MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
71. Tidak Sengaja Menunda


__ADS_3

Eric dan Anna merasa lega setelah kembali ke rumah usai membenahi ruangan atas di toko. Ada rasa lelah tergambar di wajah tapi semangat dalam hati tetap berkobar. Eric berbaring di samping istrinya yang sedang memandangi foto-foto kegiatan tadi siang yang ada di layar ponselnya. Tadi ia meminta bantuan kepada salah seorang istri karyawan yang tidak punya anak kecil untuk mengambil gambar dan video saat acara berlangsung.


Eric mendekatkan wajahnya untuk ikut melihat foto-foto tersebut.


"Kamu sangat cantik, Sayang!" puji Eric sambil melingkarkan tangan di atas dada istrinya. Ia sengaja menggesek-gesekkan tangannya pada dua benda yang menonjol seperti dua bukit yang kembar.


Sesekali Anna memenjamkan mata menikmati gesekan tersebut lalu kembali menatap layar ponselnya.


"Mas nggak capek, yah?" tanya Anna sambil menatap manik mata suaminya yang membalas tatapannya dengan mesra.


"Belum kerja kok, dibilangin capek," sahut Eric sambil terkekeh.


"Maksudku, tadi 'kan kita sibuk bangat jadi saat ini butuh istirahat," kata Anna.


"Nggak kok, Mas nggak pernah merasa capek, lihatlah semangat Mas masih membara!" Eric mengencangkan otot pada lengannya membuat Anna tertawa.


Perlahan Eric merih ponsel yang masih menyala dari tangan istrinya dan mematikan lalu meletakkan di meja.


"Ihh, Mas... kita lagi asyik liat foto...,"


"Yang ini lebih asyik, Sayang,"


Eric mendaratkan ciuman pada bibir yang merah itu dan mengulum dengan lembut sementara tangannya membuka kancing piyama yang dikenakan oleh istrinya. Tangannya pun mulai meraba-raba benda kenyal yang masih tersembunyi di balik bra renda berwarna putih tulang.


Keduanya saling memberi rangsangan pada bagian tubuh yang sensitif sehingga menimbulkan suara *******.


Eric menghentikan kegiatannya dan turun dari pembaringan untuk memutar musik kesukaannya lalu kembali melanjutkan aktifitas malam itu.

__ADS_1


"Saya ingin punya anak lagi, Sayang!"


Anna tersenyum manis mendengar ucapan suaminya lalu mengangguk. Eric semakin bergairah melihat anggukan istrinya.


Malam itu menjadi malam yang panjang dan indah buat mereka. Ada sebuah kebahagiaan yang terpancar dari wajah usai menunaikan hak dan kewajiban selaku suami-istri. Senyum menghiasi bibir hingga terlelap dalam buaian mimpi.


Malam itu juga mereka tidur dengan tenang setelah urusan untuk mencari keberadaan Johan sudah kelar karena menurut Johan, mereka akan segera menemui orang tua Susi dalam minggu ini juga.


Anna juga mendapat informasi dari Susi bahwa ia sudah menjelaskan kepada Johan tentang kehamilannya dan justru hal itu membuat Johan tak sabar lagi jika harus menunda pernikahan itu. Persoalannya kini tinggal masalah dana yang akan digunakan nantinya pada acara resepsi.


Keesokan harinya Eric bangun dengan semangat, ia bersiul-siul menuju ke dapur untuk menyapa sang istri yang sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Selamat pagi, Sayang!" sapanya sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Anna yang sedang mengaduk nasi goreng di atas wajan.


Erik mendaratkan lagi ciumannya pada leher istrinya membuat Anna merasa geli.


"Siapa juga yang nakal,"


Keduanya pun tertawa.


Setelah semuanya beres, Anna memanggil Felyn untuk ikut sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Eric juga berencana mengajak istrinya ke toko untuk memeriksa bahan-bahan yang kurang karena minggu depan pak Lion akan datang mengecek lemari yang dipesannya beberapa waktu yang lalu.


Terlebih dahulu Eric mengantar anaknya ke sekolah yang biasanya juga sudah sering kali jalan kaki bersama Vasya jika ayahnya sedang sibuk.


"Gimana sebentar siang, mau dijemput atau mau pulang sendiri?" tanya Eric kepada anaknya saat tiba di sekolah.


"Felyn mau jalan aja kaki ama Vasya," sahut Felyn lalu mencium tangan ayahnya.

__ADS_1


"Anak Papa harus sekolah yang baik yah, dan hati-hati di jalan nanti kalau pulang, jangan lupa jalan di sebelah kiri!" kata Eric mengingatkan anaknya.


"Iya Pa, da da Papa!" ucap Felyn sambil melambaikan tangannya. Vasya pun ikut melambaikan tangannya.


Eric juga melambaikan tangan sambil tersenyum melihat kedua anak tersebut yang begitu semangat melangkah melewati gerbang sekolah.


Setelah mereka hilang dari pandangan, ia memutar balik kendaraannya untuk menjemput Anna di rumah yang sudah siap dan menunggu di teras. Keduanya langsung saja berangkat ke toko.


Johan sangat senang ketika melihat kedatangan mereka karena ada sesuatu hal yang sangat penting dan ingin diutarakan kepada bosnya itu.


Beberapa saat kemudian ia datang menemui Eric dan Anna di ruangan tempat istirahat.


"Ehh, Johan... kapan rencana kalian berangkat?" tanya Anna.


"Belum pasti nih, soalnya... soalnya...," Johan gugup untuk menyampaikan alasannya padahal sejak dari tadi malam ia sudah mempersiapkan konsep atau kata-kata yang akan diucapkan saat berhadapan dengan bos.


"Saya sarankan, tolong keberangkatan kalian jangan ditunda-tunda terus karena kasihan orang tua Susi yang sudah lama menunggu kedatangan kalian ke sana!" kata Eric dengan serius.


"Maaf sebelumnya, bukannya sengaja menunda-nunda tapi saat ini saya benar-benar nggak punya uang buat biaya pernikahan di sana karena menurut Susi, orang tuanya akan langsung menikahkan kami ketika sudah tiba di sana!" tutur Johan dengan wajah sendu.


"Ohhh, masalah itu... nanti kami bantu tapi nggak gratis," ujar Eric sambil terkekeh.


"Yang benar, Pak Bos akan membantuku?" seru Johan dengan gembira.


Anna tertawa mendengar sebutan 'Pak Bos' yang diucapkan oleh Johan.


"Tenang Pak Bos dan Bu Bos, saya akan mengembalikan uang yang akan dipinjamkan kepadaku dengan cara mengangsur setiap bulan menggunakan gaji saya di sini!" sambung Johan lagi untuk meyakinkan Eric dan Anna.

__ADS_1


Eric dan Anna saling pandang dengan rasa haru mendengar perkataan Johan.


__ADS_2