MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
48. Wajah yang Tidak Asing


__ADS_3

Eric sangat kecewa ketika ia selesai memeriksa setiap sudut ruangan dan tidak menemukan sosok Anna.


"Bapak ke sini hanya berdua dengan Felyn?" tanyanya menyelidik.


"Iya, soalnya ibunya Felyn sedang sibuk," jawab pak Nico.


Eric merasa bahwa Anna sudah benar-benar melupakan dirinya. Ia menatap lekat wajah anaknya yang kusut dengan tubuh yang sangat kurus. Ada rasa iba dalam hatinya membuat matanya kembali berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa Felyn sangat menderita dengan situasi yang sedang dihadapinya selama ini.


Malam itu sebelum tidur, pak Nico menyampaikan apa yang dialami oleh Felyn selama ini kepada Eric sehingga alasan itulah yang membuat ia datang ke kota ini untuk mempertemukan dengan ayahnya.


"Siapa tahu dia mau masuk sekolah kembali jika ia tinggal di sini," kata pak Nico.


"Semoga aja, Pak," ucap Eric.


Masih banyak hal yang mereka perbincangkan tentang perubahan yang terjadi pada Felyn dan Eric ingin sekali menanyakan tentang sikap Anna tapi mulutnya terasa berat hingga malam semakin larut dan ayah mertuanya juga sudah mengantuk.


Malam itu Eric tidur bersama dengan putri kecilnya. Ia seakan bermimpi bahwa bisa memeluk anaknya dengan erat. Felyn pun merasakan hal yang sama. Sesekali ia menatap wajah ayahnya kemudian kembali mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin lepas lagi. Keduanya tertidur dengan nyenyak dibuai mimpi yang indah.


Keesokan harinya setelah sarapan pagi, pak Nico pamit kepada Eric dan Felyn untuk kembali ke kota B.


"Kamu sekolah yang baik dan jangan nakal!" pesan pak Nico kepada cucunya.


"Tapi kalau saya rindu, tolong jemput yah!" ucap Felyn.


"Siap!" ujar Pak Nico.


Ia mencium pipi cucunya lalu naik ke atas bus yang akan mengantarnya ke kota B.


Setelah opanya pergi, Felyn masuk kembali ke dalam rumah karena mau siap-siap untuk keluar. Semalam ayahnya berjanji untuk menemani dia ke tempat wisata yang ada di kota tersebut. Sebuah permandian yang tak pernah sepi dari pengunjung karena tempat tersebut ditata sedemikian rupa sehingga tampak asri dan juga kebersihannya sangat terpelihara.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan kendaraan roda dua, keduanya tiba di tempat tujuan. Mereka tidak langsung mandi-mandi karena matahari belum menampakkan dirinya. Kesempatan ini digunakan oleh Eric untuk mengunjungi beberapa kios-kios tempat menjual barang-barang yang biasanya dibutuhkan oleh para pengunjung dan di situ ada juga minuman yang dijual.


"Kamu suka dengan topi ini?" tanya Eric kepada Felyn sambil menunjukkan sebuah topi anak yang berwarna pink.


"Suka bangat," sahut Felyn dengan senang.

__ADS_1


Eric juga membeli sebuah kaca mata hitam dan langsung memakainya.


"Papa sangat keren, seandainya ada mama di sini pasti dia juga mau beli kaca mata," kata Felyn.


"Kamu sih, nggak ajak mama ke sini!" ucap Eric.


"Nanti kalau saya rindu, kita jemput mama yah!" kata Felyn dengan serius.


Eric tersenyum mendengar ucapan anaknya. Ia meraih tangannya dan mengajak ke villa kecil untuk menikmati minuman hangat sambil menunggu matahari terbit.


"Apa kamu yakin bahwa mama masih mau datang ke sini?" tanya Eric dengan menatap wajah polos anaknya.


Felyn menganggukkan kepala.


"Saya kira mama kamu sudah punya calon suami lagi?"


"Nggak, mama masih sibuk menjual makanya nggak datang ke sini,"


Eric menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Ada keinginan untuk mengorek lebih jauh lagi tentang bagaimana kehidupan Anna tetapi ia kembali sadar bahwa Felyn masih terlalu kecil dan tidak mungkin tahu pergaulan ibunya seperti apa.


Eric menoleh dan melihat seorang gadis berkaca mata hitam dan juga mengenakan masker. Dia berjalan bersama seorang pria yang sepertinya tidak asing lagi bagi Eric maupun Felyn dan keduanya sedang berjalan ke arah mereka.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanyanya dengan lembut sambil mendekati Felyn.


"Kakak Yura?" tanya Felyn pula. Ia mengenali suara Yura.


Yura membuka masker dan menggeser kaca matanya untuk dijadikan bando sehingga wajahnya kini tampak jelas.


Sementara itu Eric berusaha mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu dengan pria yang datang bersama dengan Yura ini, kenapa wajahnya tidak asing.


"Felyn datang ke sini bareng siapa?" tanya pria tersebut.


"Sama Papa, Om, kenalin ini Papa saya yang ganteng!" ucap Felyn dengan bangga.


Keduanya pun bersalaman.

__ADS_1


"Eric,"


"Beni,"


Dalam hati Beni mengakui ketampanan laki-laki yang ada dihadapannya. "Pantas aja, Anna tidak bisa melupakan." gumamnya dalam hati.


Mereka berempat kembali duduk setelah berkenalan. Yura dan Eric sudah saling kenal karena pernah bertemu langsung dan juga dulu keduanya sering berhubungan lewat ponsel.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba," ucap Beni membuat Yura dan Eric saling berpandangan karena merasa heran dengan peribahasa yang diucapkan itu lalu keduanya menatap Beni dengan tanda tanya.


Sementara itu Felyn sudah gelisah untuk segera mandi di kolam renang dan meminta kepada Yura agar menemaninya.


"Tolong awasi anak saya, yah!" pinta Eric kepada Yura.


"Siap, Pak!" sahut Yura.


Yura dan Felyn pergi meninggalkan mereka berdua. Keduanya mengganti pakaian yang melekat di tubuhnya dengan pakaian renang lalu berendam di kolam yang diperuntukkan bagi anak-anak. Yura terpaksa bergabung dengan anak-anak karena ia harus mengawasi Felyn. Tak lupa ia mengambil gambar menggunakan kamera ponselnya.


Sementara itu, Eric masih terus berpikir tentang pria yang sok akrab ini. Dari gerak-geriknya ia sudah bisa menebak bahwa Beni dan Yura adalah pasangan kekasih.


"Apa maksudnya tadi Anda mengucapkan peribahasa itu?" tanya Eric penasaran.


"Apakah Anda sudah punya istri lagi selain ibunya Felyn?" Beni malah balik bertanya.


"Kenapa Anda menanyakan soal itu? Apa pedulimu dengan urusan pribadi saya?" tanya Eric pula dengan mimik wajah yang agak kurang senang.


"Sebelumnya saya minta maaf, mungkin karena Anna sudah saya anggap sebagai saudaraku sendiri sehingga harus berhadapan pula dengan Anda mengingat anak kalian yang menderita karena pikirannya terbagi membuat anak tersebut stres!" tutur Beni dengan serius.


"Anda kenal dengan istriku?"


"Sangat kenal,"


Eric makin tidak mengerti dan melihat hal itu maka Beni mulai menceritakan perjalan hidupnya dari kecil bersama dengan Anna hingga dipertemukan kembali setelah puluhan tahun berpisah. Eric mendengarkan cerita yang disampaikan oleh Beni dengan saksama.


Tiba-tiba ia teringat dengan video yang dikirim oleh Esty beberapa waktu yang lalu. Ia membuka ponselnya dan melihat video tersebut lalu kembali menatap wajah oria yang ada di depannya. " Tidak salah lagi, pria inilah yang bersama Anna di restoran. Pastas aja wajahnya tidak asing bagiku!" lirihnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2