MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
86. Berbeda Dengan Masa Lalu


__ADS_3

Ketika mereka sudah dekat ke toko, Anna berhenti di pinggir jalan membuat Susi heran karena setelah menengok ke kanan dan ke kiri, tidak ada toko tas yang tampak, yang ada adalah rumah warga yang berjejer dengan rapi.


"Kalau kita masuk ke toko nanti, tolong pasang kaca mata dan jangan buka masker!" kata Anna membuat Susi semakin bingung.


"Memangnya kenapa?" tanyanya.


"Nanti juga kamu akan ngerti. Yuk, kita udah hampir tiba!" ajak Anna.


Susi kembali duduk di boncengan sahabatnya dengan segudang pertanyaan sedang berputar di kepalanya, namun ia menahan diri untuk bertanya terus kepada sahabatnya.


Hanya beberapa menit keduanya tiba di halaman toko yang menjual tas dan sesuai dengan perintah sahabatnya, Susi memasang kacamata dan tidak mencabut maskernya walaupun sebenarnya ia sangat gerah.


Anna sengaja berpenampilan yang beda dari penampilannya yang biasa karena ia tidak mau bila pemilik toko tas mengenalinya. Hari ini ia sengaja memakai perhiasan emas dan juga mengenakan pakian yang super mewah, hadiah dari ibu mertua. Baju itu baru dipakai untuk kedua kalinya karena dianggap terlalu mewah. Pertama kali ia memakainya saat ada acara arisan para istri-istri pengusaha "Rumah Makan" dan kebetulan waktu itu giliran pertemuannya dilaksanakan di rumah makan milik mertuanya. Ibu Elma sedikit memaksa anak mantunya agar mau mengenakan baju tersebut lengkap dengan satu set perhiasan emas dan benar saja, sesuai dengan harapan ibu mertua, teman-temannya yang hadir sangat kagum ketika ia memperkenalkan anak mantunya dengan bangga.


Tadi, Susi juga sempat heran melihat penampilan sahabatnya tapi ia belum sempat memberi komentar karena mereka langsung berangkat setelah menitipkan anak pada bi Ima.


"Selamat pagi, selamat berbelanja di tokoku!" sapa Dewi dengan ramah.


Susi yang langsung mengenali siapa pemilik toko tersebut hampir saja keceplosan. Untung saja Anna sudah jaga-jaga sehingga ia mengeraskan suaranya dengan mengagumi sebuah tas yang tergantung di sampingnya sambil menarik tangan Susi, seolah-olah ia ingin memperlihatkan tas itu.


Kini Susi mengerti, mengapa Anna tadi menyuruhnya memasang kaca mata dan masker. Ternyata inilah jawabannya.


"Kalau ada hal yang hendak kamu tanyakan, tolong dipending dulu dan fokus saja untuk membeli!" bisik Anna.


Susi mengangguk lalu mengamati tas yang berjejer di dalam etalase dan sebagian juga ada yang digantung. Tersedia berbagai ukuran dan warna serta model membuat Susi jadi bingung juga untuk memilih.


"Bantu dong, milihnya!" pintanya kepada Anna.

__ADS_1


"Selera kita tuh, beda, nyesal nantinya kalau saya yang pilih," sahut Anna tanpa menoleh karena ia juga lagi sibuk memilih kira-kira mana lagi yang mau dibeli, masalahnya ia sudah punya dua di rumah yang dibeli beberapa hari yang lalu.


"Iya juga, sih, tapi masalahnya saya bingung soalnya semua model pada cantik-cantik,"


"Kalau bingung mau pilih yang mana, sekalian beli aja, semua!"


Susi terkekeh mendengar gurauan sahabatnya.


Sesekali Susi mencuri pandang ke arah Dewi yang sedang menyambut dan melayani pelanggan lain dan inilah yang membuat dirinya tidak fokus untuk memilih tas yang diingininya.


Ia melihat Dewi yang tampak sudah berubah, dilihat dari cara berpakaian dan cara ngomongnya. Sungguh berbeda dengan masa lalunya ketika ia masih doyan menjadi pelakor kelas kakap.


Pakaian yang dikenakan saat ini sangat sopan dan dandanannya juga tampak biasa saja. Aura kecantikannya masih jelas hanya terlihat sedikit lebih tua karena tubuhnya juga kurus.


Menurut kabar, pak Aril dan ibu Zena, orang tua Dewi sudah berhasil ditemukan setelah ia melakukan pencarian. Mereka dulu pergi meninggalkan kota tempat tinggal mereka dan pindah ke tempat lain karena selalu didatangi dan diteror oleh penagih utang.


Dewi menyadari bahwa kedua orang tuanya pergi karena ulahnya yang selalu ngutang sana-sini karena mau hidup enak dan mewah sehingga ia berupaya untuk mencari mereka setelah keluar dari rumah sakit jiwa dan juga sudah bisa hidup layak.


"Bagaimana, apa sudah dapat tasnya?" tanya Anna membuat Susi kaget.


"Ehh, eh... belum, nih," sahutnya gelagapan.


Perhatiannya tadi ke ruangan sebelah dalam, di mana kedua orang tua Dewi sedang membentangkan lalu menggulung tali kur dengan rapi. Tampaknya kedua orang tua itu sangat serius.


"Ini ada model baru, Mbak!" seru Dewi yang sudah berada di samping Susi dan di tangannya ada tas berwarna hitam yang dikombinasi dengan warna putih. Ukurannya sangat cocok untuk menyimpan ponsel dan dompet.


Susi meraih tas tersebut dari tangan Anna dan mencoba membuka untuk melihat bagian dalam.

__ADS_1


"Ok, terima kasih, saya beli yang ini aja, deh," ujar Susi.


Dewi berlalu meninggalkan Susi karena ada pelanggan yang berseru memanggilnya untuk menanyakan harga.


Susi pun menghampiri sahabatnya yang masih sedang mencari tas model lain pada hal di tangannya sudah ada dua buah.


"Udah selesai?" tanya Anna.


"Iya, kita pulang, yuk!' ajak Susi. Ia sudah tidak sabar ingin tahu tentang Dewi dari Anna karena ia yakin sahabatnya pasti sudah tahu karena bukan kali ini saja ia datang berbelanja di toko milik Dewi.


"Kok, belinya cuman satu?" tanya Anna dengan heran melihat Susi yang membawa tas hanya satu.


"Ini aja dulu, nanti lain kali kita ke sini lagi," sahutnya.


Anna mengambil lagi satu tas dengan model yang berbeda dengan yang ada di tangannya. Ia sengaja membeli tiga buah, satu untuk dirinya, satu buat ibu Lastri, dan satu lagi buat bi Ima.


"Kali ini, biar saya yang bayar!" tawarnya saat melihat Susi sedang membuka tasnya untuk mengambil uang.


"Nggak usah, saya juga punya uang, nih!" kata Susi.


Anna tidak memghiraukan perkataan sahabatnya. Ia buru-buru menanyakan harga kepada Dewi lalu membayar semuanya, termasuk punya Susi.


Tanpa sepengetahuan Anna, suaminya rutin mentransfer uang ke rekening miliknya dan tentu saja tidak semua terpakai kalau hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Awalnya Anna mengira setelah mengecek saldo dalam ATM-nya bahwa uang pemberian suaminya itu akan digunakan untuk membayar gaji pembantu tapi Eric mengatakan bahwa urusan gaji bi Ima adalah tanggung jawabnya.


Walaupun sebagian uang tersebut sudah ia gunakan untuk membeli pot dan bibit bunga tapi ternyata sisanya masih banyak. Itulah sebabnya ia ingin berbagi dengan sahabatnya.


Tak dapat dipungkiri bahwa sejak mereka akur kembali dalam rumah tangganya, usaha yang digeluti Eric semakin berkembang pesat dan secara otomatis penghasilannya pun semakin meningkat, namun hal ini tidak membuat mereka jadi tinggi hati tapi justru sabaliknya. Mereka sering membantu orang-orang yanga ada di sekitarnya yang sedang kesusahan.

__ADS_1


"Yuk, kita pulang!" ajak Anna.


Keduanya pun menuju ke parkiran lalu segera pulang, mengingat anak mereka yang ditinggal masih kecil dan butuh pengawasan ekstra.


__ADS_2