
Eric sudah menghubungi Yura dan meminta alamat sekolah Felyn. Ia sudah pasrah dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Satu hal yang menjadi tujuan utamanya datang ke kota B adalah untuk mendampingi anaknya di acara perpisahan.
Suasana belum terlalu ramai ketika ia tiba di alamat yang diberikan oleh Yura. Pandangannya diedarkan ke sana ke mari untuk mencari keberadaan anaknya tapi sejauh ini ia belum melihatnya.
"Silahkan masuk, Pak!" kata seorang wanita mempersilahkan Eric masuk ke dalam ruangan yang sudah dipersiapkan untuk para tamu. Eric dapat memastikan bahwa perempuan itu adalah salah satu staf di sekolah tersebut. Ia pun mengikutinya ke ruangan. Pikirnya, ada baiknya mengikuti ajakan tersebut dari pada berdiri sendiri di luar dalam kebingungan.
Setelah duduk beberapa saat ia mendongakkan kepala dan menoleh ke arah pintu masuk, di sana tampak seorang gadis kecil dengan wajah yang kusut tak bersemangat. Di samping kirinya seorang wanita mudah yang cantik menggandeng tangannya kemudian diikuti oleh seorang laki-laki paru baya. Mereka semua tak asing lagi bagi Eric.
Hati Eric terenyuh melihat anaknya tidak bersemangat seperti anak-anak yang lain. Ia ingat dengan permintaan Felyn tempo hari yang sangat mengharapkan kehadiran dirinya.
Ruangan sudah penuh dan acara segera dimulai. Sepanjang acara berlangsung Eric selalu memperhatikan anaknya dari jarak yang agak jauh. Ingin rasanya segera menghampiri dan memeluk dengan erat tapi ada rasa takut jangan sampai tindakannya akan menimbulkan masalah.
Acara demi acara berlangsung dengan baik dan kini sudah tiba pada acara yang ditunggu-tunggu yaitu setiap siswa akan naik ke panggung didampingi oleh kedua orang tua untuk menerima penghargaan dan rapor.
"Alfira!" suara pembawa acara menggema di seluruh ruangan.
Seorang murid berjalan dengan lincah menuju panggung. Ia sangat bersemangat didampingi oleh ayah dan ibunya. Tampak juga ayah dan ibunya begitu bahagia.
Satu per satu nama murid-murid dibacakan oleh pembawa acara dan mereka yang disebut namanya segera naik ke atas panggung.
Ada rasa bangga yang dirasakan oleh para orang tua murid karena anak-anaknya telah boleh lagi menyelesaikan satu jenjang pendidikan dan akan mempersiapkan diri lagi untuk memasuki tingkat yang lebih tinggi.
"Yang berikut adalah Felyn, silahkan menuju panggung!" kembali suara pembawa acara menggema memenuhi ruangan.
Pak Nico dan Anna segera berdiri dan mengajak Felyn yang masih duduk dengan santai.
"Ayo Nak, sudah tiba giliranmu!" ajak Anna dengan lembut sambil meraih tangan mungil anaknya dan membantunya untuk berdiri.
Felyn berdiri tapi matanya melirik ke arah pintu masuk dan berharap bahwa di sana akan muncul ayahnya.
__ADS_1
"Sekali lagi, saya persilahkan dengan hormat, ananda Felyn beserta orang tua atau wali untuk segera naik ke atas panggung!" suara pembawa acara kembali menggema karena waktu terus berjalan sementara yang disebut namanya belum bergerak.
Mata para hadirin dan tamu undangan tertuju kepada pak Nico dan Anna yang masih berada di tempatnya. Meliahat hal tersebut, Eric berdiri dan melepas topi serta maskernya lalu menghampiri Felyn dengan penuh percaya diri.
"Ayo Nak kita naik ke atas panggung!" kata Eric membuat sebagian dari orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut terperangah.
"Papa..., kenapa baru datang?" tanya Felyn dengan senyum lebar. Wajahnya langsung berubah dan dengan penuh semangat ia menggandeng tangan ayah dan ibunya lalu sedikit tergesa menuju ke panggung.
Ada rasa haru menyelinap ke dalam kalbu. Itu yang dirasakan oleh Anna ketika tatapan mereka beradu. Sesuatu bergetar dalam hati sebagai tanda bahwa diantara mereka ada rasa yang bercampur aduk dan sulit untuk diartikan.
Pak Nico bingung tapi kemuadian ia tersadar dan kembali duduk di kursinya. Ia tidak jadi mendampingi cucunya karena sudah ada Eric yang menempati posisinya.
Suara riuh tepuk tangan para hadirin semakin menambah semangat Felyn yang sementara berjalan menuju panggung. Ia sangat bangga dan ingin memamerkan kepada teman-temannya bahwa ayahnya juga bisa datang ke tempat ini.
"Ternyata ayahnya Felyn gagah juga yah!" celetuk seorang mama muda yang duduk di kursi bagian belakang.
"Iya ya... tapi kok ia nggak pernah sekali pun mengantar anaknya datang ke sekolah?" timpal ibu yang lain
"Punya suami setampan dia pasti berisiko loh, apalagi berjauhan dengan istri," kata yang lain pula.
"Saya aja punya suami yang wajahnya pas-pasan tapi toh masih diembat juga oleh janda muda," ujar seorang ibu yang berambut panjang dan lurus.
"Iya juga sih, laki-laki memang banyak yang lupa sama istri jika sudah dapat godaan dari yang muda-muda,"
"Kalau suamiku yang selingkuh pasti aja saya ceraikan, bukan cuman dia kok yang bisa cari duit,"
"Makanya beri pelayanan yang maksimal buat para suami biar dia betah tinggal di rumah"
Ocehan para ibu-ibu muda itu berakhir setelah suara pembawa acara kembali berkumandang dan menyampaikan acara terakhir yaitu istirahat dan makan bersama.
__ADS_1
Pak Nico termenung mendengar gosip ibu-ibu. Ia bingung dengan informasi tentang menantunya yang belum ada kejelasan sementara cucunya sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah.
Setelah semua rangkaian acara selesai Eric bingung karena baik mertuanya maupun Anna, tidak ada yang mengajaknya untuk ke rumah.
"Terima kasih sudah datang!" ucap pak Nico datar.
"Sama-sama," sahut Eric.
Sementara itu Felyn terus mendekat kepada ayahnnya seolah tidak mau melepaskan lagi dan sesekali Eric mencium pucuk kepala anaknya dengan lembut.
Ada keraguan yang terlihat pada Eric dan Anna untuk berkomunikasi hingga ponsel Eric berdering seolah ingin mencairkan suasana yang beku.
"Halo!"
"Bapak di mana?"
"Di kota B, ada apa yah?"
"Besok pagi akan ada kegitan yang sangat penting di kantor jadi kehadiran Bapak sangat diharapkan! Tadi pimpinan mencari Bapak dan menyuruh saya untuk menelepon,"
"Baik, terima kasih!"
"Sama-sama,"
Eric memutuskan sambungan teleponnya. Rupanya yang menelepon adalah staf di kantor di mana ia bekerja. Ia pun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tidak ada waktu lagi untuk tinggal bersantai agar tidak terlalu rarut malam tiba di kota A.
"Saya pamit dulu!" kata Eric.
Hati dan perasaan Anna seketika hancur mendengar ucapan Eric. Tak disangkah bahwa suamminya itu akan secuek ini dan terburu-buru untuk pulang.
__ADS_1
"Papa mau pulang?" tanya Felyn dengan perasaan kecewa.
"Iya Sayang, nanti Papa ke sini lagi!" jawab Eric sambil membelai rambut anaknya dengan penuh kasih sayang, sementara matanya melirik ke arah mertuanya dan juga Anna dengan harapan bahwa salah satu di antara mereka akan menahannya agar tidak pulang.