MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
41. Tidak Tega


__ADS_3

Beni datang ke kota B untuk meninjau lokasi milik orang tuanya karena rencananya ia akan membuka sebuah usaha. Dulu ketika mereka pindah ke Sumatera, orang tuanya hanya menjual rumah tapi lokasinya tidak karena sudah dipikirkan matang-matang bahwa sekali waktu mereka pasti akan membutuhkan.


Kemarin Beni sempat putus asa ketika tiba di lokasi tempat rumahnya dulu dan melihat rumah Anna dihuni oleh orang lain yang menurut informasi yang ia dapatkan, rumah itu sudah dikontrakan karena pemiliknya sudah pindah.


Tampak Beni sangat kecewa mendengar pengakuan dari Anna bahwa ia sudah menikah dan sudah punya anak tapi dalam hal ini tidak ada yang bisa disalahkan. Rasa itu tak pernah ada ketika mereka masih kecil dan bagi Beni juga ia heran dengan perasaannya yang akhir-akhir ini sangat merindukan sahabat masa kecilnya.


Dua tahun yang lalu Beni sangat trauma karena pesta pernikahannya dengan seorang gadis asli Sumatera telah dipersiapkan tiba-tiba datang kabar bahwa calon istrinya kecelakaan saat sedang bepergian dengan seorang laki-laki yang diduga adalah selingkuhannya. Sejak saat itu Beni merasa hidupnya hancur dan tak mau lagi mengenal yang namanya perempuan. Semua gadis-gadis dianggapnya sama dengan mantan kekasihnya yang lugu tapi berhati busuk.


Hampir dua jam Anna dan Beni berbincang di kedai sambil menikmati minuman dan gorengan hingga Felyn terlihat mengantuk karena waktu tidur siangnya sudah tiba.


"Kami pamit dulu!" kata Anna. Sebenarnya ia masih ingin bercengkrama dengan Beni tapi melihat wajah anaknya yang cemberut akhirnya ia pamit.


"Ok, silahkan, besok-besok kita ketemuan lagi!" sahut Beni.


Anna menggandeng tangan Felyn menuju ke parkiran lalu pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan ia selalu teringat dengan sikap Beni yang sangat peduli.


Sementara itu Beni masih menikmati kesendiriannya di kedai dan memesan lagi makanan. Ia merasa ada yang disembunyikan oleh Anna mengenai kehidupan rumah tanganya karena tadi ia tampak terbeban ketika menjelaskan tentang sosok suaminya.


Timbul dalam hati Beni untuk mengenal lebih jauh tentang kehidupan pribadi Anna dan setelah memperkirakan bahwa dia sudah tiba di rumah ia segera menghubunginya lewat nomor ponsel yang sempat disimpannya tadi.


"Halo!"


"Iya, halo juga!"


"Boleh nggak kita ketemuan besok atau nanti malam?"


"Buat apa?"


"Nggak usah khawatir, saya hanya belum puas ngobrol sama kamu, nanti saya kirim alamat!"


"Ok,"


Anna memilih untuk pergi memenuhi undangan Beni sebentar malam karena besok dia harus menjaga toko. Menjelang magrib ia sudah bersiap-siap. Baju kaos warna putih dengan celana jins warna biru melekat pas di tubuhnya.


Penampilan yang sangat sederhana untuk zaman sekarang tapi itulah kepribadian Anna yang tidak suka berlebihan. Memakai make up juga hanya dipoles dengan tipis-tipis saja.


Anna tidak menyadari jika dari tadi ibunya memperhatikan segala gerak-geriknya dan menimbulkan tanda tanya dalam hati.

__ADS_1


Ibu Nadia menemui suaminya yang sedang nonton TV di ruang tengah.


"Coba lihat anak kita, sepertinya dia hendak bepergian. Dari tadi dia mondar-mandir dan super sibuk!"


"Yah, nggak apa-apa kalau dia mau keluar, toh, dia bukan anak kecil lagi,"


"Tapi ini 'kan udah malam,"


Ibu Nadia tampak khawatir karena selama ini anaknya tidak pernah bepergian kalau bukan urusan barang jualan di toko dan perginya juga di siang hari.


"Pak, Bu, saya izin keluar sebentar!" kata Anna berpamitan.


"Mau ke mana malam-malam?" tanya ibu Nadia yang sudah dari tadi penasaran melihat Anna bersiap-siap.


"Mau ketemu sama teman," jawab Anna.


"Temannya itu, laki-laki atau perempuan?" tanya ibu Nadia lagi.


"Teman lama, Bu. Ibu masih ingat nggak sama Beni, anaknya ibu Neni tetangga kita dulu?"


"Beni, anaknya pak Elias?" celetuk pak Nico.


"Iya Ayah," sahut Anna.


"Sekarang Ibu sudah ingat, keluarga mereka dulu pindah ke Sumatera karena pak Elias dipindahtugaskan ke sana," kata ibu Nadia.


Sejenak mereka berbincang dan Anna menceritakan kronologi pertemuannya dengan Beni dan tak lupa juga ia mencritakan apa maksud kedatangan Beni ke kota B.


"Salam sama Beni dan ajak sekalian mampir ke rumah!" kata ibu Nadia ketika Anna pamit untuk kedua kalinya.


"Baik Bu," ujar Anna. Ia mengenakan jaketnya karena udara malam yang dingin.


Tiba di alamat yang dikirim oleh Beni tadi siang lewat aplikasi WhatsApp, Anna memarkirkan motornya lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari-cari keberadaan Beni.


"Terima kasih sudah datang!" kata Beni dari arah belakang membuat Anna hampir terlonjak karena kaget.


"Ahh, kamu ngagetin aja," seru Anna sambil mencubit lengan Beni dengan gemas.

__ADS_1


Beni tersenyum puas karena berhasil mengerjai sahabatnya. Tanpa rasa segan ia menggandeng tangan Anna lalu masuk ke restoran. Ia masih menyamakan dengan masa kecilnya dulu tanpa berpikir bahwa apa yang dilakukannya saat ini adalah hal yang tidak sewajarnya karena Anna sudah punya suami.


Keduanya langsung mengisi kursi yang masih kosong dan memilih menu pada daftar yang tersedia di meja.


"Salam dari ayah dan ibuku, mereka sangat berharap kamu bisa mampir ke rumah sebelum kembali ke Sumatera!" kata Anna sambil menunggu makanan yang sudah dipesan.


"Oh, ya, nanti saya usahakan," sahut Beni dengan senyum khasnya.


Ketika mereka sedang asyik menikmati makanan yang sudah tersaji di hadapannya tanpa disadari ada dua pasang mata yang mengawasi gerak-gerik mereka berdua.


Esty dan suaminya baru tiba dari Papua dan menyempatkan diri singgah di restoran ternama di kota itu untuk menimati makanan kesukaan suaminya.


Tak lama setelah keduanya masuk ke restoran tersebut, Esty langsung mengenali Anna, adik iparnya dan hampir saja ia meneriakinya karena menyangkah bahwa pria yang ditemani adalah Eric tapi setelah memperhatikan sacara saksama dan ternyata pria itu adalah orang lain maka niatnya diurungkan.


Ia meraih ponselnya lalu diarahkan kepada sasaran untuk mengambil gambar bahkan rekaman video pun juga berhasil dilakukan dengan aman.


Esty tidak mau memperlihatkan dirinya kepada Anna karena ia juga tahu cerita dari Erika, adiknya tentang keretakan rumah tangga Eric dan Anna.


Suasana di restoran tersebut sangat ramai sehingga para pengunjung hanya sibuk dengan pasangan atau parnernya saja.


"Kapan lagi suamimu akan pulang?" tanya Beni ketika mereka sudah selesai makan.


"Entahlah," sahut Anna sambil menghela nafasnya.


"Kok, jawabnya gitu sih, kalian lagi ada masalah?" tanya Beni yang sudah semakin penasaran.


"Nggak kok," sahut Anna dengan pandangan menerawang jauh.


"Maaf kalau saya ikut campur tapi kalau diperhatikan, kamu ini sedang tidak baik-baik saja dan kamu tidak bisa menyembunyikan dariku karena sejak tadi kita bertemu saya sudah tahu!"


"Ah, kamu bisa aja, saya baik-baik aja kok,"


Beni meraih jemari Anna dan meremasnya dengan lembut. Ia tidak tega melihat sahabatnya hidup dalam sebuah pergumulan.


"Saya tidak akan membiarkan kamu hidup menderita," ucap Beni dengan tatapan menyelidik. Ia ingin agar Anna mau berterus terang kepadanya.


Anna membiarkan jemarinya diremas oleh sahabatnya bahkan ia merasakan sebuah kehangatan mengalir ke seluruh tubuhnya dan momen tersebut terekam dengan sempurna pada ponsel milik Esty.

__ADS_1


__ADS_2