MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
63. Ulang Tahun Ibu


__ADS_3

Anna dan Eric sangat kecewa ketika tiba di kediaman Johan karena rumah itu tekunci dari luar dan menurut tetangganya, yang punya rumah sudah beberapa hari ini tidak pernah pulang.


"Ibu tahu kira-kira dia ke mana, yah?" tanya Anna menyelidik.


"Pernah saya dengar katanya dia mau cari pekerjaan baru tapi nggak tahu di mana," jawab ibu itu.


"Ibu punya nomor ponselnya?" tanya Anna lagi.


"Nggak ada, Non, kami memang tetanggaan tapi tidak terlalu akrab,"


"Ohh, iya, terima kasih, Bu!"


"Sama-sama,"


Ibu itu berlalu meninggalkan Eric dan Anna yang masih dalam keadaan bingung hendak mencari di mana keberadaan Johan.


Eric mengajak istrinya untuk beristirahat di bawah pohon rindang yang ada di pinggir jalan sambil memikirkan langkah apa yang akan ditempuh untuk menolong Susi yang saat ini sedang dalam kesulitan. Tadi ibunya menelepon untuk menanyakan kapan Johan akan melamarnya tapi Susi belum bisa memberikan jawaban yang pasti.


Sudah pasti ibunya Susi gelisah dan khawatir karena ia telah berbohong kepada suaminya dengan mengatakan bahwa Susi kembali ke kota A untuk bekerja karena bosaƱ di rumah saja.


Hari sudah senja dan saatnya para karyawan pulang ke rumah. Suara kendaraan bising memekakkan telinga dan suasana jalan raya sangat ramai oleh kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.


Eric dan Anna juga memutuskan untuk pulang ke rumah karena mengingat Susi yang ditinggal berdua dengan Felyn.


"Besok saja kita melanjutkan pencarian!" usul Eric.


"Oke," kata Anna.

__ADS_1


Ia duduk di belakang sambil melingkarkan kedua tangan untuk memeluk sang suami. Suasana sangat mendukung karena terpaan angin saat berkendara yang membuat tubuh mereka kedinginan.


Eric merasa sangat bahagia bisa menikmati jalan-jalan sore bersama sang istri tercinta. Tangan kirinya menggenggam jemari lentik yang menempel di dadanya sementara tangan kanan memegang setir motor. Mereka seperti orang pacaran saja.


"Hati-hati, Mas!" seru Anna mengingatkan.


"Iya, Sayang," sahut Eric.


Menjelang magrib mereka tiba di rumah dan Eric memastikan bahwa orang tuanya ada di dalam karena di halaman rumah terparkir mobil milik ayahnya.


Benar saja, di ruang tamu ibu Elma sedang bercakap-cakap dengan Susi dan Felyn tampak asyik duduk di samping omanya dengan mainan baru sedangkan Erika lagi asyik sendiri di pojok main ponsel.


"Sudah lama, Bu?" tanya Anna dengan sopan.


"Yahhh... kira-kira setengah jam yang lalu, untung Ibu punya teman mengobrol," jawab ibu Elma sambil tersenyum ke arah Susi.


"Tadi ia ke rumah makan katanya mau ambil setoran dari pak Darman untuk bulan ini,"


"Oh, berarti hari ini kita mau ditraktir lagi, setidaknya cuci-cuci mata di Mall," ucap Eric sambil nyengir.


"Ayahmu rencana mau kumpul modal dulu untuk mendirikan cabang rumah makan,"


"Mau dibangun di mana, Bu?"


"Ada lokasi yang sudah dibeli ayahmu yang letaknya tidak jauh dari rumah,"


Anna menyimak percakapan mereka dan sekarang ia baru tahu bahwa rumah makan yang selama ini disangkahnya milik pak Darman ternyata milik mertuanya.

__ADS_1


Tak lama kemudian beberapa karyawan datang mengantar makanan dan menatanya di atas meja. Pak Hendrik dan pak Darman mengikuti dari belakang.


"Malam ini kita akan makan bersama di sini!" ucap pak Hendrik.


"Dalam rangka apa, Ayah?" tanya Eric.


"Hari ini ibu berulang tahun, masakan kalian lupa," sahut pak Hendrik.


"Erika nggak lupa kok, tuh, kado buat Ibu ada di mobil," sanggah Erika.


"Hhmmm, anak bungsu Ayah memang punya daya ingat yang kuat," puji pak Hendrik.


"Yah, jelas dia ingat soalnya usianya masih belasan, coba usianya seperti Kakak, sudah pastilah ia juga akan lupa," sambung Eric tak mau kalah.


"Hey, sudah, sudah, tak usah dipersoalkan lagi, yang penting sekarang kita udah ngumpul dan mari kita menikmati makanan yang sudah tersedia!" seru ibu Elma.


Belum juga ada yang bergerak untuk mengambil makanan, tiba-tiba karyawan datang beramai-ramai sambil membawa kue ulang tahun yang di atasnya terdapat lilin angka empat puluh tujuh. Mereka bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu 'panjang umurnya' dan semua yang berada di dalam ruangan pun ikut bernyanyi penuh kegembiraan.


Ibu Elma meniup lilin tersebut setelah diberi aba-aba dan satu per satu mereka memberikan salam dan ucapan doa semoga panjang umur dan sukses selalu.


Setelah itu ibu Elma mempersilahkan mereka untuk makan bersama.


"Ayo, Susi, jangan malu-malu!" ajak Anna.


Susi beranjak dari duduknya dan mengisi piring dengan nasi dan sate ayam. Ia sangat berharap kondisi tubuhnya bisa diajak kompromi agar dapat menikmati makanan tersebut tanpa rasa mual karena ia malu dengan orang-orang yang ada di sekitarnya jika saja hal itu sampai terjadi.


Dua tusuk sate sudah ia habiskan dan keadaannya baik-baik saja membuat ia ingin untuk menambah lagi tapi ditahannya karena khawatir akan kembali jika berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2