
Susi diam seribu bahasa sejak dari perjalanan hingga tiba di kostnya. Dadanya sesak mengingat peristiwa yang baru saja ia saksikan. Seorang wanita yang juga sedang hamil meminta tanggung jawab kepada Johan dan tidak mungkin Johan akan menikahi dua wanita sekaligus.
"Maafkan saya, Susi!" ucap Johan pelan. Ia merasa sangat bersalah.
"Katakanlah sekarang, apa kamu mau menikahi dia atau menikahi saya!" tanya Susi dengan suara parau. Matanya sudah hangat oleh air mata.
"Ya, tentunya memilih kamu, dong!"
"Tapi bagaimana dengan Dewi, mantan kekasihmu? Ia juga sedang hamil dan membutuhkan dirimu,"
"Akan kubuktikan bahwa anak yang dikandungnya bukanlah anak saya,"
Susi masih terisak karena hatinya begitu pedih. Baru saja ia merasa lega setelah bertemu dengan Johan kini persoalan yang baru muncul lagi.
"Sekarang istirahatlah dan saya janji besok kita akan berangkat karena saat ini juga saya akan menemui Dewi untuk menyelesaikan persoalan di antara kami," ujar Johan.
Ia pun pergi dengan tergesa menuju ke rumah rumah Dewi. Secara kebetulan Dewi juga baru saja tiba di rumahnya bahkan ia belum sempat mandi usai bepergian ketika Johan muncul.
Dewi senang melihat kedatangan Johan karena pikirnya pasti ia akan datang minta maaf dan segera merencanakan pernikahan dengan dirinya.
"Aku tahu kalau sikapmu tadi hanya pura-pura agar kekasihmu nggak marah, iya 'kan?" kata Dewi dengan senyum sumringah.
Johan sangat muak mendengar ucapan Dewi dan tanpa sepata kata ia menarik paksa pergelangan tangan wanita itu dan membawanya ke dokter kandungan yang tempat prakteknya tidak jauh dari situ.
"Santai dong, aku akan nurut kok, yang penting kita akan segera nikah!" kata Dewi sambil meringis kesakitan karena genggaman tangan Johan yang kuat pada pergelangan tangannya.
__ADS_1
Johan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi tanpa menghiraukan teriakan Dewi yang ketakutan dan hanya lima menit saja mereka sudah sampai di tujuan.
Dokter Boy sudah menunggu di luar karena tadi Johan sudah menghubinginya sebelum berangkat di rumah. Johan kenal baik dengan dokter Boy karena mereka dulu satu sekolah di SMA bahkan waktu kuliah pun keduanya masih sempat bersama sebelum Boy pindah jurusan atas permintaan seorang pamannya yang terkenal sebagai sultan. Pamannya ingin agar Boy menjadi seorang dokter dan kini keinginan pamannya sudah terwujud.
"Selamat sore kawan! Apa kabar?" sapa dokter Boy dengan ramah.
"Selamat sore juga, maaf mengganggu!" sahut Johan dengan wajah memerah karena gugup. Ia juga malu dengan penampilannya yang biasa saja dan saat ini bertemu dengan teman lama yang berpenampilan waow.
"Ayo, ajak istrinya masuk!" ujar dokter Boy.
Hati Dewi melambung tinggi mendengar ucapan dokter Boy. Kini ia semakin yakin bahwa Johan akan menikahinya karena terbukti ia mengakui dirinya sebagai istri.
"Wahh, istrimu sangat cantik!" puji dokter Boy dengan jujur apalagi ia melihat senyum manis yang menghiasi wajah cantik Dewi.
"Hhmm," Johan hanya berdehem.
"Janinnya bertumbuh normal dan letaknya juga bagus," kata dokter.
"Terima kasih, Dok!" ucap Dewi.
"Perkiraan untuk melahirkan jatuh pada tanggal dua Desember tahun ini karena usia kandunganmu sudah lima bulan," dokter menjelaskan dengan tenang.
"Tuh, 'kan, apa saya bilang, janin yang ada dalam perutmu itu bukan anakku karena seingatku kita saling kenal baru tiga bulan, sementara usia kandunganmu sudah lima bulan, jadi tolong jangan ngarang cerita karena saya bisa tuntut kamu dengan pencemaran nama baik!" ancam Johan dengan geram.
Wajah Dewi merah padam karena kebohongannya kembali terungkap untuk kesekian kalinya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi sebab fakta sudah membuktikan.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya dokter Boy. Ia jadi bingung lalu memandang wajah Johan dan Dewi secara bergantian untuk meminta penjelasan.
"Ceritanya panjang, Dok," kata Johan lesu.
Sementara itu Dewi bangkit dan merapikan pakaiannya lalu keluar dengan tergesa tanpa pamit. Dokter Boy mengerutkan keningnya melihat Johan yang tak bergeming dari tempatnya karena sangkahnya ia akan memburu wanita itu tapi nyatanya tidaklah demikian.
Dokter Boy mengintip Dewi dari balik jendela dan rupanya ia pulang menggunakan grab.
Johan lalu menceritakan semuanya kepada Boy, apa yang telah dialaminya dan juga rencana pernikahannya. Ia mengaku bahwa masalah dan rintangan yang dialami adalah ganjaran buat dirinya yang sudah menyakiti Susi, calon istrinya.
"Calon pengantin nggak boleh sedih, harus semangat dong!" kata Boy sambil menepuk-nepuk pundak Johan.
"Terima kasih, suportnya!" ucap Johan.
Ia lalu pamit karena mengingat masih banyak yang mau dibenahi sehubungan dengan rencananya untuk berangkat besok ke kota Baru, tempat kediaman calon mertuanya.
"Ini, terimalah, ala kadarnya, berhubung saya tidak bisa hadir di pesta pernikahanmu karena tugas!" kata Boy sambil menyerahkan amplop yang berisi sejumlah uang kepada Johan.
"Aduh nggak usah, pestanya nanti akan dibuat sesederhana mungkin kok, kenapa repot-repot segala," ujar Johan.
Ia menolak pemberian Boy tapi kawannya itu memaksa hingga akhirnya ia mengalah.
"Kalau sudah pulang dari kota Baru, jangan lupa rajin ke sini periksa kandungan istrimu!"
"Siap, Pak Dokter!"
__ADS_1
Keduanya pun tertawa karena merasa lucu dengan gaya Johan.