MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
6. Tidak Bisa Fokus Bekerja


__ADS_3

Anna tampak cemas karena ia sudah mencari Felyn ke mana-mana tapi tidak menemukan anak tersebut. Tadi saat mau beres-beres di dapur Felyn sedang main di depan TV tapi setelah pekerjaan di dapur selesai, Anna berencana untuk memandikannya tapi anak itu sudah tidak ada di tempat.


"Felyn, Felyn!" teriak Anna sambil memeriksa semua sudut ruangan termasuk toilet dan kamar mandi namun hasilnya tetap nihil.


Ia berjalan ke pintu utama, memutar gagang pintu dan pintu pun terbuka padahal seingatnya tadi ia sudah mengunci sebelum ke dapur. Lalu siapa yang membukanya? Adakah kemungkinan Felyn yang memutar anak kunci karena ia sudah bisa menggapainya? Bisa jadi karena sekarang umur Felyn sudah dua tahun dan terbilang cerdas bila dibanding dengan anak-anak seusianya.


"Felyn... ! Felyn... !" teriaknya setelah berada di luar.


"Ma... ma!" Anna menoleh mendengar suara anak kecil. Tak salah lagi itu suara Felyn. Ia sedang berada di teras rumah Dewi.


Hari ini Dewi tidak masuk kerja karena bukan lagi jadwalnya. Ia hanya kerja selama tiga hari dalam seminggu. Waktunya di rumah ia gunakan untuk menjual secara Online.


Anna langsung menghampiri dan ia heran karena baju yang dikenakan oleh anaknya sudah berubah. Tadi ia pakai baju warna merah dan sekarang sudah pakai baju warna kuning dan baju tersebut masih baru. Ia langsung meraih dan menggendong anaknya untuk dibawa pulang ke rumah.


"Hey, tunggu dulu!" suara Dewi menghentikan langkahnya.


"Rupanya kamulah biang keroknya, saya sudah capek cari Felyn ke mana-mana, ternyata dia kamu bawa ke sini!" ucap Anna penuh kemarahan.


"Ehh, jangan asal nuduh dong. Anak kamu itu datang sendiri, mana tadi dia datang dengan wajah belepotan! Harusnya kamu berterima kasih kepadaku karena Felyn berada di tangan orang yang tepat! Coba bayangkan jika tadi saat keluar dari rumah tiba-tiba ada penculik anak-anak yang lewat, kamu pasti lebih repot. Lihat tuh, felyn udah aku mandikan, makanya jadi ibu itu jangan biarkan anaknya main sendirian, dia itu kesepian loh!" ujar Dewi panjang lebar.


Anna memang mencium aroma harum dari tubuh anaknya pertanda bahwa Felyn sudah mandi namun ia tidak mau berurusan lagi sama Dewi akhirnya ia memilih diam lalu bergegas pulang ke rumahnya yang hanya beberapa langkah saja dari rumah Dewi.


"Hey, tunggu dulu!" seru Dewi dengan keras.


"Ada apa lagi, sih?" tanya Anna dengan wajah cemberut.


"Nih, pakaian kotornya Felyn!" ucap Dewi sambil menyodorkan baju dan celana Dhey.


Anna langsung membalikkan tubuh tanpa ucapan terima kasih. Ia tak habis pikir, kenapa Dewi punya baju kecil yang

__ADS_1


pas di tubuhnya Felyn.


***


Di kantor Eric tidak bisa fokus kerja karena sebentar-sebentar ponselnya berdering. Awalnya ia mengabaikan tapi rasa penasarannya lebih besar sehingga setiap kali ponselnya berdering ia dengan segera membukanya walau pun pekerjaan di depannya sudah menumpuk.


"Ting!" sebuah pesan masuk lagi.


Eric sangat terpukau dengan foto yang dikirim oleh Dewi kali ini. Dua gundukan yang kenyal terpampang nyata di layar ponselnya. Ada hasrat yang menggebu-gebu ingin melahap benda tersebut tapi hanya bisa dilakukan dalam khayalan.


"Ting, ting, ting!" suara bel tanda istirahat sudah berbunyi. Eric pun bergegas untuk pulang ke rumah. Dengan tergesa-gesa ia mengeluarkan motornya dan melesat pergi. Foto yang dikirim oleh Dewi telah meracuni otaknya sehingga ia tidak bisa lagi menahan hasratnya.


Tiba di rumah ia sangat senang mendapati istrinya yang sedang tidur-tiduran di sofa sambil melihat-lihat barang jualan di aplikasi Shopie.


Rupanya Anna sedang bersantai karena semua pekerjaannya sudah beres dan anaknya pun sudah tidur siang. Hal seperti ini sering ia lakukan untuk menanti kepulangan suaminya.


Perlahan ia menyingkap baju dres yang dikenakan oleh istrinya lalu memberikan pijatan-pijatan lembut. Ia juga sanang dan tertarik dengan penampilan Anna yang semakin seksi dan hal ini terjadi sejak si Dewi menjadi tetangga mereka. Eric sudah tahu alasannya. Tentunya Anna tidak mau tersaingi oleh mantan kekasih suaminya itu.


"Mas nggak lapar?" tanya Anna dengan heran karena biasanya Eric akan langsung menyerbu makanan di meja baru istirahat dan menggodanya jika masih punya waktu tapi kali ini lain dari pada kebiasaannya.


"Sebentar sayang, Mas mau menikamati makanan yang ini dulu," sahutnya sambil mencium bibir istrinya penuh nafsu.


Buah kembar dalam ponselnya tadi seolah menari-nari di pelupuk matanya. Ia pun sekalian melucuti pakain Anna dan benda yang ada dalam khayalannya sudah ada di depan mata, yang membedakan hanyalah ukuran. di ponselnya lebih besar dan lebih kenyal serta lebih menantang sedangkan milik Anna lebih kecil sedikit karena sudah punya anak dan benda tersebut sudah diisap oleh Felyn selama dua tahun.


Eric pun melakukan seperti yang sering dilakukan oleh Felyn dan hal ini membuat Anna meras geli namun lama- kelamaan rasa geli itu hilang diganti oleh ******* demi *******. Tangan kekar Eric mengelus dan meremas yang sebelahnya sedangkan mulutnya tak mau lepas dari yang satunya.


Sudah tiga puluh menit mereka bergulat di sofa dan untuk menghindari gangguan, Eric menggendong tubuh yang sudah polos itu ke kamar tamu. Ia kahawatir kalau melanjutkan aktifitas ini di dalam kamarnya bisa membangunkan Felyn sehingga bisa menghambat pergulatan yang lagi seru-serunya.


Tiba di kamar, Eric masih melakukan pemanasan walau Anna tampak kewalahan untuk menahan hasrat yang sudah hampir memuncak. Hal ini membuat Eric semakin bersemangat. Kini ia yang merebahkan diri dan giliran Anna yqng mengambil alih. Sentuhan halus dari istrinya mampu membuat Eric mendesah dengan nikmat.

__ADS_1


Keduanya pun menyatu dan makin lama nafas yang tadinya memburu sudah mulai surut hingga kembali normal. Senyum tanda puas mengembang di bibir mereka.


"Terima kasih Sayang, pelayananmu sungguh sempurna!" ucap Eric sambil merapikan rambut istrinya yang acak-acakan.


"Sama-sama Mas, semoga Mas tidak akan berpaling ke hati yang lain," kata Anna sambil menatap mata suaminya dengan lekat.


"Nggak akan pernah Sayang, percayalah padaku!" ucap Eric .


Keduanya saling tatap dan tersenyum lalu bergegas ke ruang tamu untuk memungut pakainnya yang berserakan di lantai.


"Tok, tok, tok!" suara ketukan di pintu membuat Anna kembali, padahal ia hendak ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Anna mengintip dari balik kain gorden dan melihat Dewi berada si depan pintu. Ia enggan untuk membuka pintu bagi Dewi, akhirnya ia kembali ke dapur.


"Siapa yang datang?"


"Siapa lagi kalau bukan mantan kekasih Mas yang selalu mengganggu kehidupan kita. Saya tahu, ia ingin merebut Mas dari padaku. Tapi ingat, jika Mas sampai tergoda sama perempuan itu maka siap-siaplah jasi duda kareana pasti saya akan menceriakanmu!" ujar Anna dengan kesal. Kekesalannya kepada Dewi ia tumpahkan di depan suaminya padahal mereka baru saja meneguk keindahan dalam bercinta.


"Kok, marahnya sama Mas? Salah Mas apa dong?" kata Eric bingung.


"Saya nggak marah Mas, cuma mengingatkan soalnya hari-hari belakangan ini sepertinya Mas sudah tidak pernah meletakkan ponsel di sembarang tempat. Tidak seperti dulu lagi," ujar Anna dengan serius membuat Eric gugup.


Ia menyadari sikapnya yang ternyata diam-diam Anna selalu memperhatikan. Belakangan ini ponsel miliknya tak pernah ditaryh di sembarang tempat karena sewaktu-waktu Dewi mengiriminya pesan meskipun ia sudah melarangnya bahkan mengancam tapi seperrinya Dewi malah semakin tertantang. Mungkin saja saat ini ia masih gencar mengirim chat tapi Eric sudah mengantisipasi tadi sebelum berangkat dari kantor dengan cara mematikan nada dering pada ponselnya.


"Ayo, kita makan Sayang, pasti masakanmu ini sangat enak!" ajak Eric untuk mengalihkan pembicaraan.


Ia mengunya makanannya tapi pikiran sedang kalud. "Apakah saya harus ganti nomor ponsel agar Dewi berhenti menghubungiku? Kalau iya, pasti Anna akan semakin curiga.


Usai makan ia masih menyempatkan diri menemani anaknya yang sudah bangun untuk bermain di ruang tengah.

__ADS_1


__ADS_2