MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
87. Tetap Berhati-hati


__ADS_3

Anna dan Susi telah tiba di rumah dan ketika Bi Ima membuka pintu, Krisna dan Kenzo berlari ke luar dan masing-masing menghambur ke pelukan ibunya.


Melihat kedua anak itu sudah aman di tangan ibunya, Bi Ima segera ke dapur karena makanan untuk santap siang belum ada.


"Bi Ima!" seru Anna memanggilnya.


Mendengar namanya dipanggil ia pun datang kembali ke ruang tamu mendapatkan majikannya.


"Ibu memanggilku?" tanyanya dengan sopan.


"Nggak usah repot-repot memasak, nanti kita pesan aja di rumah makan!" ujar Anna. Ia sangat mengerti bahwa Bi Ima pasti capek setelah menjaga dua anak kecil sekaligus dalam waktu yang cukup lama.


Tanpa mengulur waktu lagi, Anna segera menghubungi ibu Lastri dan minta agar karyawan mengantarkan makakanan ke rumahnya.


"Sekalian juga ke sini yah, ada sesuatu buat Ibu!" kata Anna mengakhiri pembicaan di telepon.


Sambil menunggu makanan datang, Anna menceritakan bagaimana kronologis sampai ia bisa tahu dan melihat tempat tinggal Dewi. Susi mendengarkan dengan saksama.


"Walaupun kita sudah menyaksikan bahwa Dewi telah berubah tetapi kita harus tetap berhati-hati jangan sampai kejadian di masa lalu terulang kembali dan bukan hanya terhadap Dewi saja karena sekarang ini sudah banyak pelakor yang berkeliaran untuk mencari pria yang berkantong tebal bahkan yang lebih parah lagi, katanya ada anak SMA yang sudah jadi simpanan laki-laki yang sudah bergelar 'Om'." tutur Anna panjang lebar.


"Iya juga sih, malah di kompleks kami itu ada seorang bapak yang memiliki istri yang cantik dan sudah punya tiga orang anak tapi masih aja selingkuh dengan tetangganya, pada hal istrinya lebih cantik dan lebih seksi bila dibandingkan dengan selingkuhannya itu," sambung Susi pula.


"Sepertinya kita juga harus rutin melakukan perawatan biar tidak kalah oleh mama-mama muda lainnya yang selalu tampil dengan wajah kinclong dan bibir yang berlipstik tebal," ujar Anna sambil terkekeh.


"Makanya rajin berkunjung ke salon!" ucap Susi dengan derai tawa pula.


Obrolan ringan keduanya terhenti ketika Ibu Lastri muncul bersama seorang karyawan sambil menenteng makanan dalam sebuah wadah.


Setelah menyerahkan makanan tersebut kepada Bi Ima, karyawan itu langsung balik ke rumah makan sedangkan Ibu Lastri masih tinggal dan ikut nimbrung bersama Anna dan susi. Ia sangat penasaran dengan apa yang dijanjikan oleh Anna.


"Oh, yah, ini untuk Ibu, semoga saja Ibu menyukainya!" Anna menyodorkan tas yang dibelinya tadi di toko milik Dewi.


"Waoww, terima kasih, cantik bangat, saya sangat suka!" seru Ibu Lastri dengan senang.


Ia kembali ke rumah makan dengan gembira lalu memamerkan tas barunya kepada para karyawan yang bekerja di sana.

__ADS_1


"Tasnya cantik, beli di mana, Bu?" tanya Narmi.


"Nggak beli, hadiah dari Anna," sahut Ibu Lastri dengan bangga.


"Nanti kita ke sana tanyakan, di mana tokonya biar kita beli juga," kata yang lainnya.


"Atau kita minta hadiah juga kepada Ibu Anna," timpal yang lain.


Mereka bubar setelah mendapat informasi bahwa ada banyak pelanggan yang baru datang. Sepertinya rombongan yang bepergian jauh karena ada tiga mobil kecil dan satu bus yang penumpangnya sangat padat.


Para karyawan segera mengerjakan tugas masing-masing dengan cekatan. Mereka semua lincah bekerja karena sudah terbiasa dan terlatih sehingga para pelanggan tidak menunggu terlalu lama.


Tidak sampai pada hitungan jam, makanan sudah tersedia di meja dan para pelanggan pun segera menikmati dengan lahap.


"Lagi ramai, yah!" seru Pak Hendrik yang tiba-tiba muncul di pintu dapur.


Sontak semua karyawan berbalik dan menyambutnya dengan ramah dan sopan.


"Iya, Pak," sahut Ibu Lastri mewakili.


Pak Hendriik datang ke rumah makan untuk mengambil uang setoran dan selanjutnya akan disimpan di BANK. Selama ini ia sudah mempercayakan soal keuangan kepada Thyra, ponakannya yang kebetulan mau bekerja di situ. Setelah beberapa bulan bekerja, maka Pak Hendrik memberi kepercayaan penuh kepadanya, bahkan untuk pembayaran gaji karyawan, dia juga yang tangani karena ia memang seorang anak yang jujur.


Jumlah setoran dari Thyra untuk bulan ini sangat meningkat, dan Pak Hendrik berencana untuk menaikkan gaji para karyawannya yang akan diberlakukan pada bulan depan. Berita ini membuat para karyawan semakin bersemangat untuk bekerja. Ditambah lagi, Pak Hendrik menyampaikan bahwa minggu depan ia akan mengajak mereka untuk mengunjungi salah satu objek wisata yang ada di luar kota karena pikirnya para karyawan ini juga sangat butuh untuk refresing.


Sebelum Pak Hendrik pulang ia memanggil istri, anak, dan cucunya untuk berkumpul di rumah makan, termasuk Angga dan Erika yang tadi diam-diam membuntuti mereka tadi dari rumah.


Pak Hendrik memerintahkan karyawan agar menyiapkan makanan untuk mereka setealah semuanya sudah berkumpul.


"Mana Anna?" tanya pak Hendrik.


"Dia lagi ada tamu dan katanya mereka udah makan," jawab Ibu Elma sambil menyendok nasi ke piring lalu diletakkan di hadapan suaminya.


Mereka lalu makan bersama.


Erika tampak tidak terlalu bersemangat seperti biasanya kalau melihat daging ayam sate, kali ini wajahnya muram. Dia hanya makan sedikit sekali.

__ADS_1


"Kenapa cepat berhenti, Nak?" tanya Ibu Elma.


"Iya Bu, udah tiga hari ini, Erika selalu mual-mual dan selalu marah-marah nggak jelas," sahut Angga dengan polosnya.


"Huh, dasar tukang lapor!" ujar Erika dengan tatapan yang tajam kepada suaminya.


Sudah satu minggu ini Erika menginap di rumah mertuanya karena permintaan suaminya. Katanya supaya adil, sebelum punya rumah sendiri, harus bergiliran, seminggu di rumah orang tua Erika dan seminggu di rumah orang tua Angga. Makanya kedua orang tua Erika tidak tahu bahwa sudah tiga hari ini anaknya dalam keadaan kurang sehat.


Pak Hendrik dan Ibu Elma saling berpandangan lalu tertawa senang.


"Hhmmm, itu berarti kalian akan memberikan cucu lagi buat kami," ucap Ibu Elma dengan mata berbinar.


"Benaran Bu, Erika hamil?" tanya Angga penasaran.


"Tanda-tandanya, sih," sahut Ibu Elma.


Tanpa sadar, Angga berdiri dan berjoget-joget dan menjadi perhatian para pengunjung dan karyawan. Dia berhenti berjoget ketika Erika mual dan ingin muntah. Dengan lincah ia memapah istrinya menuju toilet.


"Ini semua gara-gara, Mas!" umpat Erika. Suaranya terdengar marah membuat kedua orang tuanya makin cekikikan.


"Kenapa Oma dan Opa menertawakan Tante Erika?" tanya Felyn dengan heran. Ia berpikiran, bukannya Oma dan Opa kasihan melihat Tante Erika karena sakit tapi malah menertawakan.


"Tantemu itu lucu sekali," jawab Ibu Elma.


Felyn semakin tidak mengerti. Ia memandangi Opa dan Omanya secara bergantian.


Setelah Erika dan Angga kembali dari toilet, ibunya mengajak mereka untuk beristirahat di rumah Eric terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah.


Pak Hendrik kembali menemui Thyra di meja kerjanya sebelum mengikuti istrinya ke rumah Eric.


"Mulai bulan depan, Om tidak perlu lagi menerima setoran secara langsung seperti tadi. Kamu tinggal transfer ke nomor rekening ini!" kata Pak Hendrik sambil menyodorkan kertas yang diatasnya sudah tertera nomor rekening.


"Baik, Om," sahut Tyira.


"Tetap kerja yang bagus, Nak biar Om naikkan juga gajimu pada bula depan!" ujar Pak Hendrik lagi.

__ADS_1


"Siap Om, terima kasih sebelumnya!" sahut Thyra dengan senang.


__ADS_2