MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
53. Tulus dan Ikhlas


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa Eric berangkat ke tempat usahanya dengan mengendarai motor dan di tengah jalan ia berhenti karena melihat kerumunan orang banyak.


"Ada apa ini?" tanya Eric kepada seorang ibu muda yang berpapasan dengannya ketika ia menuju ke kerumunan orang banyak tersebut.


"Ada yang kecelakaan," sahut ibu itu.


Eric pun mendekat dan ingin melihat karena merasa penasaran.


"Astaga!" serunya dengan keras karena kaget.


"Anda mengenal orang ini?" tanya salah seorang bapak yang berada di situ.


"Iya Pak, dia sahabatku," sahut Eric. Ia hendak menyentuh tubuh sahabatnya yang berlumuran darah tapi orang-orang yang berada di situ melarangnya dan suara mobil polisi juga sudah terdengar menuji ke tempat kejadian perkara.


Warga segera minggir untuk memberi ruang bagi petugas dari kepolisian. Setelah diperiksa ternyata murni kecelakaan tunggal. Diduga korban sedang tidak fokus saat berkendara hingga terjatuh karena beberapa meter dari tempat kejadian ada sebuah batu dan ada kemungkinan motornya oleng karena menginjak batu tersebut membuatnya tidak seimbang hingga terjatuh.


Korban langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat karena ia belum sadarkan diri dan Eric mengikutinya dari belakang. Tiba di rumah sakit, perawat segera membawanya ke ruang pemeriksaan lalu membersihkan luka yang ada di bibir, tangan, dan kakinya. Perawat juga memasang infus karena korban belum siuman juga.


Eric diperbolehkan masuk karena ia mengaku sebagai keluarganya. Ia duduk di kursi sambil memandang wajah sahabatnya dengan perasaan iba.


Tak lama kemudian Susi membuka matanya secara perlahan dan melihat ke sekeliling ruangan yang bernuansa warna putih. Sekarang ia sadar dan ingat bahwa tadi ia sedang dalam perjalanan menuju ke kantor tapi semalam ia sangat sulit untuk memenjamkan mata membuat kepalanya pusing tapi ia nekat berangkat ke kantor namun di tengah jalan ia terjatuh lalu tak ingat lagi apa-apa karena pingsan.


Air matanya menetes ketika melihat siapa yang sedang menungguinya di kamar perawatan. Tak ada hubungan darah di antara mereka tapi ia selalu muncul di saat yang tepat.


"Syukurlah kamu sudah siuman," ucap Eric dengan senang.

__ADS_1


"Kenapa Kakak bisa ada di sini?" tanya Susi dengan suara serak.


"Tadi saat kamu jatuh, kebetulan saya lewat di tempat kejadian," sahut Eric.


"Terima kasih telah menolongku! Maafkan diriku yang selalu merepotkanmu!" ucap Susi sambil terisak.


Ia sangat sedih karena orang tuanya jauh sementara ia tidak punya siapa-siapa di kota ini yang bisa menjaganya dalam keadaan seperti sekarang ini.


"Sama-sama Dek dan saya tidak merasa direpotkan, kok," ujar Eric dengan tenang dan ucapannya membuat Susi terharu karena di tengah situasi sulit ternyata masih ada orang yang peduli kepadanya. Johan, kekasihnya yang selama ini ia bangga-banggakan sudah berubah hampir seratus delapan puluh derajat dan hal ini juga yang membuat Susi jadi stres.


Selama berada di rumah sakit, Eric membantu Susi dengan tulus dan ikhlas. Ia bolak-balik untuk mengambil sesuatu yang dibutuhkan oleh Susi. Eric meminta Erika untuk menemaninya di rumah sakit pada malam hari karena ia merasa tidak enak sebagai seorang laki-laki yang sudah beristri dan tidak punya hubungan darah lalu mau berduaan, apalagi di malam hari.


Hari ketiga dokter sudah diperbolehkan Susi untuk pulang ke rumahnya dan Eric pun mengantar dia menggunakan mobil ayahnya.


Rupanya Johan datang untuk menemui Susi karena panggilan dan chatnya tidak pernah di respon oleh Susi selama berada di rumah sakit.


Panas hati Eric mendengar Johan menyebutnya sebagai duda tapi ia berusaha menahan diri karena sudah tahu seperti apa karakter yang dimiliki oleh Johan.


"Cukup dan tolong jangan datang lagi untuk menemuiku karena saya sudah tahu kelakuanmu di belakangku!" bentak Susi dengan emosi. Suaranya gemetar menahan amarah.


Kemarin Eric menceritakan bahwa ia pernah bertemu Johan di Mall sedang bergandengan tangan dengan Dewi. Eric juga menunjukkan foto mereka yang ada di dalam ponselnya sebagai bukti.


"Jangan gitu dong Sayang, dua minggu lagi ke depan kita akan segera melangsungkan pernikahan,"


"Sudahlah, silahkan pergi dari tempat ini sebelum saya berteriak dan minta warga untuk bertindak! Ingat, pernikahan kita saya sudah batalkan dan kalau kamu mau menikah, menikahlah dengan Dewi, mantan kekasihmu itu!"

__ADS_1


Wajah Johan merah padam mendengar ucapan Susi yang tidak main-main. Ia baru ingat bahwa ketika ia jalan ke Mall beberapa hari yang lalu bersama Dewi, Eric juga ada di sana dan pasti dialah yang menyampaikan kepada Susi.


Johan masih ingin beradu mulut tapi kedatangan warga sekitar yang sudah mulai ramai membuat ia takut sehingga dengan wajah garang penuh kebencian ia meninggalkan tempat tersebut.


"Urusan kita belum selesai, tunggu pembalasanku!" serunya dengan suara keras sebelum tancap gas.


Susi menangis karena ia belum pulih pascakecelakaan, tiba di rumah langsung disambut dengan masalah baru dan disaksikan lagi oleh banyak orang. Rasa sedih dan malu sudah bercampur jadi satu membuat air matanya mengalir deras.


Eric meminta bantuan kepada warga untuk menemani dan menjaga Susi karena ia sangat mengkhawatirkan sahabatnya. Johan bisa saja nekat melakukan hal-hal yang membahayakan diri Susi.


Setelah dirasakan bahwa keadaan sudah aman, Eric pamit dan pergi ke gedung tempat karyawannya sedang bekerja. Dalam perjalanan ia terus memikirkan keamanan buat Susi hingga mendapatkan ide.


"Sepertinya ide kamu itu nggak tepat jika seorang perempuan yang masih single mau nginap di rumahmu. Bagaimana nanti tanggapan orang-orang, apalagi kamu juga sudah berencana untuk rujuk dengan istrimu. Yang ada, bisa-bisa istrimu curiga lagi bahwa di antara kamu dengan Susi ada hubungan khusus," kata pak Jasmin kepada Eric saat keduanya sedang duduk menikmati kopi.


"Iya juga yah, kenapa pikiran saya tidak sampai ke sana," ucap Eric.


Ia membenarkan ucapan pak Jasmin.


"Kalau niat kamu mau menolong sahabatmu itu, lebih baik carikan rumah kost yang baru dan aman!" kata pak Jasmin.


"Ide yang bagus, terima kasih atas bantuan pikirannya!" ujar Eric sambil tersenyum.


Pak Jasmin dan Eric sudah sering bertukar pikiran, mulai dari urusan bisnis hingga ke hal-hal pribadi. Banyak pengalaman hidup pak Jasmin yang menjadi inspirasi bagi Eric membuat ia suka dengan kepribadian orang tua tersebut yang juga selalu tampak tenang dan tidak pernah mengeluh. Sangat beruntung memiliki teman yang bisa dijadikan sebagai tempat mengaduh dan kadang pula menjadi orang tua yang selalu memberi nasihat-nasihat yang sangat berguna.


Menjelang sore, Eric pamit karena ayahnya sudah menelepon mau menggunakan mobil ke kondangan.

__ADS_1


__ADS_2