MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
55. Segan dan Malu


__ADS_3

Hari ini Eric menjemput anaknya ke sekolah karena sekalian mau minta izin kepada gurunya. Rencana besok mereka akan berangkat ke kota B.


Felyn sangat senang ketika tahu tentang rencana ini. Ia melompat-lompat kegirangan karena sesungguhnya rasa rindu buat mamanya sudah tidak dapat ditahan lagi.


Pulang dari sekolah, Eric bersama anaknya tidak langsung pulang ke rumah tapi ia membelok kendaraannya ke toko mebel miliknya. Ayahnya sudah mempercayakan penuh usaha tersebut kepadanya.


Di sana terlihat karyawan bekerja seperti biasanya. Masing-masing melakukan pekerjaan yang sudah ditugaskan. Melihat bos yang datang, para karyawan semakin bersemangat untuk bekerja.


"Rencana besok saya akan berangkat ke kota B Pak, tolong awasi karyawan dan jaga toko!" pinta Eric kepada pak Jasmin.


"Siap Bos," ujar pak Jasmin sambil terkekeh.


"Ahh, Bapak...," Eric ikut tertawa karena merasa lucu dengan sebutan Bos yang diperuntukkan buat dirinya.


"Selamat tiba di tujuan dan jangan lupa bawa istrimu kalau pulang!"


"Amin!"


Eric menyerahkan catatan tentang ukuran lemari dan meja pesanan dari orang kepada pak Jasmin lalu bergegas pulang ke rumah karena Felyn sudah terlihat gelisah.


***


Sudah hampir magrib ketika mereka tiba di kota B. Pak Nico dan ibu Nadia yang sedang duduk-duduk santai di teras rumah heran ketika mobil berhenti di depan rumah. Kaca mobil tersebut semuanya tertutup dengan rapat sehingga tidak dapat melihat orang yang berada di dalamnya.


"Lihat, siapa yang datang, Mas!" kata ibu Nadia.


"Barangkali orang salah alamat," sahut pak Hendrik dengan santainya.


"Oma... Opa..., Felyn datang!" teriak Felyn dengan suara keras setelah turun dari mobil. Ia berlari dan menghambur ke pelukan omanya.


"Aduh... cucuku, dengan siapa kemari?" tanya ibu Nadia setelah melepaskan pelukannya karena Felyn mau beralih kepelukan opanya.

__ADS_1


Pertanyaan ibu Nadia belum dijawab oleh cucunya dan saat itu pula pak Hendrik bersama istrinya telah turun juga dari mobil. Ibu Nadia menyambut mereka dengan ramah.


"Mari, silahkan masuk!"


"Terima kasih,"


Pak Hendrik dan ibu Nadia duduk di sofa setelah berjabat tangan dengan kedua orang tua Anna.


"Mama Felyn di mana, Oma?" tanya Felyn yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibunya.


"Sedang menjual di toko, Sayang," sahut ibu Nadia.


"Bukannya kak Yura yang jaga toko di sore hari?" sanggah Felyn.


"Kak Yura izin, lagi les di sekolah soalnya ujiannya sudah semakin dekat," ibu Nadia menjelaskan.


Tanpa diperintah Felyn langsung berlari ke toko dan ia.sudah berpapasan dengan ibunya sebelum tiba di toko. Anna mendengar suara ribut-ribut membuat ia penasaran ingin tahu siapa yang datang. Kebetulan juga Yura sudah pulang dari sekolah sehingga Anna bisa meninggalkan toko.


Ibu dan anak itu saling berpelukan denga erat untuk melepaskan rasa rindu yang tak terkatakan.


Sementara itu Eric masih memarkir mobil di tempat yang aman tapi baik Anna maupun kedua orang tuanya menyangkah bahwa yang memarkir mobil adalah sopir pribadi mereka.


"Bagaimana dengan sekolahnya cucu kita di sana?" tanya pak Hendrik untuk mencairkan suasana setelah Anna pergi ke dapur untuk mengambil minuman segar.


"Syukurlah karena Felyn cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tak butuh waktu yang lama ia sudah akrab dengan teman-temannya.


"Terima kasih banyak sudah mengurus cucu kita!"


"Kami juga jarang bertemu di sana dan hanya sekali-kali kami mengunjuginya. Ayahnya-lah yang mengurus dia,"


Tak lama kemudian Eric muncul sambil menenteng kardus yang berisi dengan aneka kue sebagai pembuka pintu menurut orang tua zaman dulu.

__ADS_1


"Eh, Nak Eric, Ayah kira kamu nggak datang,"


Eric tersenyum lalu berjabat tangan mertuanya. Saat itu pula Anna muncul dari arah dapur dengan membawa nampan yang berisi minuman segar. Jantungnya serasa mau copot saat matanya beradu pandang dengan Eric membuat tubuhnya gemetar sehingga nampan yang dibawanya hampir terjatuh. Untunglah ia segera sadar dan bisa menguasai keadaan dan dengan cepat meletakkan minuman tersebut di atas meja.


Eric menunduk karena merasakan hal yang sama bahkan ia ingin sekali memeluk Anna tapi ada rasa segan dan malu.


Anna kembali ke belakang untuk mengambil kue namun hingga beberapa saat ia belum kembali juga. Ia duduk dengan perasaan yang tak menentu. Ada rasa senang dan malu yang bercampur menjadi satu, sementara dadanya masih bertalu-talu. Tatapan mata Eric yang walaupun hanya sebentar tapi telah mampu mengalirkan rasa sejuk hingga ke dalam kalbu.


"Anna, Anna! Mana kuenya?" teriak ibunya dari ruang tamu.


Anna baru sadar setelah mendengar teriakan ibunya. Bergegas ia membuka lemari dan mengambil toples yang berisi kue lalu membawanya ke ruang tamu.


Di mata Eric, Anna semakin cantik dan tubuhnya pun sangat terawat.


"Bagaimana dengan usahanya di sana, Pak?" tanya pak Nico basa-basi karena melihat suasana yang menegang.


"Yah, lumayan karena menurut orang kepercayaan saya, katanya rumah makan gak pernah sepi dari pengunjung apalagi setelah daftar menunya sudah di tambah lagi," sahut pak Hendrik.


Setelah itu suasana kembali hening karena semuanya merasa sungkan untuk berbicara, bingung mau mulai dari mana.


"Papa, kita akan nginap di sini 'kan?" tanya Felyn yang baru kembali dari toko untuk menemui Yura.


"Iya Sayang.... Opa, Oma, dan Papamu akan nginap di sini," jawab ibu Nadia mewakili karena melihat Eric tampak bingung dengan pertanyaan anaknya.


Felyn kembali berlari ke toko. Rupanya ia sedang bermain dengan Yura.


Setelah Felyn pergi ibu Nadia memerintahkan Anna untuk menyiapkan kamar buat mertuanya. Anna senang karena dari tadi ia ingin ke belakang tetapi tidak punya alasan yang tepat sehingga terpaksa ia duduk dengan perasaan yang gelisah.


Anna beranjak dari tempat duduknya lalu membersihkan kamar tamu. Ia mengganti seprei dan sarung bantal dengan yang baru serta menyapu lantai hingga bersih. Tak lupa juga ia menyiapkan selimut dan mengisi bak mandi dengan air.


Setelah semuanya beres ia ke dapur untuk membantu ibunya menyiapkan makan malam. Kebetulan di kulkas masih ada daging ayam dan juga sayuran segar yang dipetik kemarim tapi hanya stengahnya yang dimasak dan masih tersisa setengah. Ia pun mulai menyibukkan diri mencuci daging dan memberinya bumbu. Setelah itu ia membersihkan sayur lalu memasaknya.

__ADS_1


Entah dorongan apa yang ada di hati membuat Anna sangat bersemangat di dapur. Ia tidak menyadari bahwa ibunya sedang memperhatikan dirinya sejak dari tadi.


Sementara itu ibu Elma sudah diaarahkan ke kamar untuk mandi dan beristirahat sedangkan pak Hendrik bersama Eric masih berada di ruang tamu dan bercakap-cakap dengan pak Nico.


__ADS_2