
Ibu Elma tampak gelisah menunggu suaminya karena sudah kurang lebih dua jam ia pergi untuk mengantar Dewi pulang ke rumahnya yang jaraknya bisa ditempuh dengan waktu lima belas menit saja dengan kendaraan bermotor.
Ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam perjalanan apalagi di malam hari, kadang kala ada anak-anak muda yang suka iseng dan mengganggu orang yang lewat.
Tidak lama kemudian bunyi motor memasuki halaman rumah membuat hati ibu Elma lega. Ia segera membuka pintu buat suaminya.
"Kenapa Mas lambat sekali pulang?" tanya ibu Elma cemas.
"Ehh, anu... tadi di jalan lagi macet," jawab pak Hendrik gugup dan gemetar.
Pak Hendrik buru-buru masuk ke dalam rumah untuk menghindari pertanyaan-pertanyan dari istrinya. Tiba di kamar ia segera mengganti pakainnya karena takut jika bau parfum Dewi yang melekat pada pakaian tersebut tercium oleh istrinya.
Setelah itu ia langsung berbaring dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Kejadian yang dialaminya seolah mimpi di siang bolong. Tanpa disadari ia senyum-senyum dan berharap dalam hati, suatu waktu pertemuan itu akan terulang lagi.
Ibu Elma masuk ke kamar dan memaklumi sikap suaminya yang sudah tidur berbalutkan selimut karena pikirnya ia sedang kedinginan setelah naik motor menembus angin malam yang dingin.
***
Sudah seminggu kepergian Anna ke kota B membuat Eric merasa sangat kehilangan dan hari ini ia sudah siap-siap untuk menjenguk istrinya. Perjalanan ke kota B butuh waktu sekitar lima sampai enam jam menggunakan kendaraan bermotor.
Eric tiba di kota B menjelang magrib. Kerinduannya langsung terobati setelah memeluk anaknya dengan erat. Sesudah itu ia masuk ke kamar untuk menemui istrinya.
Tubuh Anna semakin kurus dan wajahnya sangat pucat. Ia memaksakan diri untuk tersenyum ketika melihat suaminya muncul di pintu kamar dan setelah itu pandangannya lurus ke satu arah tanpa ekpresi. Eric memeluk dan menciuminya dengan deraian air mata.
Menurut ibu Nadia, Anna tidak pernah lagi bicara dan setelah dibawah ke dokter ahli penyakit dalam, dokter hanya mengatakan bahwa Anna mengalami depresi berat.
__ADS_1
"Apa kalian punya masalah dalam rumah tangga?" tanya ibu Nadia ketika duduk di ruang tengah bersama dengan menantunya.
Eric menunduk dan tidak tahu harus memberi jawab apa terhadap pertanyaan mertuanya. Ia yakin bahwa keberadaan Dewi sebagai tetangga dan juga sikap ibunya yang membuat Anna depresi.
"Nggak kok, Bu, kami baik-baik aja," sahut Eric. Ia menyembunyikan persoalan rumah tangganya.
"Kalau memang begitu, biarkanlah untuk sementara waktu kami tinggal di sini, nanti kalau sudah agak baikan kami akan menghubungimu!" ucap ibu Nadia.
"Iya Bu, terima kasih!" sahut Eric.
Usai makan malam, Eric masuk ke kamar menemui istrinya dan malam itu ibu Nadia membiarkan mereka bertiga di kamarnya bersama Felyn dengan harapan Anna mau terbuka dan mau membuka suara.
"Katakanlah Sayang, apa yang harus kulakukan agar kamu bisa sembuh dan bisa seperti dulu lagi, hidup bahagia bersamaku!" kata Eric sambil mengelus rambut Anna dengan penuh kasih sayang.
Anna tetap bungkam dan pandangannya lurus ke depan tanpa reaksi.
"Kalau memang Mas cinta dan masih peduli dengan saya serta anak kita maka tinggalkan pekerjaanmu dan kita pindah ke sini!" ujar Anna dengan pelan namun tegas.
Eric kaget mendengar permintaan istrinya karena tidak mungkin ia akan meninggalkan pekerjaanya. Kalau nanti ia keluar dari pekerjaan itu maka otomatis mereka tidak bisa lagi membayar cicilan rumah dan jika nantinya pindah ke kota B, apa yang bisa ia kerjakan? Semua ini muncul dalam pikirannya.
"Dugaanku ternyata benar bahwa mas tidak akan rela meninggalkan semua itu dan saya yakin tidak lama lagi ibumu akan menikahkanmu dengan Dewi. Waktu itu ibu ngomong bahwa Dewi sudah siap jadi istri kedua buat Mas tapi sebelum hal itu terjadi, tolong ceraikan saya dulu. Tidak usah khawatir, saya tidak akan menuntut harta benda sedikit pun!" ucap Anna lagi dengan linangan air mata.
"Jangan ngomong gitu Sayang, Mas tidak akan melakukan hal itu, percayalah padaku!" kata Eric sambil menghapus air mata istrinya yang terus mengalir di pipi dengan menggunakan tisyu.
"Selama Mas tinggal di sana, saya yakin ibumu akan nekat melakukan segala cara untuk bisa mewujudkan keinginannya meski Mas menolak sekalipun, tapi saya juga tidak bisa memaksamu. Lakukanlah sesuai dengan kata hatimu dan ingat, selama perempuan itu masih tinggal sebagai tetangga kita maka saya tidak akan pernah pulang ke sana!"
__ADS_1
Eric benar-benar bingung untuk mengambil keputusan. Ia menggenggan tangan istrinya yang kurus.
"Istirahatlah Mas, karena besok harus menempuh lagi perjalanan yang jauh dan tidak usah terbebani dengan ucapanku tadi. Tidak usah juga khawatir dengan keadaan saya dan Felyn karena kami akan baik-baik saja. Orang tuaku memang tak sekaya dengan keluarganya Dewi tapi setidaknya mereka masih mampu menampung dan memberi makan kepada kami berdua. Toh, juga nanti kalau saya sudah sembuh maka saya akan mencari pekerjaan!" ucap Anna membuat Eric tidak nyaman.
Tanpa kata ia berbaring di samping istrinya dengan pikiran yang kacau.
Segudang kata-kata ingin ia sampaikan kepada istrinya tapi ditahannya karena menurutnya tidak akan berfaedah. Lebih baik diam saja dulu agar masalah tidak semakin keruh.
Entah pukul berapa pada malam itu baru mata Eric bisa terpenjam. Demikian juga dengan Anna, bahkan selama sakit ia sangat sulit untuk tidur.
Keesokan harinya Eric bangun walau matanya masih terasa berat. Hari ini ia akan kembali lagi ke kota A karena tuntutan pekerjaan.
Sikap Anna kembali lagi seperti semula. Ia diam seribu bahasa dengan tatapan kosong bahkan ketika suaminya pamit mau pulang, ia sama sekali tidak merespon. Hal ini membuat Eric merasa berat untuk meninggalkannya.
Sebelum berangkat, Eric memberikan sejumlah uang kepada ibu mertuanya untuk membeli kebutuhan mereka dan juga biaya berobat untuk istrinya.
"Kamu yang sabar Nak, mudah-mudahan istrimu akan lekas sembuh!" kata pak Nico sambil menepuk-nepuk bahu anak mantunya.
"Terima kasih Pak, sudah merawat Anna dan Felyn, kalau ada apa-apa, hubungi saja saya!" ucap Eric.
"Iya Nak, jangan khawatir, kami akan selalu menjaga dan merawat mereka!" ujar pak Nico.
Eric memeluk dan menciumi anaknya berkali-kali sebelum menaiki kendaraannya.
"Kamu jangan nakal yah, Sayang... nanti Papa belikan mainan yang banyak kalau Papa ke sini lagi!"
__ADS_1
"Iya Pa, da...da... Papa!" ucap Felyn dengan suara yang menggemaskan.
"Dada anak pintar!" ucap Eric pula lalu melajukan kendaraannya.