
Pagi ini Anna ke pasar untuk membeli ikan dan sayuran. Sengaja ia belanja di pasar karena ikan yang dijual di sana masih segar-segar, beda dengan ikan yang dijual oleh pedagang keliling yang sering lewat di depan rumah.
Ia ke pasar bersama anaknya karena malas untuk menitip di rumah tetangga. Tiba di pasar ia langsung ke tempat tujuannya dan membeli semua yang ada dalam catatan kecilnya. Anna sudah punya kebiasaan mencatat kebutuhan yang akan dibeli di pasar sehingga tidak menyita waktu yang banyak.
Pernah ada pengalaman yang sangat berharga, lupa mencatat, sehingga putar-putar saja di pasar dan memakan waktu yang banyak. Tiba di rumah ternyata banyak kebutuhan mendesak yang terlupakan. Sejak saat itu Anna selalu mencatat apa-apa saja yang akan dibeli sebelum berangkat ke pasar.
Setelah semua belanjaannya terkumpul ia bergegas untuk pulang namun sekilas dari arah yang berlawanan dengannya ia melihat ibu mertuanya sedang jalan dengan Dewi. Tampak keduanya sangat akrab, bagaikan ibu dan anak.
Anna menggendong Felyn dengan susah payah dan menyusup ke kerumunan orang banyak untuk menghindar jangan sampai bertemu dengan mereka. Ia merasa beruntung karena Felyn tenang dalam gendongannya setelah diberi gula-gula.
"Bagaimana dengan Eric, apa kamu sudah bisa mendekatinya?" tanya ibu Elma.
Anna kaget mendengar pertanyaan mertuanya. Ia pun menitipkan barang belanjaan di salah satu kenalan yang juga berjualan di situ lalu mengikuti ibu mertua dan Dewi dari belakang sambil berpura-pura mencari sesuatu untuk dibeli.
"Sudah banyak perkembangan Tante, tapi sepertinya Eric masih ragu karena takut kepada istrinya," sahut Dewi pelan tapi perkataannya itu terdengar jelas di telinga Anna.
"Jangan putus asa, lama-lama juga Eric akan bosan dengan istrinya apabila selalu melihatmu tampil menarik. Kamu itu sangat cantik dibanding dengan Anna yang kampungan itu!" ujar ibu Elma membuat Anna emosi tapi ia berusaha menahan diri karena sadar bahwa mereka sedang berada di tempat umum.
"Aku yakin , suatu saat Eric akan bertekuk lutut di hadapanku karena kurasa dia masih punya perasaan kepadaku,"
"Dari dulu Tante mau kalau kamu yang nikah sama Eric tapi kamunya malah menghilang entah ke mana,"
"Aku melanjutkan kuliahku di Singapura dan baru aja selesai,"
"Waduhhh, udah cantik, berpendidikan lagi. Laki-laki mana sih yang tidak akan tergila-gila padamu?"
Ibu Elma percaya dengan omong kosong yang diucapkan oleh Dewi karena ia tidak pernah tahu bahwa Dewi sudah menikah.
Ketika Eric memperkenalkan Anna sebagai calon istrinya dulu kepada mereka, ia sempat menanyakan soal Dewi karena setahunya Dewi sudah sangat lengket dengan anaknya karena sering dibawa ke rumah tapi waktu itu Eric menyampaikan bahwa Dewi telah pergi entah ke mana. Eric tidak berterus terang bahwa hubungan mereka sudah berakhir karena Dewi telah terpikat dengan laki-laki lain.
Ibu Elma tidak suka jika Eric menikah dengan Anna karena melihat penampilan perempuan itu yang sangat sederhana tapi ia juga tidak bisa mencegah keinginan Eric waktu itu karena tekadnya sudah bulat untuk menikahi Anna.
Dewi tersenyum senang karena ibu Elma mengagumi dan memujinya.
Dua bulan yang lalu ibu Elma dan Dewi bertemu di salah satu supermarket yang ada di kota tersebut. Dewi yang berpenampilan seperti seorang sultan dan berbelanja yang banyak bahkan ia membayar belanjaan ibu Elma membuat ibu Elma sangat terkesan. Sejak saat itu Dewi sering mampir ke rumahnya dan timbullah niat dalam hati Dewi untuk kembali kepada cinta pertamanya namun sayang Eric sudah punya pasangan. Tetapi setelah bercengkrama dengan ibu Elma, Dewi merasa punya kesempatan karena ada lampu hijau dari ibu Elma.
Saat itu ibu Elma memberikan nomor ponsel Eric dan menunjukkan alamat rumahnya kepada Dewi.
"Udah pernah ketemu sama Eric?" tanya ibu Elma lagi.
"Udah Tante, lagian sekarang kami tetanggaan," sahut Dewi sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tetanggaan? Yang benar kamu!" tanya ibu Elma dengan mata membulat karena kurang percaya.
Dewi mengangguk.
"Kamu memang cerdas, pasti Eric sangat senang karena cinta pertamanya sudah kembali!" ujar ibu Elma dengan senyum-senyum.
"Yuk, Tante kita ke toko tas!" ajak Dewi.
Keduanya pun berlalu. Anna yang berada tidak jauh dari tempat mereka bercakap tadi hanya bisa melongo. Ia tidak percaya dengan kenyataan yang dilihat dan didengarnya saat ini. Dadanya bergemuruh hebat dan kakinya gemetar. Ia tak kuat untuk melangkah apalagi Felyn berada dalam gendongannya. Ia minta izin kepada pemilik toko agar diberi tumpangan agar bisa duduk sejenak di emper toko untuk memulihkan tenaga dan pikirannya.
Setelah hampir dua puluh menit duduk di situ, Felyn merengek untuk pulang karena anak itu juga merasa gerah. Anna berdiri lalu perlahan-lahan meninggalkan pasar menuju ke rumahnya dengan naik ojek.
(Mas, nggak usah pulang ke rumah soalnya saya belum masak, makan di luar aja!)
Anna mengirim pesan kepada suaminya. Saat ini ia belum memasak karena tubuhnya remuk seolah tak punya tenaga untuk bergelut dengan pekerjaan di dapur.
(Ada apa Sayang, apa kamu sedang sakit sehingga tidak kuat untuk memasak?) Balasan dari Eric.
Annn enggan merespon lagi chat dari suaminya membuat Eric bertanya-tanya. "Jangan-jangan Anna tahu bahwa semalam saya samperin Dewi ke rumah kontrakannya. Apa yang harus kulakukan?" pikirnya.
"Tiiittt... tiittt... titttt...!" ponsel Eric berdering. Ia segera meraih karena pikirnya Anna-lah yang menghubunginya tapi setelah melihat layar ponselnya, ternyata ibunya yang menelepon.
"Iya Bu, ada apa?" sapanya dengan hormat.
"Iya Bu,"
"Coba kamu tebak, Ibu lagi di mana?"
"Mana saya tahu, Bu,"
"Ibu lagi di rumah tetanggamu,"
Suara tawa bahagia terdengar dari seberang sana. Eric tidak mengerti apa maksud ibunya datang ke rumah Dewi.
"Oke Bu, nanti saya hubungi soalnya lagi kerja,"
Eric langsung mematikan ponselnya secara sepihak. Pikirannya kacau. "Jangan-jangan ibu datang ke rumah dan bikin masalah lagi dengan Anna karena dari dulu ia sangat tidak menyukai anak mantunya. Mungkin inilah alasan mengapa Anna menyuruhnya untuk makan siang di luar." batinnya dalam hati.
Setelah lonceng berbunyi tanda istirahat siang, Eric tetap pulang ke rumah karena ia khawatir dengan keadaan istrinya.
Anna kaget ketika mendengar deru motor milik suaminya. Ia berdiri dari duduknya lalu membuka pintu.
__ADS_1
"Hai Nak, Ibu ada di sini!" teriak ibu Elma dengan keras dari rumah Dewi.
Anna termangu mendengar suara mertuanya. Rupanya habis dari pasar, mertuanya singgah di rumah tetangga. Miris, lebih memilih singgah di tetangga dibanding singgah di rumah anak sendiri.
Anna menatap suaminya yang sedang terlihat bingung. Satu sisi ia harus menghormati ibunya dan satu sisi ada istrinya yang sedang ia khawatirkan keadaannya.
"Ehh, ada Ibu, kemarilah!" ucap Eric sambil melambaikan tangannya kepada ibunya.
Ibu Elma menghampiri Eric yang masih menunggu di luar.
"Ada perlu apa Ibu datang di rumah sebelah?" tanya Eric dengan heran.
"Ibu tadi datang ke rumahmu soalnya rindu sekali mau ketemu cucu, udah lama di luar panggil-panggil istri dan anakmu tapi nggak ada respon, ehhh... beruntung ada tetangga kamu yang berbaik hati dan menjamu ibu di rumahnya. Ibu nggak pernah nyangkah kalau Dewi yang tinggal di sebelah," ujar ibu Elma dengan akting yang sempurna. Ia tidak menyadari bahwa ada telinga sang menantu yang sedang mendengarnya di balik pintu.
Hati Anna sakit bagai teriris-iris mendengar ucapan ibu mertuanya. Ia tahu bahwa suaminya pasti percaya kepada ibunya.
Dugaannya benar. Wajah Eric seketika berubah. Ia merasa geram kepada istrinya.
Dengan tergesa ia masuk ke rumah dan tubuhnya hampir saja menabrak tubuh Anna di dekat pintu.
"Jadi ini alasan kamu sehingga tidak memasak! Kamu nyuruh Mas makan di luar karena takut jika Mas tahu bahwa Ibu datang ke rumah tapi kamu nggak buka pintu untuknya!"
"Sumpah Mas, saya nggak pernah dengar suara Ibu yang memanggil-manggil di luar!"
"Ahhh, sudahlah, jangan banyak alasan!"
Ibu Elma yang masih berada di teras tersenyum mendengar anak dan mantunya bertengkar.
"Ayo Bu, kita cari makan di luar!"
"Terima kasih Nak, ibu sudah dijamu oleh Dewi yang baik hati!"
"Kalau begitu, mari saya antar pulang!"
"Nggak usah Nak, Dewi sudah berjanji akan mengantar ibu pulang karena kebetulan ia punya urusan, katanya mau ngantar paket jadi sekalian aja Ibu nebeng di mobilnya,"
"Yah udah Bu, saya mau balik ke kantor dulu!"
"Hati-hati, Nak!"
Setelah Eric pergi, ibu Elma kembali ke rumah Dewi sambil tersenyum lebar. Ia sangat puas dengan kejadian barusan. Dewi yang mendengar cerita ibu Elma ikut tertawa senang.
__ADS_1
Kini peluang sudah semakin terbuka lebar bagi Dewi untuk memiliki Eric dan mengembalikan kedalam pelukannya.