
Keluarga pak Hendrik menginap selama dua hari di rumah pak Nico. Sebenarnya kemarin mereka berencana untuk pulang karena Felyn sudah harus masuk sekolah hari ini tetapi Anna masih sibuk dengan jualannya. Berhubung ia akan meninggalkan kota B dan kedua orang tuanya-lah yang akan meneruskan usaha tersebut sehingga Anna butuh waktu untuk memberitahukan beberapa hal kepada Yura dan selanjutnya Yura akan meneruskan nantinya kepada pak Nico dan ibu Nadia.
"Udah siap, Sayang?" tanya Eric yang datang ke pintu kamar Anna.
Selama dua malam berada di rumah tersebut tapi Eric tidak pernah tidur di kamar ini walau dalam hati sangat menginginkan tetapi situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Tempat tidur yang ada di kamar Anna hanya cukup untuk satu orang dan Eric tahu hal ini ketika hari pertama datang dan ia diarahkan untuk mandi di kamar mandi yang terletak di kamar milik Anna.
"Udah, Mas," sahut Anna lalu keluar sambil menjinjing tas yang berisi dengan pakaiannya.
Eric meraih tas tersebut yang cukup berat dan membawanya ke mobil.
Wajah Eric tampak berbinar-binar karena harapannya terkabulkan untuk bisa membawa istrinya pulang ke rumah. Dalam hati ia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat berangkat agar bisa juga lebih cepat tiba di rumah.
Sambil bersenandung dengan suara pelan ia mengatur barang-barang di bagasi dan setelah semuanya rapi mereka pun berpamitan kepada pak Nico dan ibu Nadia lalu naik ke mobil.
Anna masih memeluk ibunya dengan perasaan sedih tapi kedua orang tuanya memberi dukungan dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Biarkan Yura tetap kerja di toko agar Bapak dan Ibu nggak terlalu capek!" kata Anna.
"Nggak usah dipikirin soal toko, Yura akan tetap bekerja di sini selama ia belum pulang ke kampungnya dan jangan khawatir tentang kami!" ucap ibu Nadia untuk meyakinkan anaknya sekali lagi.
"Ma, ayo kita berangkat!" seru Felyn dari mobil.
"Sabarlah dikit, Nak!" sahut Anna lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan kedua orang tuanya.
"Kami jalan dulu!"
"Hati-Hati!"
Anna naik ke atas mobil dan duduk di bangku nomor dua dari depan bersama dengan ibu mertua dan Felyn sedangkan ayah mertua duduk di depan di samping Eric yang akan menyetir mobil.
__ADS_1
Lambaian tangan dari pak Nico beserta istrinya mengiringi kepergian mereka.
Sesekali Eric melirik ke kaca spion untuk mencuri pandang wajah istrinya yang cantik tapi tetap juga fokus menyetir mobil. Dua kali mereka singgah untuk beristirahat selama dalam perjalanan hingga akhirnya tiba di kota A pada pukul 16.30 WIB.
Anna terharu ketika kakinya memasuki halaman rumahnya yang kini sudah berubah. Tidak seluas saat ia tinggalkan dulu karena sekarang sudah ada bangunan lain yakni rumah makan.
"Selamat datang ibu Anna!" seru ibu Lastri yang muncul dari pintu rumah makan dan diikuti oleh suaminya. Keduanya menghampiri Anna sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Terima kasih!" sahut Anna. Ia menyambut uluran tangan tetangganya itu dengan senyum. Dalam hati ia bangga melihat ibu Lastri dan pak Darman yang sudah punya rumah makan.
"Tambah cantik aja," puji ibu Lastri dengan decak kagum memandangi wajah Anna.
"Siapa dulu dong, suaminya," ucap Eric dengan bangga.
Anna tersipu malu mendengar pujian Eric. Mereka masuk setelah ibu Lastri membuka pintu rumah. Eric memang menitipkan kunci rumah kepadanya saat berangkat dulu ke kota B.
Sementara itu pak Darman membantu Eric untuk mengangkat barang-barang dari mobil dan dibawa ke dalam rumah.
Anna masih bingung dan di kepalanya penuh dengan berbagai pertanyaan. Kemarin-kemarin ia sempat membayangkan keadaan rumahnya yang pasti berantakan dengan halaman yang ditumbuhi oleh rumput-rumput liar tapi apa yang terpampang di depan mata berbanding terbalik dengan apa yang ada di pikirannya.
Halaman rumah yang masih tersisa dari lokasi bangunan rumah makan tampak bersih. Begitu pula dengan ruangan rumah, lantai tampak mengkilat dan perabotan tersusun dengan rapi.
Hanya satu yang berubah yaitu tanaman hias yang ada di teras rumah sudah tidak ada. Eric sudah memindahkan semua pot bunga tersebut ke samping rumah karena waktu itu bunganya sudah mulai kering dan tidak ada yang merawatnya.
Untuk kebersihan rumah, ibu Lastri bersama suaminnya yang sudah diberi tugas karena Eric ingin Anna merasa nyaman ketika tiba di rumah.
"Masih ingat di mana kamar kita, Sayang?" goda Eric.
"Istrinya diantar dong ke kamar!" kata ibu Elma yang ikut juga menggoda.
__ADS_1
Eric menghampiri Anna yang masih duduk di sofa dan meraih tangannya. Anna berdiri dan mengikuti ajakan suaminya.
Matanya terbelalak ketika pintu kamar sudah terbuka dan melihat isinya yang begitu rapi. Bau wangi kesukaannya tercium dan menyejukkan hati.
"Waoww...," seru Anna dengan gembira.
"Suka, yah?" tanya Eiric.
"Sangat suka," sahut Anna.
Eric sudah tidak sabar melihat bibir tipis yang ranum berwarna merah dan menantang di depan mata. Ia mendekati dan memberi kecupan tepat di bibir. Seketika itu juga getaran-getaran hangat mengalir di seluruh tubuh membangkitkan dan membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur.
Tidak hanya mengecup saja tapi lebih dari itu, lidahnya sudah berhasil ******* bibir itu dengan lembut. Anna sampai memenjamkan mata dan menikmati ciuman panas tersebut. Cukup lama keduanya berciuman hingga terlepas karena sudah kesulitan untuk bernafas.
"Saya mau mandi dulu, Mas," kata Anna dengan wajah bersemu merah. Ia merasa tubuhnya bau apek setelah menempuh perjalanan jauh.
"Ok, jangan lupa persiapan buat malam pertama kita, yah!" ujar Eric dengan kedipan mata yang nakal.
"Ihh, Mas...," ucap Anna dengan senyum. Ia merasa lucu dengan ucapan suaminya.
Anna merasa tubuhnya sangat segar ketika diguyur dengan air. Ia membersihkan seluruh bagian tubuhnya dengan teliti sambil berkhayal untuk melakukan malam pertama bersama suaminya sebentar. Malam pertama setelah berpisah selama beberapa tahun.
Ia memandangi tubuhnya yang polos di cermin lalu mulai menggosok secara perlahan dan lembut bagian depan. Dua gunung kembar yang mulus dan masih kenyal serta menantang ia remas lalu pindah ke bagian bawah yang tersembunyi dan memberikan perhatian khusus dengan bagian tersebut karena bagian tubuh ini sangat sensitif dan ia yakin bahwa bagian ini yang akan menjadi incaran utama dari suaminya sebentar.
Setelah selesai menggosok semua bagian tubuhnya ia kembali mengguyur tubuhnya dengan air dingin hingga bersih.
"Tok, tok, tok!" suara ketukan di pintu kamar terdengar membuat Anna segera mengeringkan badannya dengan handuk dan segera membuka pintu setelah melilitkan handuk tersebut pada tubuhnya.
Ketika pintu terbuka, Eric sudah berdiri di sana. Ia hanya mengenakan boxer sehingga dada bidangnya terpampang nyata di depan mata.
__ADS_1
Eric segera masuk ke kamar mandi dan segera mengguyur tubuhnya.