MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
26. Tetangga Sudah Pergi


__ADS_3

Susi tiba di kantor dengan wajah berseri. Ia langsung menemui Eric yang sudah berada di ruangan sebelah setelah menyimpan tas ranselnya di ruangannya sendiri.


"Selamat pagi, Pak!" sapanya dengan riang.


"Selamat pagi juga , Susi!" balas Eric sambil tersenyum.


"Ada berita gembira loh, buat Bapak!"


"Berita apa sih?"


Susi duduk di kursi dan duduk berhadapan dengan Eric lalu menceritakan tentang keberadaan Anna. Eric mendengarkan cerita Susi dengan saksama.


"Terima kasih atas informasinya, saya sangat senang mendengar berita ini!" ujar Eric dengan mata yang berbinar-binar.


"Sama-sama, Pak," ucap Susi yang ikut senang melihat Eric yang bersemangat.


"Yah udah, Pak, saya ke sebelah dulu," Susi pamit dan berlalu.


Eric tersenyum bahagia. Ia menyusun rencana untuk pergi menemui anak dan istrinya.


Sepanjang hari itu ia bekerja dengan semangat dan senyum tak lepas dari bibirnya. Sesekali Susi melirik ke arahnya dan ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh rekan kerjanya itu.


Kini Susi tahu, betapa besar rasa cinta Eric kepada istrinya. Mendapat kabar saja tentang keberadaannya, ia sudah semangat begitu apalagi jika sudah bertemu langsung.


Sore hari saat pulang dari kantor ia kembali tertegun melihat mobil tetangganya yang datang diambil oleh orang yang pernah mendatanginya beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Dewi tampak pasrah saja karena ia tidak bisa berbuat banyak. Janjinya sudah melewati batas untuk membayar angsuran mobil tersebut dan ia sama sekali tak punya uang.


Eric pura-pura tidak melihat kejadian di rumah tetangga. Ia langsung masuk ke dalam rumahnya.


Menjelang malam ia terusik lagi dengan suara seorang perempuan yang berteriak-teriak dengan keras.


"Hey, keluar kamu!" suara perempuan tersebut terdengar jelas hingga ke rumah Eric.


Eric jadi penasaran. Ia mengintip di balik jendela dan melihat seorang ibu yang menggedor-gedor pintu. Rupanya ibu Since yang punya rumah kontrakan tersebut yang datang dan mengusir Dewi secara paksa karena sudah beberapa bulan tidak membayar sewa kontrakannya.


Tidak lama kemudian pintu terbuka dan tampaklah Dewi dengan wajah yang sangat kusut.


"Maaf Bu, tolong beri lagi waktu sehari saja, aku pasti akan membayarnya!"


"Saya sudah bosan dengan janji-janji palsumu, sekarang juga kamu harus keluar dari rumah ini karena besok pagi sudah orang baru yang akan mengisi dan saya akan menyita barang-barangmu seharga dengan sangkutan yang belum kamu bayar,"


Ia keluar dari rumah tersebut sambil menarik kopernya. Satu-satunya tempat tujuan adalah rumah orang tuanya yang ada di pinggir kota yang selama ini tidak pernah ia hiraukan karena menurutnya kehidupan mereka hanya pas-pasan dan juga ia sangat tidak suka mendengar nasihat kedua orang tuanya yang setiap saat selalu terdengar bagaikan khotbah yang tak tidak ada habisnya.


Dewi segera memesan grab. Ia masih beruntung karena tadi pagi dapat kiriman pulsa dari teman lamanya setelah ia iseng memintanya lewat aplikasi Massenger.


Tepat di lampu merah, ia tak sengaja melihat Johan sedang berboncengan dengan seorang perempuan yang cantik. "Pantas aja Johan tak pernah lagi mengangkat telepon dariku dan juga tidak membalas chatku karena ia sudah punya kekasih baru," lirihnya dalam hati.


Tampak wajah Johan berseri-seri. Dewi dapat melihatnya karena motornya tepat berada di samping mobil yang ditumpangi dan helem mereka terbuka. Perempuan yang ada di boncengannya memeluk dengan erat sambil tersenyum bahagia.


Dewi sengaja membuka kaca mobil dan Johan meliriknya sekilas lalu ia sengaja memegang tangan kekasihnya dan memamerkan kemesraannya kepada Dewi.

__ADS_1


Johan tampak sangat puas melihat wajah masam Dewi karena ia sangat sakit hati ketika tahu sifat asli Dewi. Minggu lalu secara tak sengaja ia mendengar beberapa pengunjung di rumah makan dekat kantornya sedang menggosipkan Dewi. Mereka sangat heboh memperbincangkan kelakuan Dewi yang berselingkuh dengan pak Hendrik. Saat itu Johan pura-pura tidak menghiraukan mereka tapi telinganya terpasang untuk mendengar dengan saksama apa yang mereka sedang perbincangkan.


Johan sangat yakin bahwa perempuan yang dimaksud adalah Dewi, kekasihnya, karena ada seorang ibu yang menyebut ciri-cirinya dan juga kantor tempat ia bekerja setelah seseorang mempertanyakan.


Sejak saat itu Johan tidak peduli lagi dengan dia karena ia juga baru menyadari bahwa selama ini ia hanya diperas oleh Dewi. Pihak kantor juga sudah mencoret namanya di kantor dan memecat secara tidak terhormat karena ia sudah sering tidak masuk kantor tanpa alasan yang jelas.


Dengan lincah Johan melajukan motornya setelah lampu hijau menyala.


Dewi mengusap wajahnya dengan kasar melihat Johan yang sudah berlalu bersama kekasih barunya.


Mobil yang membawanya juga melesat menuju ke alamat yang dituju. Tiba di sana, Dewi bergegas turun menemui orang tuanya untuk meminta uang yang akan digunakan untuk membayar grab karena dompetnya sudah kosong.


Cukup lama pemilik grab menunggunya karena Dewi masih berdebat dengan ayahnya untuk mendapatkan uang bahkan ayahnya enggan untuk memberikan uang kepadanya seandainya tidak melihat grab di depan rumah yang masih menunggu.


"Untuk apa lagi kamu datang ke sini? Bukannya kamu sudah tidak mengakui kami sebagai orang tuamu?" kata ibu Zena dengan nada tak suka.


"Maaf Bu, aku cuman mau nginap beberapa hari aja di sini, kok!" ucap Dewi santai.


"Pasti sekarang dia udah nggak punya apa-apa, buktinya ia datang dengan naik grab, nggak punya uang lagi buat bayar sewanya. Bukannya kamu punya mobil yang selalu kau pamer dengan kesombonganmu?" gertak pak Aril dengan emosi.


"Tenang aja, besok aku gantinya uangnya!" tutur Dewi dan berlalu meninggalkan kedua orang tuanya. Ia menyeret tasnya ke kamar tamu lalu menuju ke dapur untuk mencari makanan.


Di maja makan hanya ada sedikit nasi putih dan sepotong tempe goreng, sementara di piring bekas makan yang masih terletak di meja ada beberapa tulang ayam dan juga tusuk sate.


Dewi membuka lemari makan tapi apa yang dicarinya tidak ada di dalam tapi ia enggan untuk bertanya kepada ayah dan ibunya. Dengan terpaksa ia mengisi perutnya dengan nasi dan lauk tempe, setidaknya bisa mengganjal perut yang sudah keroncongan.

__ADS_1


Pak Aril dan ibu Zena bergegas masuk ke kamar karena malas untuk meladeni anaknya yang selama ini selalu menyusahkan mereka bahkan sudah mencoreng nama baik keluarga besar. Yang ada dipikiran kedua orang tuanya adalah kedatangan Dewi pasti akan membuat masalah lagi seperti yang lalu-lalu.


__ADS_2