MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
83. Tidak Salah Lagi


__ADS_3

Anna mengajak Beni dan Yura untuk singgah di rumahnya setelah acara resepsi pernikahan Angga dan Yura selesai dan sebelum mereka kembali ke kota asalnya karena ia ingin menitip sesuatu kepada orang tuanya.


Beni dan Yura memenuhi ajakan Anna, sekalian istirahat sejenak sebelum melakukan perjalan lagi. Kedatangan mereka di rumah Eric juga membuat Felyn merasa senang karena dari dulu ia begitu dekat dengan Yura.


"Tak terasa yah, adik Felyn sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik," ucap Yura. Ia sangat kagum dengan kecantikan Felyn. Wajarlah karena ayahnya gagah dan ibunya juga cantik! Demikianlah pemikiran Yura.


Anna tersenyum mendengar pujian dari Yura yang memang adalah kenyataan.


Setelah mengobrol sebentar, Anna menunjukkan kamar tamu buat Beni dan Yura agar keduanya boleh beristirahat sejenak karena rencananya nanti malam mereka akan keluar untuk sekedar jalan-jalan.


"Tuttt, tuttt, tuttt!" ponsel milik Yura berdering tanda ada sebuah panggilan yang masuk padahal matanya baru saja terpejam.


Ia kembali duduk di bibir tempat tidur dan mengusap layar ponselnya. Di situ ada nama "Mama" yang tertera.


"Halo, Bu!"


"Halo, Nak, maaf, mama ganggu kamu!"


"Ahh, mama..., nggak mengganggu, kok,"


"Jangan lupa ole-ole buat mama, yah!"


"Tenang Ma, nanti Yura belikan!"


Yura memutuskan sambungan telepon setelah mamanya selesai ngomong. Ia tersenyum dan meletakkan kembali ponselnya di meja lalu merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.


Sementara itu di lantai yang juga beralaskan karpet yang super tebal, Beni tidur terlentang dengan suara ngorok yang beraturan. Sebenarnya tempat tidur di kamar itu sangat cukup untuk dua orang dewasa tapi keduanya menghindari hal yang bisa saja terjadi jika tidak bisa mengendalikan diri. Keduanya masih bertahan untuk menjaga kesucian dan sudah sepakat untuk saling mempersembahkan di malam pertama setelah hari pernikahan yang tidak lama lagi akan dilangsungkan.


Yura kembali memenjamkan mata namun suara dengkuran kekasihnya sangat mengganggu namun untuk membangunkan, ia juga tidak tega. Akhirnya ia kembali meraih ponselnya dan membuka aplikasi Noveltoon lalu melanjutkan untuk membaca sebuah novel yang pengarangnya sangat ia favoritkan.


Setelah masuk pada bab berikutnya ia merasa air matanya meleleh di pipi karena membaca kisah yang sangat menyedihkan yang dialami oleh tokoh utama dalam novel tersebut dan tak lama kemudian suara dengkurannya pun terdengar.

__ADS_1


Yura terjaga setelah merasakan sesuatu menempel di bibirnya yang memberikan sensasi nikmat. Perlahan ia membuka mata dan rupanya sang kekasih sedang membangunkan dirinya dengan cara seperti itu.


"Maaf Sayang, Kakak mengganggumu!"


"Nggak masalah, kok,"


Mendengar jawaban Yura, Beni kembali mencium bibir yang tipis itu dan ********** dengan nikmat. Yura sampai memenjamkan mata menikmati ciuman panas dari kekasihnya itu hingga nafasnya tersengal lalu keduanya saling tatap sambil tersenyum.


"Ayo, kita sudah ditunggu oleh tuan rumah!" ajak Yura setelah membasuh wajahnya di kamar mandi dan mengeringkan dengan handuk.


Beni mengikuti Yura keluar dari kamar dan benar saja bahwa Eric dan Anna sudah menunggu dan siap berangkat.


"Kita berangkat sekarang biar pulangnya nanti nggak terlalu larut!" kata Eric.


"Oke," sahut Beni.


Mereka pun berangkat menggunakan mobil. Felyn dan Krisna tidak ikut dan Anna menitipkan mereka kepada bibi Ima, pembantu di rumah.


Mobil yang membawa mereka terus melaju dengan kecepatan sedang dan tujuan yang pertama adalah sebuah toko emas. Tadi Yura menyampaikan bahwa cincin pernikahannya akan dibeli di kota ini karena kwalitasnya sudah terkenal bagus.


Sudah lama barang tersebut selalu disebut-sebut oleh ibunya karena pernah melihat tas seorang ibu yang tinggal sekompleks dengannya dan tas itu sangat ia kagumi. Yura ingin membelinya sebagai ole-ole buat ibunya.


Eric mengurangi kecepatan mobilnya lalu mencari tempat parkiran yang aman.


Anna ikut turun bersama Yura dan berjalan beberapa meter ke toko tas. Mereka menggunakan masker karena banyak debu yang beterbangan.


"Mari Mbak, belanja tas, dijamin tasnya awet dan harganya juga terjangkau!" sapa si pemilik toko tersebut dengan ramah.


Anna sangat kaget melihat pemilik toko itu, ia hampir saja keceplosan. Dengan lincah ia menarik kaca mata hitamnya dari atas kepalanya dan memakainya lalu memperhatikan perempuan paru baya itu yang sedang serius menawarkan barang jualannya kepada Yura.


"Tidak salah lagi!" gumam Anna dalam hati. Ia pamit kepada Yura untuk buang air kecil di toilet yang ada di samping toko.

__ADS_1


Cepat-cepat ia mencari nomor seseorang yang bekerja di rumah sakit jiwa. Orang itu sering menghubunginya dulu.


"Apa benar ini Pak Robert?" tanya Anna dengan cepat.


"Iya, benar, ada apa, Bu?" tanya pak Rober yang sudah kenal baik dengan Anna.


Anna pun mencari informasi tentang perempuan yang perna ia bawa dulu ke rumah sakit itu karena sudah beberapa tahun terakhir ini ia tidak pernah mengunjunginya lagi tapi Anna selalu mengirim biaya ke sana ketika mendapat telepon lagi dari pihak rumah sakit jiwa.


Informasi terakhir yang sempat ia dengar dulu bahwa setelah keadaan Dewi mulai berangsur-angsur membaik, ia sering menanyakan, siapa yang telah membawanya ke tempat itu namun Anna berpesan kepada petugas agar merahasiakan identitasnya.


Pak Rober menceritakan kepada Anna bahwa pasien yang bernama Dewi itu sudah lama keluar dari tempat itu karena ia sudah sembuh dan juga ia sudah diajari keterampilan membuat tas dari tali kur.


"Ada apa Bu?" tanya pak Rober.


"Saya hanya mau memastikan bahwa pemilik toko tempat kami berbelanja saat ini adalah si Dewi,"


"Oh, yah, dia itu rutin datang berkunjung ke sini karena merasa sangat berhutang budi setelah dirawat selama dua tahun lebih lalu diajar dengan sebuah keterampilan dan sekarang ia sudah bisa menikmati hasil karya tangannya sendiri,"


Setelah semuanya jelas, Anna mengucapkan terima kasih lalu memutuskan sambungan teleponnya. Setelah itu Ia kembali menemui Yura di toko.


Yura masih sibuk memilih model yang cocok buat ibunya dan tak lupa ia juga ia memilih motif yang lain untuk Mak Desi, adik ayahnya.


Anna sengaja tidak melepas masker dan kaca mata yang dikenakan karena ia tidak mau dikenali oleh si pemilik toko dan rupanya ia juga tertarik untuk membeli tas tersebut yang akan dikirim ke ibunya.


Yura dan Anna juga masing-masing memilih tas yang berukuran kecil dan cocok untuk menyimpan ponsel. "


"Maaf Mbak, tokonya udah lama buka, ya?" tanya Anna.


"Kalau nggak salah, udah lima bulan," sahut Dewi.


"Maaf, kalau boleh tahu, dulu Mbak kursus di mana?"

__ADS_1


"Di rumah sakit,"


Sepertinya Dewi mengingat lagi masa lalunya sehingga matanya tampak berkaca-kaca.


__ADS_2