MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
78. Bijaksana


__ADS_3

Pak Hendrik dan ibu Elma telah siap untuk datang ke rumah Eric setelah mendapat panggilan telepon dari anaknya. Eric memanggil kedua orang tuanya dengan alasan untuk merayakan hari sepesial dalam sejarah hidupnya. Ibunya sempat berpikir karena tanggal sekarang ini bukanlah tanggal kelahiran Eric, bukan pula tanggal pernikahannya dengan Anna tapi suaminya menyuruh agar segera bersiap hingga keduanya berangkat.


Tiba di sana mereka heran melihat beberapa karyawan sedang mengerumuni mobil yang terparkir di halaman rumah dan di situ juga sudah ada Erika dan Angga sedang berselfi-selfi.


"Opa, Oma, Felyn juga udah punya mobil baru, loh!" seru Felyn dengan riang. Ia datang menghampiri oma dan opanya karena biasanya selalu dapat ole-ole dari mereka.


"Oh, yah," sahut ibu Elma.


Pak Hendrik dan istrinya berjalan menuju ke kerumunan para karyawan untuk ikut melihat mobil yang dimaksud oleh cucunya.


"Bagus 'kan Oma?"


"Waoowww, Papa kamu hebat!"


Anna tampak sibuk menata aneka kue yang dipesan tadi kepada ibu Nur, warga sekompleks dengan mereka yang setiap hari menjual kue diperempatan jalan.


Setelah semuanya sudah siap, Eric meminta agar ayahnya memimpin doa terlebih dahulu sebelum menikmati aneka kue yang sudah disuguhkan.


Setelah acara minum dan makan kue bersama selesai, para karyawan kembali ke rumah makan untuk melanjutkan tugasnya sedangkan Eric membawa mobil barunya untuk disimpan di garasi.


Anna mengajak mertuanya masuk ke dalam rumah karena di luar sangat panas dan banyak debu yang beterbangan akibat musim kemarau panjang.


"Kenapa tadi kamu nggak ajak kami ke sini?" tanya ibu Elma kepada Erika.


"Tadi itu Erika pamit mau jalan-jalan sama Angga, tapi bukan ke sini," sahut Erika.

__ADS_1


"Buktinya, kalian ada di sini," sanggah ibunya.


Erika menceritakan kepada ayah dan ibunya bagaimana kronologis sampai bisa bertemu dengan kakaknya di tengah jalan.


"Oh, jadi kalian sudah berani pergi berkencan ke tempat yang jauh?" tanya ibu Elma menyelidik.


"Dekat kok, Bu, buktinya kami sudah pulang," sahut Erika membela diri.


Ketika semua sudah berkumpul, mereka banyak memberi nasihat kepada Erika dan Angga untuk tetap menjaga diri dan tahu batas-batas sebagai sepasang kekasih karena perjalanan mereka masih panjang, jangan sampai kandas di tengah jalan.


"Bagaimana kabar kedua orang tuamu?" tanya ibu Elma yang penasaran dengan hubungan pak Gideon dan ibu Arlin, tetangga mereka, setelah Dewi masuk ke dalam kehidupan mereka.


"Biasa Tante, ayah dan ibu sangat jarang berkomunikasi di rumah, makanya saya malas dan pengennya selalu keluar," jawab Annga jujur.


"Yah, wajarlah, sikap ibumu seperti itu karena tidak semua orang bisa dengan mudah memaafkan pasangannya jika sudah dihianati," ujar ibu Elma.


"Ngomong-ngomong, kapan kalian masuk kuliah?" tanya pak Hendrik. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Minggu depan," jawab Angga dan Erika bersamaan. Keduanya sudah sepakat untuk kuliah di fakultas yang sama walau beda jurusan.


Menjelang magrib, pak Hendrik dan ibu Elma pamit, namun baru saja mereka beranjak dari duduknya, tiba-tiba Johan dan Susi muncul di pintu. Mereka tiba dari kota Baru tadi pada pukul tiga sore dan setelah istirahat sejenak, Susi mengajak Johan untuk datang ke rumah Eric.


Kedua orang tua Eric duduk kembali karena merasa tidak enak untuk langsung pulang sementara ada tamu yang baru datang.


"Ehhh, pengantin baru sudah pulang," sambut Anna dengan gembira melihat Johan dan Susi yang tampak sudah mulai akrab.

__ADS_1


Susi dan Johan tertawa mendengar dirinya disebut dengan pengantin baru.


"Ini, ada sedikit ole-ole dari mama mertua!" kata Johan sambil meletakkan sebuah kardus di meja.


"Aduh, repot-repot segala," ujar ibu Elma.


Anna langsung membuka kardus tersebut dan mengeluarkan isinya yang berupa kue khas kota Baru yang terbuat dari ubi kayu dan diolah secara manual sehingga rasanya sangat enak.


"Ayo, silahkan dicicipi!" tawar Anna.


Mereka kembali mencicipi kue tersebut walaupun sebenarnya perut masih kenyang karena baru saja menikmati kue yang dipakai untuk menyambut mobil baru tadi.


Anna juga menyuguhkan kue tersebut kepada Johan dan Susi.


Susi sengaja datang menemui Eric dan Anna karena ia masih mau bekerja sebagai karyawan di rumah makan dan kebetulan pak Hendrik dan ibu Elma ada di situ sebagai pemiliknya.


Sebenarnya Johan tidak setuju karena kondisi Susi yang sedang hamil tapi untuk menyenangkan hati istrinya maka ia pun mengalah dengan satu ketentuan bahwa Susi harus memastikan dirinya akan baik-baik saja.


"Kalau kami sih, tidak ada masalah, selama Susi mampu," kata pak Hendrik.


"Atau begini...," Eric tidak melanjutkan perkataannya tapi ia memegangi kepalanya sambil berpikir.


Mereka semua penasaran menunggu Eric untuk melanjutkan ucapannya.


"Kami juga butuh karyawan wanita di toko mebel untuk mengurus makanan para karyawan, bagaimana kalau Susi kerja di sana aja, toh Johan juga kerja di sana, jadi kalian boleh tinggal di sana juga," Eric berpikir sangat bijaksana membuat ayah dan ibunya mengancungkan jari jempol ke arahnya.

__ADS_1


Susi meneteskan air mata karena terharu dengan kebaikan yang didapatkan dari keluarga ini. Berulang-ulang ia mengucapkan terima kasih.


Keesokan harinya Johan menyewa sebuah kendaraan untuk mengangkut barang-barangnya ke toko mebel milik Eric dan menetap di sana bersama dengan istrinya.


__ADS_2