaan dan tidak punya apa-apa lagi, ia pun tidak mengubrisnya bahkan nomor ponselnya pun ikut diblokir.


"Hey, bangun!" seru salah seorang petugas membangunkan Johan karena sudah jam di dinding sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB.


Dengan malas Johan membuka matanya dan ia bingung ketika meliahat seseorang yang berseragam pakaian polisi berdiri di pintu ruangan di mana ia berbaring. Ia mulai mengingat-ingat kejadian semalam tapi kepalanya sangat pening. Samar-samar yang diingat adalah ketika meneguk minuman keras dalam jumlah yang banyak di sebuah warung.


Johan memaksakan diri untuk bangun walaupun kepalanya pusing lalu masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan ia merasa sedikit segar setelah keluar dari kamar mandi.


Petugas memberikan peringatan agar jangan lagi melakukan hal yang membahayakan diri sendiri, juga membahayakan orang lain dan masih banyak wejangan atau nasihat-nasihat yang bermanfaat yang disampaikan kepada Johan.


Hampir dua jam ia duduk sambil tertunduk merenungkan perjalanan hidupnya hingga sampai ke tempat ini dan akhirnya ia dibebaskan dan diizinkan untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Dalam perjalanan tepat di lampu merah, secara tidak sengaja ia melihat Dewi dari kaca spion motornya sedang memeluk erat pinggang seorang pria yang memboncengnya. Pria itu sudah tua tapi dari tampangnya ia adalah seorang sultan yang berduit. Pemandangan itu membuat hati Johan menjadi panas karena merasa bahwa hidupnya hancur karena ulah Dewi.


Beberapa saat kemudian motor yang dikendarai oleh pria sultan dan Dewi sudah tepat berada di sampingnya setelah kendaraan di depan bergeser.


Johan menutup wajahnya dengan kaca helm sehingga tidak dikenali dan tampak pria di sebelahnya itu sedang senyum-senyum menikmati elusan jemari Dewi di dadanya bahkan ia juga menggunakan kesempatan yang ada untuk meremas jari-jari lentik yang berada di dadanya yang bidang hingga warna lampu jalan berganti menjadi hijau.


Kini Johan baru menyadari bahwa Dewi hanya memanfaatkan dirinya. Tepatnya, mamanfaatkan uangnya dan setelah semuanya ludes ia kini beralih lagi ke pelukan laki-laki lain tanpa memilih usia yang penting berkantong tebal.


Karena penasaran Johan mengikutinya dan ia heran ketika motor pria itu menghentikan motornya tepat di depan rumah pak Hendrik, orang tua Eric. Johan kenal dengan dengan pak Hendrik karena ia pernah singgah di rumahnya bersama dengan Susi kala itu.


"Tapi pria tadi bukan pak Hendrik," gumamnya dalam hati.


Dari jarak yang agak jauh, Johan terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Bapak itu turun dari motor dan menggandeng tangan Dewi lalu berjalan menuju ke rumah yang ada di samping rumah pak Hendrik.


"Dasar pelakor!" Johan mengumpat lagi dalam hati.


Ia memutar balik motornya lalu pulang ke rumah dengan pikiran kacau. Terlintas pula di benaknya bagaimana Susi, perempuan yang baik dan sangat menyayangi dirinya, selalu mengkhawatirnya dirinya bahkan dengan cerewet selalu menanyakan apakah dirinya sudah sarapan, apakah dirinya sudah ini, itu, kini entah di mana keberadaannya.


Satu per satu bentuk perhatian Susi muncul dalam benaknya membuat rasa rindu mulai menderanya. Ia tidak jadi pulang ke rumah tapi mengarahkan motornya ke rumah kost untuk mengecek kembali keberadaan Susi.


Pandangan sinis ia terima dari orang-orang yang berada di kompleks karena mereka mengenalinya bahwa dialah yang membuat keributan semalam.


"Maaf Dek, yang punya kamar ini ke mana yah?" tanya Johan kepada seorang anak remaja yang kebetulan lewat di depan kamar Susi.


"Kak Susi sudah tidak tinggal di sini lagi. Dua hari yang lalu kedua orang tuanya datang menjemputnya dan katanya waktu pamit kepada kami ia tidak akan kembali lagi," anak itu menjelaskan sesuai dengan yang ia ketahui.

__ADS_1


"Terima kasih Dek atas informasinya!"


"Sama-sama."


__ADS_2