MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
38. Sama-sama Kecewa


__ADS_3

Eric meninggalkan mereka dengan perasaan yang sedih setelah memberikan pengertian kepada anaknya bahwa jika opa dan mamanya mengizinkan maka ia akan kembali menjemputnya dan akan membawanya untuk berlibur di kota A sebelum masuk sekolah kembali.


Pak Nico dan Anna sama-sama diam dan tidak merespon keinginan Eric. Keduanya sama-sama saling berharap untuk berkomentar.


"Kalau Papa tidak sibuk lagi, tolong jemput saya!" pinta Felyn dengan manja.


"Iya, Sayang," sahut Eric.


Sekali lagi ia berjongkok dan memeluk anaknya dengan erat sambil mencium pipinya.


"Papa janji yah akan segera datang menjemputku!"


Eric mengangguk lalu pamit. Ekor mata Anna mengikuti kepergian suaminya itu. Ada rasa kecewa menyusup ke dalam kalbunya. Tadinya ia pikir bahwa Eric akan pulang ke rumah bersama dengan mereka tapi kenyataan berkata lain, sepertinya ia sudah nyaman dengan kehidupannya dan ia datang hanya untuk menyenangkan hati anaknya. Begitulah yang ada di pikiran Anna saat ini.


Sama halnya dengan Eric. Ia berlalu dengan hati yang sangat kecewa. Ia pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi melewati jalan aspal yang mulus di bawah teriknya sinar matahari.


Perjalanan yang biasa ia tempuh selama enam jam kini dilaluinya hanya sekitar lima jam. Hari masih sore ketika tiba di rumah dan disambut oleh ayahnya dengan banyak pertanyaan karena ia pulang tanpa membawa istri dan anaknya sesuai dengan harapan mereka.


Eric tidak menjawab satu pertanyaan pun yang dilontarkan oleh ayahnya karena ia tak tahu harus memberi jawaban seperti apa dan tubuhnya juga terlalu capek setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ia masuk ke rumah dan langsung meluruskan belakang di tempat tidur.


Ingatannya tidak lepas dari sikap Anna dan mertuanya yang sepertinya kurang bersahabat namun hatinya juga sedikit lega karena bisa bertemu langsung dengan istrinya setelah sekian lama berpisah. Rasa rindu yang selama ini ia pendam sudah sedikit terobati.


Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu dalam dirinya terbangun setelah sekian lama tertidur. Wajah Anna seolah menari-nari di depan matanya membuat ia semakin bergairah walaupun sosok istrinya hanya ada bayangan.


Tubuh masih lemah karena capek tapi hasrat yang menggebu-gebu memaksanya untuk bangun dan dengan tergesa ia masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu dengan caranya sendiri.


"Tok, tok, tok" suara ketukan di pintu kamar tapi Eric tidak mendengarnya karena suara air yang mengalir dari kran sangat keras.


"Eric, ini ada air minum hangat!" seru pak Hendrik di depan pintu.

__ADS_1


Eric keluar dari kamar mandi dan mendengar suara ayahnya yang memanggil namanya. Segera ia membuka pintu dan tampak ayahnya membawa segelas kopi yang asapnya masih mengepul.


"Ah, Ayah repot-repot segala," kata Eric sambil meraih nampan dari tangan ayahnya lalu membawanya ke ruang tengah dan meletakkan di meja.


"Bagaimana kabar istri dan anakmu?"


"Mereka baik-baik saja,"


"Kenapa kamu tidak mengajaknya pulang?"


"Mereka belum siap,"


Pak Hendrik tidak mau bertanya lagi. Ia mengerti bahwa Eric lagi kurang semangat karena usahanya belum berhasil untuk membawa pulang istri dan anaknya.


Tak lama kemudian pak Hendrik kembali ke warung karena banyak pelanggan yang berkunjung dan pak Darman kadang kewalahan melayani mereka jika sendiri.


Setelah dirawat di rumah sakit selama beberapa hari, ibu Elma sudah diperbolehkan pulang ke rumah karena kondisinya sudah berangsur-angsur membaik. Eric menawarkan agar pulang ke rumahnya saja tapi ibunya menolak.


Ibu Elma tidak bisa membayangkan jika harus bertemu lagi dengan Dewi sehingga ia mencari alasan dan pulang ke rumahnya saja.


"Iya Bu, kita pulang ke rumah Kak Eric saja, lagian kalau kita ke rumah, siapa yang mau merawat Ibu?" usul Erika.


"Kan ada kamu, Nak," sahut ibu Elma.


"Tapi saya harus ke sekolah, sementara kalau Ibu tinggal di rumah Kak Eric, ada ayah yang akan merawat Ibu di sana," kata Erika lagi.


Ibu Elma terdiam. Dalam hati ia berpikir, mengapa suaminya nggak mau pulang ke rumah padahal mereka sudah baikan? Ataukah suaminya lebih memilih tinggal di rumah Eric karena bertetangga dengan Dewi?¹


"Ayahmu boleh tinggal di rumah, kok," ucap ibu Elma dengan susah payah.

__ADS_1


"Mungkin Ayah bisa pulang ke rumah tapi setelah warungnya tutup dan itupun sudah tengah malam karena warung buka sampai jam sebelas malam bahkan kadang sampai jam dua belas," ujar Erika dengan polosnya membuat ibunya semakin penasaran.


"Terserah kalian aja deh, yang mana baiknya!" Ibu Elma akhirnya mengalah dengan kemauan anak-anaknya karena mengingat kondisi tubuhnya yang belum stabil dan pastinya ia masih sangat membutuhkan perawatan dari mereka.


Tiba di rumah Eric, pak Hendrik langsung menyambutnya dengan gembira. Ia menghampiri dan membantu istrinya turun dari mobil lalu memapah masuk ke dalam rumah. Ibu Elma heran melihat warung yang ada di depan rumah tapi ia berusaha bersikap biasa-biasa saja.


Sekilas juga ia melirik ke rumah tetangga di mana dulu ia sering nongkrong di sana bersama dengan Dewi. Tampak seorang laki-laki seumuran dengan Eric yang keluar dari rumah dan naik ke mobil yang terparkir di halaman rumah. Ibu Elma memperhatikan mobil tersebut dan ia memastikan bahwa itu bukan mobil milik Dewi yang biasa ia tumpangi dulu. Ia berpikir mungkin pria itu adalah selingkuhan Dewi.


"Ayo duduk dulu di sini, saya akan mengambil minuman hangat di dapur dulu!" kata pak Hendrik kepada istrinya.


Ibu Elma duduk di sofa dengan segudang pertanyaan di kepalanya. Sementara itu Erika muncul di pintu sambil membawa makanan untuk dirinya sendiri. Tadi, saat baru tiba ia langsung ke warung dan mengambil sendiri makanan kesukaannya karena perutnya sudah keroncongan. Ibunya memperhatikan dengan saksama.


"Ibu mau juga?" tanya Erika karena ia menyadari bahwa ibunya sedang memperhatikan dirinya.


"Kamu dapat di mana makanan itu?" tanya Ibu Elma.


"Ambil sendiri di warung Bapak," sahut Erika sambil menggigit sate ayam kesukaannya dengan lahap.


"Ayah kamu punya warung?" tanya ibunya lagi.


"Iya Bu, Ayah udah lama menjual makanan," jawab Erika.


Ibu Elma ingat sekarang, selama ini ketika Erika pulang ke rumah dan selalu membawa makanan yang katanya makanan tersebut dibeli oleh kakaknya. Ternyata Erika mengambilnya di warung milik ayahnya. Tahulah ia sekarang mengapa Erika sangat rajin berkunjung ke rumah kakaknya.


"Eh, Erika kok makan sendiri, nggak ambil juga buat ibumu?" kata pak Hendrik yang muncul dari dapur sambil membawa teh hangat.


"Tenang Ayah, hitung-hitung ini gaji saya nanti setelah cuci piring!" ucap Erika sambil tertawa renyah.


Pak Hendrik ikut tertawa mendengar ucapan anaknya. Keduanya tampak sangat akrab.

__ADS_1


__ADS_2