MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
15. Begitu Dingin


__ADS_3

Hari ini ibu Elma datang ke rumah Eric ketika hari masih pagi karena tidak punya jadwal mengajar di sekolah. Eric heran atas kedatangan ibunya karena tidak biasanya ia datang berkunjung sepagi ini.


"Tumben Ibu kemari?"


" Memangnya nggak boleh?"


"Ah, Ibu, ya... bolehlah,"


Ibu Elma tersenyum dan masuk ke dalam rumah. Ia mendapati sisa sarapan anaknya di meja. Rupanya selama Anna pergi, Eric selalu memesan makanan.


Timbullah dalam hati ibu Elma untuk memasak buat anaknya ini hari. Ia pun meminta uang belanja sebelum Eric berangkat ke kantor.


Setelah Eric berangkat, ibu Elma menghubungi Dewi agar datang ke rumah Eric. Kebetulan hari ini Dewi tidak masuk kerja juga hingga dengan senang hati ia memenuhi undangan tersebut.


"Mulai sekarang kamu harus pintar-pintar ambil hati si Eric soalnya sekarang tidak ada yang mengurusnya. Ayo kita masak dan meneleponnya nanti siang agar ia makan siang di rumah. Kita buat masakan yang enak biar dia ketagihan. Nah, besok-besok pasti dia akan minta dimasakin lagi!" usul ibu Elma dengan semangat.


"Boleh Tante, tapi aku nggak bisa masak," ujar Dewi. Sebenarnya ia bisa masak tapi dasarnya malas sehingga beralasan tidak bisa masak.


"Nggak apa-apa, nanti Ibu yang masak tapi nanti kita ngakunya sama Eric bahwa kamulah yang masak buat dia," kata ibu Elma.


Ibu Elma pamit sebentar untuk membeli bahan-bahan makanan di warung terdekat yang akan diolahnya. Sementara itu Dewi duduk santai sambil main ponsel.


Tiba-tiba ia punya ide. Dengan lincah ia mencari nomor ponsel pak Hendrik lalu menghubunginya.


"Iya, halo!" suara pak Hendrik terdengar ketika ponsel mereka sudah terhubung.


"Om di mana sekarang?" tanya Dewi.


"Rencana mau keluar, ada apa yah?"


"Boleh nggak aku ke rumah Om sekarang?


"Ohh, boleh bangat, Om tunggu!"


"Sippp!"


Dewi memutuskan sambungan dan bersamaan dengan itu pula ibu Elma muncul di pintu dengan menjinjing keranjang berisi belanjaan.


"Maat Tante, aku tiba-tiba dapat telepon dari ponakanku yang mau diantar ke rumah sakit untuk periksa, nanti setelah urusannya selesai aku langsung kembali ke sini!"


"Nggak apa-apa, nanti saya hubungi jika sudah waktunya Eric mau pulang!"


Dewi tersenyum. Ia pun beranjak dari tempat duduk lalu pergi ke rumahnya untuk bersiap-siap. Cukup dua puluh menit saja ia duduk di depan cermin dan mengganti pakaiannya lalu berangkat ke rumah pak Hendrik.

__ADS_1


Pak Hendrik menyambut kedatangan Dewi dengan wajah yang berseri-seri. Ia hanya sendirian di rumah karena tadi pagi istrinya sudah pamit ke rumah Eric dan katanya sore baru balik ke rumah dan Erika sedang ke sekolah seperti biasa.


Dewi langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher pak Hendrik ketika tiba di ruang tamu setelah menutup dan mengunci pintu utama.


"Om sangat merindukanmu!" kata pak Hendrik sambil mengecup bibir Dewi dan membalas pelukannya. Dewi menikmati ciuman panas tersebut karena sudah satu minggu ini ia tidak pernah bertemu dan disentuh oleh Johan. Kekasihnya itu sedang mengikuti pelatihan di luar kota. Eric yang sangat ia harapkan untuk bisa mengobati kesepiannya sebagai seorang janda, sampai saat ini belum bisa ia gaet.


keduanya melepaskan ciuman karena sudah kesulitan untuk bernafas. Pak Hendrik menggendong tubuh yang sintal itu dan mendudukkan di atas meja kayu yang ada di pojok ruangan lalu ia sendiri berjongkok agar lebih mudah untuk melakukan keinginannya yang sudah lama ia pendam. Dewi yang lagi haus sentuhan memejamkan mata dengan pasrah sambil sesekali mendesah.


Puas dengan posisi tersebut, pak Hendrik menggendongnya lagi dan membaringkan di atas sofa yang empuk lalu menyingkapkan rok mini yang dikenakan oleh Dewi. Tampaklah sebuah pemandangan yang menakjubkan membuat ia tersenyum menyeringai.


"Tubuhmu sangat indah Sayang, izinkanlah Om untuk menikmatinya walau hanya sekali saja!"


"Nggak masalah Om, yang penting...!" sahut Dewi sambil memberi kode dengan gerakan ibu jari dan jari telunjuknya yang saling digesekkan membuat pak Hendrik langsung paham bahwa itu tidak gratis.


"Beres!" ucap pak Hendrik dengan senyum lalu membantu Dewi bangun dan menggandeng tangannya masuk ke kamar tamu.


Sudah empat puluh menit keduanya berada dalam kamar tersebut dan belum ada tanda-tanda pintu akan segera terbuka. Suara ******* saling bersahutan, makin lama makin seru dan akhirnya terdengar pula suara erangan pak Hendrik yang panjang sebagai tanda permainan mereka sudah berakhir.


"Om hebat, terima kasih sudah memuaskan diriku!" ucap Dewi tanpa ada rasa malu. Ia berkata jujur dengan serius membuat pak Hendrik bangga.


"Apakah Om lebih hebat dari lelaki yang pernah menidurimu?" tanya pak Hendrik sambil terkekeh.


"Iya Om," sahut Dewi sambil memungut pakaiannya yang terhambur di lantai lalu mengenakannya kembali.


Pak Hendrik semakin melebarkan senyum dengan penuh rasa bangga. Ia pun bergegas memasang pakaiannya lalu keduanya keluar dari kamar dan duduk-duduk di sofa yang ada di ruang tamu untuk melepas lelah.


"Pasti Om, aku akan selalu siap kapan saja!" sahut Dewi.


"Yang benar? Tapi Om nggak punya uang yang banyak,"


"Nggak usah khawatir, buat Om semuanya gratis tapi ada syaratnya!"


"Ayo katakan, apa syaratnya?"


"Bantu aku agar bisa menjadi istri Eric soalnya aku sangat mencintainya!"


"Itu sih, soal gampang... tapi gimana dong dengan hubungan kita kalau nantinya kamu udah menikah sama anak saya?"


"Om 'kan punya istri juga,"


"Iya, tapi pelayanannya nggak sama dengan pelayanan kamu Sayang,"


Ponsel Dewi berdering menghentikan obrolan mereka. Rupanya ibu Elma yang memberi tahu bahwa tidak lama lagi Eric akan tiba di rumah. Ia pun berdiri dan pamit untuk pulang. Tak lupa ia meminta uang kepada pak Hendrik sebelum berangkat. Pak Hendrik memberinya uang sebanyak satu juta rupiah. Pikirnya, tak apalah uang itu melayang, toh imbalannya jauh lebih besar dibanding dengan nilai uang tersebut.

__ADS_1


***


Ibu Elma memuji-muji Dewi di meja makan ketika mereka sudah berkumpul. Seolah-olah yang memasak adalah Dewi.


Sejauh itu, Eric tidak memberi tanggapan apa-apa. Ia lebih banyak berdiam diam dan tanpa sepengetahuannya ibunya sedang mengabadikan kebersamaan mereka.


Eric duduk berdampingan dengan Dewi dan Dewi melayaninya ibarat seorang istri yang sangat perhatian kepada suaminya.


Ketika sementara makan, ada sebutir nasi yang melengket di dekat bibir Eric. Melihat hal itu, Dewi memanfaatkan kesempatan tersebut. Dengan mesra ia menyingkirkan butiran nasi itu walaupun Eric mengelak dan semua momen makan siang tersebut sudah tersimpan dengan rapi di dalam ponsel ibu Elma.


Usai makan, Eric hanya beristirahat sebentar lalu pamit untuk segera balik ke kantor. Ia malas meladeni ibunya serta Dewi di rumah. Eric sangat mengerti jalan pikiran ibinya ingin mendekatkan Dewi kepadanya.


"Kok, Eric begitu dingin yah?" tanya Dewi kepada ibu Elma setelah Eric kembali ke kantor.


"Sabarlah, ia masih kepikiran sama istrii jeleknya!" sahut ibu Elma untuk menghibur Dewi yang tampak sudah putus asa.


Dewi mengangguk dan membenarkan ucapan ibu Elma. Cinta memang butuh sebuah pengorbanan dan salah satu bentuk pengorbanan adalah kesabaran untuk menunggu semua proses yang akan dilalui.


***


Hari ini pak Hendrik batal berangkat untuk mengurus urusan bisnisnya padahal tadinya ada yang akan memborong lemari jualannya namun baru saja ia membaca pesan salah seorang karyawannya yang menyampaikan bahwa orang tersebut sudah membatalkan rencananya lantaran si pemilik tidak datang tepat waktu.


Pak Hendrik mengabaikan pesan tersebut. Ia lalu baring-baring di sofa setelah merapikan tempat tidur yang ada di kamar tamu tempat mereka tadi berbagi rasa bersama Dewi. Kini ia bersantai sambil menonton video yang sempat ia rekam tadi dengan diam-diam tanpa sepengetahuan Dewi. Rasa bangga masih memenuhi rongga hatinya karena mendapat pujian dari wanita muda yang cantiknya bagaikan seorang artis korea.


Tak lama kemudian ia mengantuk lalu tertidur dengan pulas. Pergulatan dengan Dewi telah menguras tenaganya membuat ia tertidur hingga beberapa jam.


Suara pintu digedor-gedor membuat ia kaget dan segera bangun untuk melihat siapa yang datang.


"Kok pintunya dikunci sih?" tanya Erika dengan kesal karena ia sudah beberapa menit berada di luar untuk mencari anak kunci. Biasanya anak kunci itu disimpan pada tempat yang aman dan siapa saja yang duluan tiba di rumah akan mengambil kunci tersebut untuk membuka pintu, namun kali ini kunci tersebut tidak ada di tempatnya membuat Erika mencarinya ke sana ke mari sambil ngomel-ngomel dengan perut yang sudah keroncongan.


"Maaf, tadi Ayah tidur jadi pintunya harus dikunci dong, gimana kalau ada penjahat yang masuk kalau pintunya terbuka dan Ayah sedang ngorok? Bisa jadi penjahat tersebut akan mengambil barang-barang kita yang berharga!" ujar pak hendrik panjang-lebar.


Erika tidak menghiraukan omongan ayahnya. Ia terus ke dapur mencari makanan tapi tak ada sedikit makanan pun yang tersedia di meja makan.


Ia pun berteriak-teriak dengan marah membuat ayahnya keget. Pak Hendrik segera menghubungi istrinya dan menanyakan soal makan siang.


"Oh, iya, maaf Ibu lupa, ajak Erika ke sini sekarang juga soalnya di sini masih banyak makanan!"


Pak Hendrik menyuruh Erika untuk mengganti seragam sekolahnya lalu mengajaknya ke rumah Eric. Sepanjang perjalanan, Erika tidak bersuara karena masih marah ditambah lagi dengan perutnya yang kini sudah tidak bisa diajak kompromi. Ia sudah sangat lapar karena tadi lupa bawa uang jajan ke sekolah.


Tiba di rumah Eric, tampak ibu Elma bersama Dewi sedang bersantai di ruang tamu, bahkan Dewi terlihat begitu nyaman dengan setengah berbaring, sebelah kakinya ada di atas meja.


Ia melemparkan senyum penuh arti kepada Pak Hendrik yang baru datang.

__ADS_1


Sementara itu, Erika terus ke dapur dan langsung menyantap makanan yang ada di meja tanpa menunggu ayahnya padahal ayahnya juga sudah lapar.


Ibu Elma bergegas ke ruang makan untuk menyediakan makanan buat suaminya dan kesempatan itu masih digunakan oleh Dewi untuk menggoda pak Hendrik dengan memamerkan buah dadanya karena kebetulan ia mengenakan baju yang terbuka lebar di bagian depan.


__ADS_2