MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
88. Janda Bolong


__ADS_3

Susi sudah bersiap pulang ketika Ibu Elma dan Erika masuk di rumah Eric.


"Kok, buru-buru amat, sih!"


"Iya Bu, soalnya ada pelanggan yang datang di rumah,"


Sebenarnya Susi masih mau bersantai di rumah Anna tapi ada seseorang yang meneleponnya, katanya mau smoothing rambut. Akhirnya ia pamit karena tidak mau mengecewakan pelanggan tersebut, apalagi yang menghubunginya ini adalah langganan baru.


Setelah grab yang ditumpangi Susi bersama anaknya hilang dari pandangan, Ibu Elma dan Anna menyusul Erika masuk ke rumah.


Erika langsung berbaring di sofa dengan lemas, namun belum beberapa detik ia bangkit lagi dan berjalan terseok-seok ke toilet karena rasa mual kembali menyerangnya.


Ibu Elma tergesa membuntuti anaknya da tak lupa ia mengambil segelas air hangat lalu memberikan kepada Erika.


Angga berdiri di depan pintu toilet dengan panik melihat istrinya yang muntah-muntah terus.


"Tolong dipapah ke kamar biar dia istirahat!" kata Ibu Elma.


"Siap, Bu," sahut Angga.


Tubuh Erika sangat lemah dan tidak kuat untuk melangkah sehingga Angga meraih tubuhnya dan menggendong lalu membawanya ke kamar tamu.


Hati Angga tidak tega melihat istrinya dalam keadaan lemas seperti ini. Perempuan yang hari-harinya selalu ceria dan banyak ngomong kini terbaring lemah tak berdaya.


"Apakah kamu baik-baik saja, Sayang?"


Erika hanya mengangguk tapi matanya tertutup karena kepalanya terasa mau pecah.


Angga mengelus-elus kepala istrinya dengan penuh kasih sayang sementara tangan yang sebelah menggenggam jemarinya dengan erat.


Rasa kantuk pun mulai menyerang, hingga Erika tertidur dengan pulas. Angga menutup tubuh istrinya menggunakan selimut tipis lalu keluar mendapatkan mertua dan kakak ipar yang sedang duduk santai di ruang tamu.


"Bagaimana keadaan Erika?" tanya Ibu Elma.


"Sudah tidur, Bu," jawab Angga lalu duduk bergabung dengan mereka.


"Kamu harus sabar ya, Nak, karena orang ngidam biasa memang begitu dan sepertinya Erika ikut Ibu. Dulu, kalau Ibu ngidam, persis dengan apa yang dialami oleh istri kamu saat ini, bahkan Ibu dulu kadang-kadang sampai pingsan, tapi kamu jangan takut karena itu tidak akan berlangsung lama. Biasanya masa ngidam itu sampai umur kandungan tiga bulan!" saran Ibu Elma kepada menantunya.

__ADS_1


"Iya Bu, tapi bolehkah kami nginap di rumah Ibu selama Erika dalam masa ngidam?" tanya Angga dengan serius.


Mereka semua tertawa mendengar pertanyaan Angga. Sepertinya ia sangat takut dan merasa tidak sanggup untuk mengurus istrinya sendirian karena kedua orang tuanya sibuk bekerja.


"Aduhhh, Angga... Angga, kayak orang lain aja," seru Pak Hendrik sambil tersenyum.


"Kalian 'kan anak Ayah dan Ibu, yah... boleh dong tinggal di rumah," sambung Ibu Elma.


Angga senang mendengar komentar ayah dan ibu mertuanya. Ia merasa sangat dekat dengan mereka bahkan lebih akrab bila dibanding hubungnnya sendiri dengan kedua orang tua kandungnya. Begitu pula denagn kakak-kakak iparnya, mungkin karena ia anak tunggal sehingga saat ini ia merasa senang setelah menikahi Erika karena punya beberapa kakak.


Sambil menunggu Erika bangun dari tidur, mereka mengisi waktu untuk membantu Anna memisahkan pot bunga yang baru saja ditanami aneka bunga dengan pot yang bunganya sudah tumbuh dan sudah siap untuk dipasarkan.


Beberapa hari yang lalu Anna mempromosikan tanaman bunganya melalui media sosial dan pesanan pun datang dari berbagai kalangan dan tentunya hal ini membuat Anna semakin bersemangat untuk mengembangkan usahanya.


Walaupun suami punya banyak uang tapi jika istri juga bisa menghasilkan uang sendiri maka di situlah ada hikmah tersendiri. Di zaman sekarang ini, seiring dengan perkembangan dunia yang semakin modern, mau tidak mau, manusia dituntut untuk bekerja dan bekerja karena kalau tidak maka istilahnya kita akan ketinggalan kereta.


"Ting!"


Sebuah pesan masuk di ponsel Anna. Ia mencabut kaos tangannya lalu mengusap layar ponselnya.


(Saya dari hotel Bintang Lima ingin pesan bunga 'Janda Bolong' sebanyak sepuluh pot. Berapa harganya per pot?)


(Bunganya rata-rata baru memiliki tiga lembar daun dan saya menjualnya dengan harga seratus dua puluh lima per pot. Agak mahal soalnya saya menggunakan pot yang kwalitasnya bagus)


Anna mengirim balasan.


(Tidak masalah, Bu yang penting bunganya cukup sepuluh pot. Tolong antar ke Jalan Mawar nomor satu!)


(Oke,.siap)


Pak Hendrik, Ibu Elma, dan Angga membantu Anna untuk memilih pot yang berisi tanaman bunga Janda Bolong, sementara itu Anna pergi memanggil pak Darman.


"Bisa minta tolong, Pak?"


"Iya, kebetulan lagi santai, nih,"


"Tolong antarkan bunga itu ke alamat ini!"

__ADS_1


Anna menyerahkan sepotong kertas yang sudah ditulisi alamat itu kepada Pak Darman.


Pak Darman juga senang karena ia mendapat tambahan penghasilan. Ia mengeluarkan mobil dari garasi lalu menaikkan bunga-bunga tersebut dibantu oleh Angga.


Mobil dengan bak terbuka itu tidak pernah lagi dibawah oleh Pak Hendrik ke rumahnya karena ia telah memberi kepercayaan kepada Pak Darman untuk mengurusnya dan mobil itu digunakan untuk mengangkut barang belanjaan dari pasar dan sejak Anna punya usaha menjual bunga, mobil itu pun memiliki fungsi ganda.


"Sepertinya Ibu juga tertarik dengan usaha kamu, Nak," kata Ibu Elma.


"Ahhh, Ibu yang santai aja, toh udah punya pekerjaan tetap. Bukannya takut punya saingan tapi nanti Ibu malah nggak ada waktu buat mengurus yang lainnya!" ujar Anna.


"Iya juga sih, tapi Ibu juga senang dengan tanaman bunga,"


"Boleh Bu, beli aja potnya nanti saya berikan bibitnya!"


Obrolan mereka terhenti karena mendengar suara Erika yang memanggil-manggil nama suaminya, sementara Angga tidak ada di situ karena tadi ia ikut dengan Pak Darman untuk mengantar bunga.


Ibu Elma dan Anna setengah berlari masuk ke dalam rumah. Anna menengok ke kamar dan kamar itu kosong.


Keduanya terus menuju ke dapur dan di sana Erika sudah duduk menghadap meja makan. Ia sedang lapar dan di meja sama sekali tidak ada makanan karena tadi Bi Ima tidak memasak.


"Kamu mau makan apa, Nak?" tanya Ibu Elma.


"Mau makan bubur Manado dengan sambal yang pedas," sahut Erika.


Anna dan Ibu Elam saling berpandangan.


"Adek bisa nunggu kira-kira empat puluh lima menit dari sekarang?" tanya Anna.


Erika mengangguk.


Ibu Elma, Anna, dan Bi Ima langsung membagi tugas dan pekerjaan ini terasa enteng karena semua bahan sudah tersedia dan sayuran juga ada di kulkas.


"Ma, tolong jaga Adek Krisna dulu soalnya Felyn mau ngerjain PR. Tuh, teman-teman udah nunggu di ruang tamu!" kata Felyn yang datang menggandeng tangan adiknya.


"Oh, iya Nak, belajar yang giat yah!" ujar Anna. Ia menyerahkan sayur yang sudah dipotong-potong kepada Bi Ima untuk dicuci.


"Sini, biar Ibu yang jagain Krisna!" tawar Ibu Elma.

__ADS_1


Setelah Ibu mertua dan Krisna pergi ke luar, Anna membantu Bi Ima memasak dan tak lama kemudian bubur Manado sudah siap di meja. Asapnya masih mengepul dan aromanya menggugah selera.


Erika tersenyum lalu perlahan menikmati bubur tersebut dengan lahap karena perutnya sudah kosong, tadi ia hanya makan sedikit sekali dan itu pun kembali dimuntahkan.


__ADS_2