
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh oleh keluarga besar Pak Hendrik. Mereka akan bertamasya ke salah satu tempat wisata yang lokasinya berada di luar kota. Tempat rekreasi itu berupa air terjun tiga tingkat dan sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang akan memanjankan para pengunjung.
Dari kemarin mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya karena rencananya akan menginap di sana selama satu malam.
Para karyawan juga tampak sibuk. Mereka diperbolehkan membawa anggota keluarga masing-masing bagi yang sudah berumah tangga dan bagi yang belum berkeluarga boleh menemani orang tua atau saudara. Semua biaya akan ditanggung oleh Pak Hendrik.
"Gimana Tante, mau nggak ikut kami pergi rekreasi?" tanya Lisa, salah seorang karyawan Pak Hendrik.
Lisa adalah ponakan Dewi, anak dari saudara Ibu Zena. Ia sudah enam bulan bekerja di rumah makan milik pak Hendrik tapi belum menikah sehingga ia mengajak Dewi, tantenya untuk ikut, mumpung ada tawaran yang gratis.
"Maaf, Tante nggak bisa ikut soalnya nggak ada yang jaga toko!" sahut Anna memberi alasan. Sebenarnya itu hanyalah alasan karena tokonya bisa saja dijaga oleh ayah dan ibunya tapi mengingat siapa-siapa personil yang akan pergi, ia mengurungkan niatnya demi menghindari sesuatu hal buruk yang bisa saja terjadi mengingat masa lalunya. Terlalu banyak hati yang terluka akibat ulahnya. Seandainya semua bisa punya sikap seperti Susi yang mau memaafkan dirinya, tentunya ia akan pergi dengan senang hati.
Akhirnya Lisa berangkat sendiri. Ia naik ojek ke rumah makan karena di sana teman-teman yang lain sudah menunggu.
Tak lupa juga Anna juga mengajak Susi beserta keluarga kecilnya.
Sebelum berangkat, mereka semua berkumpul di depan rumah makan. Di situ sudah berjejer beberapa mobil rental yang sudah disiapkan oleh Pak Hendrik.
Semua karyawan ikut sehingga untuk sementara rumah makan ditutup dulu.
Setelah semuanya sudah berkumpul, mereka lalu berangkat secara beriringan. Johan dan keluarganya naik di mobil Eric sedangkan mobil Pak Hendrik disetir oleh Angga.
Kemarin Ibu Elma menyarankan agar Angga dan Erika tidak usah ikut karena masih selalu mual-mual tapi keduanya juga tidak mau ketinggalan.
Pak Darman juga membawa mobil sendiri dan ia ditugaskan untuk mengangkut bahan makanan. Ia ditemani oleh istri dan anaknya di mobil tersebut. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka karena apa yang diimpikan selama ini untuk pergi berekreasi kini sudah terwujud.
Untuk sampai ke tempat wisata yang akan dituju, butuh waktu empat sampai lima jam perjalanan namun bagi mereka tidak menjadi persoalkan karena waktunya sekarang untuk bersenang-senang.
__ADS_1
Seminggu sebelumnya, Pak Hendrik dan Ibu Elma sudah menghubungi petugas yang menjaga tempat wisata tersebut sehingga mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk penginapan yang cukup untuk menampung rombongan dalam jumlah banyak.
Siang hari mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area wisata. Rasa lelah selama menempuh perjalanan yang lumayan jauh hilang seketika melihat panorama alam yang sungguh menakjubkan.
"Waoohhhh, luar biasa!" ujar Ibu Elma. Ia membuka kaca mobil dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Tiba di parkiran, semua turun satu per satu dan di situ sudah ada petugas yang mengarahkan dan menunjukkan penginapan bagi mereka.
Udara segar mengelus wajah yang lelah membawa kesegaran dan ketenangan. Mereka mengagumi ciptaan Tuhan yang sungguh luar biasa. Air yang jernih sangat menyejukkan dan serasa ingin langsung berendam tapi di situ sudah ada beberapa poin peraturan yang tidak boleh dilanggar demi keselamatan para pengunjung.
"Mama, mama, Felyn mau mandi!" seru Felyn dengan riang.
"Sebentar Sayang, coba anak Mama baca dulu aturan yang ada di situ!" ujar Anna sambil menunjuk sebuah papan yang bertuliskan peraturan yang harus ditaati.
"Oh, iya, ya, Felyn nggak liat," ucap Felyn sambil tersenyum.
Ibu Elma heran melihat Erika yang begitu bersemangat, tidak seperti kemarin-kemarin, selalu loyo dan pucat. Angga juga sangat senang melihat istrinya yang penuh semangat bahkan ia gabung dengan para karyawan yang lain sambil bersenda gurau. "Mungkin masa ngidamnya udah lewat," gumam Angga sambil tersenyum tipis.
"Tutt, tutt, tutt... !" ponsel Anna berdering.
"Halo!" sapa Anna dengan riang melihat wajah yang muncul pada layar ponsel. Senyum khas ibunya membuat hati damai.
"Kami lagi di sini, Bu," kata Anna sambil mengarahkan layar ponselnya ke air terjun.
"Waduhhh, cantik bangat! Kok, nggak ajak-ajak kita?"
"Nanti kita rencanakan lagi Bu, soalnya untuk kali ini kami juga mengikut sama ayah dan ibu mertua.
__ADS_1
Tak lama kemudian Pak Nico juga muncul di layar ponsel. Mereka pun bercakap-cakap secara bergantian, tak ketinggalan Felyn dan Krisna juga ikut ngomong sama oma dan opanya setelah giliran ayah dan ibunya.
Tujuan Ibu Nadia menelepon hanya untuk mengabarkan bahwa Andi sekeluarga akan datang berlibur pada bulan depan dan berharap Anna sekeluarga juga meluangkan waktunya agar bisa berkumpul karena rencananya mereka akan mengadakan acara syukuran atas segala berkat Tuhan yang selalu melimpah dalam kehidupan mereka.
"Mandi, yuk!" ajak Susi yang datang menghampiri Anna setelah istirahat sejenak.
"Oke, saya udah lama nggak pernah lagi berenang, moga aja masih bisa," ujar Anna.
Ia pun menitipkan Krisna kepada suaminya untuk dijaga seperti yang dilakukan oleh Susi. Kini Johan juga sedang menjaga Kenzo.
Keduanya lalu berbaur bersama karyawan yang lain yang sudah lebih dulu berndam di air yang segar.
Felyn dan Vasya serta anak-anak dari para karyawan yang sebaya dengannya juga sudah berendam di air yang dingin dan menyegarkan.
Tidak lama kemudian keduanya dikagetkan dengan hadirnya Eric dan Johan yang tiba-tiba melompat ke arahnya secara bersamaan.
Mereka pun berenang bersama sambil bercanda dan bermain, saling sembur air ke sana ke mari tak bisa dihindari lagi. Beberapa pasang mata karyawan merasa iri melihat kebahagiaan mereka.
Eric dan Johan sudah tidak tahan dan ingin juga berendam sehingga keduanya juga punya akal yang jitu. Mereka menitipkan Krisna dan Kenzo pada Ibu mertua dan Ibu Lastri yang sedang duduk bersantai.
Mungkin karena merasa sudah jadi oma sehingga mereka tidak doyan lagi unguk berendam seperti mama-mama muda. Namun keduanya juga tidak ketinggalan untuk mengambil gambar bahkan video dan membagikan di grup keluarga dan juga membagikan di sosmed melalui akun masing-masing.
Ucapan 'selamat menikmati kebahagiaan' datang dari berbagai penjuru setelah melihat postingan yang diunggah oleh Ibu Elma dan Ibu Lastri.
Dewi pun ikut merasa bahagia melihat kebahagiaan mereka namun ia menahan diri untuk memberikan komentar. Cukuplah ia menyadari dan tahu bahwa tidak ada yang lebih berharga dalam kehidupan ini selain Tuhan yang sudah menganugerahkan hidup dan yang kedua adalah keluarga.
Momen kebersamaan mereka juga diabadikan oleh para karyawan yang merasa sangat bersyukur bisa diajak untuk menikmati keindahan alam bersama dengan keluarganya dan tak lupa mereka mendoakan kepada Tuhan agar keluarga Pak Hendrik senantiasa diberi kesehatan dan rezeki yang melimpah.
__ADS_1