
Sejak Anna mendengar cerita dari Susi ia kembali merenungkan perjalanan hidupnya mulai dari hadirnya Dewi sebagai tetangga hingga hasutan demi hasutan yang berasal dari ibu mertuanya hingga membuatnya jatuh sakit bahkan hampir-hampir depresi.
Ia sangat bersyukur karena punya kedua orang tua yang sangat baik dan selalu mendukungnya hingga bisa bangkit dari keterpurukan.
"Ma, saya nggak mau pergi ke sekolah lagi," kata Felyn yang datang ke toko menghampiri ibunya.
"Emangnya kenapa, Nak?" tanya Anna dengan heran.
Felyn menundukkan kepala membuat ibunya semakin bingung. Biasanya Felyn selalu riang dan bersemangat menceritakan pengalaman yang dialami di sekolah ketika tiba di rumah tapi kali ini sangat berbanding terbalik. Felyn pulang dari sekolah dengan wajah murung tak bergairah.
Kini ia mulai menangis sesenggukan. Anna segera mendekati dan memeluknya dengan erat. Tangisnya pun pecah membuat Anna ikut meneteskan air mata.
"Ada apa, Nak? Cerita sama Mama dong!"
Felyn tidak menjawab karena masih menangis hingga beberapa saat.
"Ibu guru tadi bilang bahwa minggu depan akan diadakan acara perpisahan di sekolah dan kedua orang tua murid harus hadir," sahut Felyn dengan linangan air mata.
"Lalu kenapa kamu harus menangis, Sayang? Ada Mama dan Opa yang akan hadir, kok!"
"Tapi kata ibu guru, yang hadir adalah orang tua, bukan opa atau oma,"
"Nanti Mama akan hubnungi ibu guru dan menyampaikan bahwa papa kamu nggak bisa hadir karena lagi sibuk!"
Anna terus menghibur anaknya dan berusah tersenyum walau dalam hati ia tahu arah pemikiran Felyn yang sebenarnya. Felyn merindukan sosok seorang ayah untuk bisa ia banggakan kepada teman-temannya yang sering memandangnya dengan sebelah mata karena setiap hari hanya selalu diantar oleh opanya ke sekolah sedangkan beberapa di antara temannya selalu diantar-jemput oleh ayah mereka.
"Bisa nggak, Mama hubungin papa... sehari aja tinggalin pekerjaannya?" tanya Felyn penuh harap.
Hati Anna terenyuh mendengar permintaan anaknya. Ia bingung mau memberi jawaban.
"Kamu yang sabar Nak, Mama akan usahakan!" jawab Anna pada akhirnya setelah beberapa saat termenung.
"Iya Ma,"
Felyn pamit kepada ibunya untuk balik ke rumah. Hatinya sedikit lega setelah mendengar perkataan sang ibu.
"Halo Felyn!" sapa Yura dengan riang menghentikan langkahnya seketika.
"Tuh, Kak Yura udah pulang!" seru Anna. Ia berharap anaknya akan bersemangat karena sudah punya teman.
__ADS_1
"Kita main, Yuk!" ajak Yura. Ia peka dengan sikap Felyn kurang bersemangat. Ditambah lagi dengan kedipan mata dari majikannya sebagai kode atau syarat agar menghibur Felyn yang sedang galau.
Felyn membalikkan tubuh mungilnya dan melangkah dengan lesu meninggalkan mamanya dan Yura yang kebingungan. Keduanya saling tatap setelah Felyn menghilang dari pandangannya.
Anna pun memberitahukan alasan kenapa anaknya bersikap seperti itu.
"Kamu ke rumah aja temanin Felyn main, biar saya yang jaga toko!" pinta Anna.
"Baiklah," sahut Yura sambil tersenyum.
Yura mengikuti Felyn ke rumah. Tiba di rumah ia mencari ke sana ke mari tapi tidak menemukan.
Ia mendekati kamar dan dari dalam terdengar suara tangis yang tertahan. Perlahan ia meraih gagang pintu dan pintu pun terbuka.
Tubuh mungil itu terguncang-guncang di atas tempat tidur. Hati Yura jadi iba melihat gadis kecil itu yang sedang merindukan sosok sang ayah
Perlahan ia mengusap kepala Felyn dengan lembut dan anak itu pun bangkit lalu menangis di pelukan Yura.
"Udah Sayang, kamu mau ketemu sama papa 'kan?"
Felyn segera menyeka air matanya lalu menatap lekat wajah Yura dengan mata membulat.
Muncul dalam pikiran Yura untuk membantu Felyn agar bisa bertemu dengan ayahnya.
"Siapa nama papa kamu?"
"Eric,"
Yura menutup pintu kamar terlebih dahulu sebelum mengetik nama tersebut di layar ponselnya untuk melakukan pencarian.
Ada banyak nama dan foto atas nama Eric yang muncul. Felyn ikut mengamati satu per satu hingga menemukan foto ayah dan ibu beserta dirinya.
"Yang ini, Kak," seru Felyn dengan senang.
Yura pun segera mengirim permintaan pertemanan kepada Eric dan sambil menunggu konfirmasinya ia mengajak Felyn untuk bermain.
Wajah Felyn kini sudah berubah. Ia tidak murung lagi seperti tadi. Setelah puas bermain, Felyn mengantuk dan tak lama kemudian ia tertidur.
Kesempatan tersebut dipergunakan oleh Yura untuk memeriksa ponselnya. Rupanya Eric sudah mengonfirmasi permintaan pertemanannya.
__ADS_1
Eric juga langsung merespon permintaan pertemanan dari Yura karena foto profil yang dipajang tak asing lagi baginya. Ia masih meningatnya karena sudah dua kali bertemu.
Yura mulai mengetik di aplikasi Massenger dan memperkenalkan dirinya sebagai pengasuh Felyn.
Setelah berkenalan Yura menceritakan tentang kehidupan Felyn dan tak lupa ia menyampaikan pula bahwa di sekolahnya akan diadakan acara penamatan sekaligus acara perpisahan dan Felyn sangat menginginkan kehadiran ayahnya.
(Apakah ibunya Felyn tahu kalau kamu menghubungiku?) Pesan dari Eric.
(Nggak, saya nekat ingin tahu dan mencari akun Om karena saya kasihan melihat Felyn, hari ini pulang dari sekolah ia menangis di kamar) balas Yura.
Eric membalas pesan dari Yura dengan stiker menangis.
(Nanti saya akan cari waktu dan tempat yang aman agar Om bisa ngomong langsung dengan Felyn melalui video call soalnya nggak bisa kalau sekarang karena ia sedang tidur, mungkin karena sudah lelah menangis) Pesan dari Yura.
(Terima kasih sebelumnya. Tolong simpan ini nomorku!)
Eric mengirim nomor ponselnya kepada Yura dan dengan lincah ia menyimpan nomor tersebut karena mendengar derap langkah yang semakin mendekat.
"Tok, tok, tok!" suara ketukan di pintu kamar terdengar.
Yura segera membuka dan tampak Anna berdiri di pintu dengan wajah cemas karena tidak mendengar suara putrinya yang biasanya sangat heboh ketika bermain bersama Yura.
"Dia masih tidur, tadi saya dapati sedang sesenggukan dan mungkin karena sudah capek nangis sehingga ia tertidur," kata Yura mengawali percakapannya karena melihat kekhawatiran pada wajah majikannya.
"Apa dia ngomong sesuatu kepadamu?" tanya Anna dengan wajah cemas.
"Sepertinya ia sangat merindukan ayahnya. Mungkin ayahnya juga sedang merindukannya saat ini," sahut Yura apa adanya.
Anna termenung karena sesungguhnya akhir-akhir ini hatinya selalu bergetar setiap kali mengingat Eric bahkan di saat sedang sendirian ia selalu membuka akun milik mantan suaminya itu pada aplikasi Facebook karena ia begitu merindukannya setelah tahu bahwa Eric tidak pernah menikah dengan Dewi, mantan kekasihnya itu.
"Apakah tidak ada kemungkinan jika Kakak menghubungi ayahnya Felyn agar ia datang menghadiri acara perpisahan tersebut? Maaf kalau saya ikut campur, tidak ada maksud lain tapi semata-mata karena rasa simpatiku kepada Felyn yang sudah saya anggap sebagai adikku sendiri!" ucap Yura dengan serius.
"Sepertinya saya merasa malu karena ternyata selama ini suamiku tidak melakukan apa yang ada di pikiranku. Saya ragu, apakah dia masih mau memaafkanku," ucap Anna dengan ragu.
"Kalau soal itu nggak usah dipikirin dulu yang penting ia mau datang menghadiri acara perpisahan Felyn !" kata Yura.
"Nanti saya akan coba, terima kasih atas masukannya!"
"Sama-sama."
__ADS_1