
Sudah beberapa hari ini Eric selalu mencoba untuk menghubungi istrinya tapi nomornya sudah tidak pernah aktif. Ia sangat prustasi dalam menghadapi pergumulan rumah tangganya saat ini.
Panggilan dan chat dari Dewi sudah berpuluh-puluh kali tapi tak pernah ia gubris bahkan kemarin sore ia sempat membentaknya karena memaksakan diri untuk masuk ke dalam rumah. Dewi sengaja duduk-duduk di teras rumah Eric untuk menunggu kepulangan tuan rumah dari kantor karena panggilan dan pesannya tak pernah direspon.
Pada jam istirahat siang ini, Eric duduk-duduk saja di dalam ruang kerjanya dan tidak pergi mencari makan di luar. Perutnya sudah keroncongan tapi ia tak punya selera makan.
"Pak Eric sudah makan?" tanya Susi rekan kerjanya yang ruangannya bersebelahan dengan tempatnya.
"Belum, lagi kurang sehat jadi malas makan," sahut Eric.
"Waduh, nggak boleh begitu Pak, nanti tambah sakit kalau nggak makan!" ujar Susi dengan serius. Ia sudah pernah terserang penyakit maag sehingga tahu bagaimana tersiksanya jika penyakit tersebut kambuh lagi.
Eric hanya tersenyum tipis mendengar ucapan rekannya itu lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Ia berharap pesan-pesan buat istrinya pada aplikasi WhatsApp sudah tercentang biru tapi kekecewaan kembali tergambar di wajahnya karena jangankan berwarna biru, tercentang satu saja masih belum ada tanda-tanda. Kini ia yakin bahwa Anna sudah mengganti nomor ponselnya. Akhirnya ia berencana untuk mengunjunginya setelah gajian bulan ini.
"Permisi, ini ada roti tawar buat Bapak!" kata Susi dengan sopan. Di tasnya selalu ada makanan karena sewaktu-waktu ia mengisi perutnya, takut terserang penyakit maag lagi.
"Ehh, repot-repot segala... terima kasih!" ucap Eric dengan ramah.
"Sama-sama, Pak!" balas Susi kemudian kembali ke ruang kerjanya.
Sebenarnya Eric sangat malas untuk makan tapi ia juga tidak mau mengecewakan Susi. Ia meraih roti tawar tersebut lalu makan. Ia menyadari bahwa Susi sedang melirik ke arahnya tapi ia pura-pura tidak melihatnya.
***
Suasana di kediaman pak Nico tampak sibuk. Mereka akan pindah rumah. Ada pemikiran pak Nico bahwa mungkin Anna akan merasa lebih baik jika tinggal di tempat yang baru. Kebetulan rumah yang akan ditinggali tersebut baru saja selesai dibangun.
Andi, anak sulung mereka sudah berhasil mewujudkan cita-citanya. Ia pernah berjanji bahwa sebelum mempersembahkan sebuah rumah kepada kedua orang tuanya, ia tidak akan menikah.
__ADS_1
Setelah lulus kuliah, Andi pergi merantau ke Irian dan sudah tujuh tahun berada di sana. Bekerja di salah satu perusahaan milik orang asing dan sudah berhasil mengumpulkan sejumlah rupiah yang sebahagian telah digunakan untuk membangun rumah yang lumayan mewah untuk kalangan mereka.
Pak Nico dan ibu Nadia juga akan mengurus bisnis anaknya di rumah baru tersebut. Di samping bangunan rumah, juga ada satu ruangan besar yang dijadikan toko untuk menjual perabot rumah tangga. Rencananya, jika Anna sudah sembuh, ia yang akan mengurus dulu bisnis tersebut sambil mencarikan pekerjaan di kantor yang butuh karyawan.
Sejak ayahnya mengganti nomor ponsel miliknya, keadaannya tampak sudah lebih baik. Ibunya tidak perlu lagi mengantar makanan ke dalam kamar karena ia sudah bisa berjalan ke dapur walau tubuh masih sangat lemah.
"Ayo Nak kita berangkat sekarang!" ajak ibu Nadia. Mobil yang akan membawa mereka sudah siap di depan rumah. Felyn sudah lebih duluan bersama opanya naik ke mobil dan duduk di kursi belakang sedangkan barang-barang mereka sudah diangkut kemarin menggunakan truk sewaan.
Anna mengangguk lalu berjalan pelan-pelan menuju mobil sambil dituntun oleh ibunya.
"Tolong jalannya pelan-pelan saja, Pak!" kata ibu Nadia untuk mengingatkan pak sopir.
"Baik, Bu!" sahut pak sopir dengan patuh.
Jarak yang akan ditempuh sekitar tiga puluh kilo meter. Mobil pun bergerak meninggalkan rumah yang juga banyak menyimpan kenangan. Itulah sebabnya pak Nico tidak mau menjual rumah tersebut karena pikirnya mereka akan datang sekali-kali untuk bersantai setiap kali ada kesempatan.
Pak Jeri sangat hati-hati menyetir mobil bahkan sesekali meminggirkan kendaraan tersebut jika Anna merasa mual dan ingin muntah.
Ibu Nadia takjub melihat rumah baru yang akan dihuninya ketika mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman. Selama rumah ini dibangun ia tidak pernah datang, hanya suaminya yang sering datang mengontrol para pekerja.
Rumah tersebut berukuran besar dan terdapat empat kamar tidur yang masing-masing dilengkapi dengan kamar mandi. Ruang dapur juga luas sehingga bebas untuk menata dan mengatur letak perabotan dan di sampingnya sudah ada toko.
Tampak Felyn berlari ke sana ke mari dengan riangnya. Ia sangat senang dapat bermain di ruangan yang luas. Anna ikut bahagia melihat keceriaan anaknya.
Pak Nico dan ibu Nadia buru-buru membersihkan dan merapikan kamar buat Anna. Setelah selesai Anna masuk ke kamar tersebut untuk beristirahat sedangkan ibunya langsung terjun ke dapur untuk mempersiapkan makan siang. Bahan-bahan yang akan diolahnya sudah disiapkan dari rumah.
Di kamar, Anna berbaring dengan lemas. Ia merasa sangat lelah setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh. Ia berdoa kepada Tuhan, minta kekuatan, kesabaran, serta ketabahan untuk menghadapi kenyataan hidup yang sedang dijalani.Dalam hati ia yakin jika Eric masih mencintainya tapi pengaruh dari mertuanya yang sudah mengubah segalanya dan mungkin inilah jalan terbaik bagi dirinya dan Felyn.
__ADS_1
"Anna, ayo kita makan dulu!" seru ibunya dari balik pintu kamar.
Anna perlahan bangun dan berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada makanan yang dikhususkan oleh ibunya untuk dirinya karena dokter masih menyarankan untuk mengkonsumsi bubur selama proses penyembuhan.
"Saya juga mau makan, Oma!" kata Felyn yang datang menghampiri omannya.
"Tunggu sebentar yah, Oma ambilkan!" kata Ibu Nadia dengan lembut.
Meskipun umur Felyn baru memasuki angka tiga tahun tapi ia sudah terlatih untuk makan sendiri. Anna mengajar anaknya untuk tidak manja seperti ajaran ibunya juga waktu dirinya masih kecil. Apalagi mengingat keadaannya saat sekarang ini. Felyn akan tumbuh tanpa dampingan seorang ayah.
Ibu Nadia melayani cucunya dengan tulus membuat Anna merasa terharu. Ia sangat bersyukur karena di dalam situasi yang sulit, ia masih punya ibu dan ayah yang benar-benar tulus menyayanginya. Dalam hati ia berjanji untuk berusaha melupakan Eric agar bisa lekas sembuh dan selanjutnya akan mencari pekerjaan agar kelak bisa membalas kebaikan dan pengorbanan kedua orang tuanya.
Ibu Nadia dan pak Nico juga sangat pandai untuk mengalihkan perhatian Felyn ketika bertanya lagi soal ayahnya kapan datang lagi.
Usai makan siang, ibu Nadia beristirahat sejenak lalu mulai mengatur perabotan yang masih tergeletak dan masih berantakan.
"Maaf, saya belum kuat untuk membantu Mama!" ucap Anna dengan pelan. Ia merasa kasihan melihat ibunya sibuk sendirian.
"Nggak apa-apa Nak, kami istirahat saja dulu biar lekas sembuh dan bisa ngebantu ibu lagi!" ujar ibu Nadia sambil tersenyum.
Mendengar percakapan antara istri dan anaknya, pak Nico pun bangun lalu membantu istrinya untuk berbenah. Hampir dua jam keduanya sibuk hingga pekerjaan tersebut selesai juga.
Ruangan rumah sudah tampak rapi. Keduanya pun saling melempar senyum lalu duduk di sofa untuk melepas lelah.
"Silahkan minum dulu, Pa, Ma!" kata Anna membuat ayah dan ibunya kaget. Anna datang membawa air minum yang baru saja di seduhnya karena ia tahu bahwa mereka pasti capek dan butuh minum.
"Terima kasih Nak, jangan dipaksakan untuk kerja, kami bisa buat minum sendiri kok!" ujar ibu Nadia.
__ADS_1
"Nggak kok, Bu, saya sudah merasa agak baikan setelah bangun tadi," sahut Anna sambil tersenyum.
Pak Nico dan ibu Nadia sangat senang melihat semangat anaknya. Keduanya berharap Anna akan segera pulih agar bisa beraktifitas dan bisa bangkit dari keterpurukan.