
Di ruang makan tampak pak Hendrik, ibu Elma, dan Felyn sudah menunggu. Sementara itu pak Darman dan istrinya masih bolak-balik mengambil makanan dari rumah makan. Erika turut membantu mereka.
Erika datang bersama Angga tadi setelah ayahnya menginformasikan bahwa mereka sudah tiba di rumah Eric.
Anna merasa risih melihat aneka makanan yang sudah terhidang di meja, apalagi tadi ia mendengar ayah mertuanya memesan makanan spesial untuk dirinya sebagai pendatang baru di rumah ini.
Lauk dan sayurnya terdiri atas beberapa macam. Anna berpikir bahwa mertuanya pasti akan mengeluarkan uang yang banyak untuk membayar harga makanan ini.
Setelah semuanya lengkap, ibu Elma memanggil pak Darman dan ibu Lastri agar bergabung dengan mereka untuk menikmati makan malam bersama.
Pak Hendrik membaca doa terlebih dahulu kemudian mempersilahkan mereka untuk makan.
"Anna, makan yang banyak yah, soalnya malam ini kamu menjadi tamu spesial kami!" kata ibu Elma sambil menyodorkan piring kepada mantunya.
Anna menganggukkan kepala dengan senyum tipis. Ia masih heran dengan perhatian yang diberikan oleh ibu mertuanya, sejak ia menjemputnya ke kota B hingga saat ini. Ada yang berubah bila dibanding dengan sikapnya di masa lalu yang tidak pernah akur dengannya bahkan mertuanya ini menginginkan agar Eric menceraikan dirinya. Bukankah seharusnya ia senang karena selama ini mantunya ini sudah pergi? Mengapa pula ia ikut menjemputnya? Apakah ini hanya sebuah kepura-puraan karena menginginkan sesuatu?
Demikianlah beberapa pertanyaan yang sedang memenuhi kepala Anna dan menjadi teka-teki yang belum terjawab.
"Felyn mau ayam goreng, Oma!" kata Felyn yang sudah tidak sabar karena dari tadi ia sudah lapar. Tadi ia malas makan ketika mereka singgah di sebuah rumah makan saat dalam perjalanan.
"Sini piringmu!" pinta Erika lalu meraih piring yang sudah berisi nasi putih dari tangan Felyn lalu menurunkan daging ayam krispy.
"Terima kasih Tante Erika!" ucap Felyn dengan senang.
Mereka pun menikmati makan malam dalam suasana kekeluargaan. Diam-diam Anna memperhatikan cara ibu mertuanya memperlakukan anggota keluarganya dengan penuh perhatian termasuk kepada dirinya sebagai mantu.
"Ayo, namba lagi, An, nggak usah malu-malu!" kata ibu Elma kepada Anna.
Anna yang memang masih lapar dan sangat menyukai hidangan malam ini menyendok lnasi ke piringnya lalu mengambil lauk dan sayur yang disukainya tanpa ada rasa malu.
__ADS_1
Suara sendok beradu terdengar beberapa saat hingga semuanya berhenti karena sudah kenyang.
Pak Darman dan ibu Lastri segera berpamitan saat selesai makan.
"Mari kita santai sejenak!" ajak ibu Elma.
"Maaf Bu, kami harus bekerja keras malam ini karena ada yang pesan makanan sebanyak seribu kotak untuk acaranya besok siang!" sahut ibu Lastri.
"Bagaimana dengan karyawan, apakah perlu ditambah lagi?" tanya pak Hendrik.
Anna semakin heran mendengar pertanyaan mertuanya yang mengurusi karyawan segala.
"Iya Pak, mungkin sebentar kita bisa bicarakan," jawab pak Darman.
Rumah makan mereka makin terkenal sehingga setiap hari ada peningkatan jumlah pengunjung dan selama dua pekan terakhir ini ada beberapa instansi dari sekolah-sekolah dan kantor yang memesan makanan untuk kegiatan rapat.
Mungkin karena masakan mereka yang enak dan juga selalu mengutamakan kebersihan sehingga makin hari makin laris saja.
Sementara itu Angga menemani Felyn di ruang tengah untuk menonton acara TV. Keduanya tampak akrab karena Angga memang sangat suka dengan anak-anak. Mungkin karena ia adalah anak tunggal.
Pak Hendrik dan ibu Elma pergi ke rumah makan untuk memantau karyawan yang sedang bekerja. Usai membicarakan beberapa hal sehubungan dengan rencana ke depannya, termasuk penambahan karyawan dan menu yang bisa menarik pelanggan untuk berkunjung, mereka pamit kepada Eric dan Anna untuk pulang ke rumah.
Begitu pula dengan Erika dan Angga, keduanya pamit kepada tuan rumah dan sekaligus minta izin kepada ayah dan ibunya untuk tidak langsung pulang ke rumah karena mereka ingin membeli sesuatu.
Felyn tampak kecewa karena ia masih ingin bermain bersama Angga.
"Besok-besok Kakak datang ke sini lagi yah, sekarang harus pulang soalnya mau ngerjain tugas dari sekolah," bujuk Angga dengan lembut.
"Kakak janji yah!" ujar Felyn.
__ADS_1
Angga menganggukkan kepala untuk meyakinkan Felyn.
"Pulangnya jangan sampai tengah malam!" kata ibu Elma mengingatkan Erika dan Angga yang sudah bersia untuk berangkat.
"Siap, Bu," sahut Erika sambil tersenyum.
Ia naik ke boncengan Angga. Keduanya tampak senang karena mendapat izin untuk pergi berduaan. Ingin membeli sesuatu adalah alasan semata karena intinya adalah ingin pergi bersenang-senang sambil menikmati udara malam yang dingin. Motornya melaju meningalkan pekarangan rumah lalu menghilang ditelan kegelapan malam.
Lampu kendaraan dan lampu jalan yang menghiasi sepanjang jalan menjadi pemandangan yang indah di malam hari.
Eric bersama istri dan anaknya masuk ke dalam rumah setelah ayah dan ibunya pergi. Tak lupa ia mengunci pintu karena sudah malam dan mereka ingin beristirahat.
Anna menemani Felyn di kamarnya karena anaknya itu minta dibacakan cerita dongeng sebelum tidur. Ceritanya baru pertengahan tapi suara ngorok Felyn sudah terdengar. Perjalanan tadi dari kota B membuat tubuhnya letih sehingga cepat tertidur. Anna menyelimuti anaknya menggunakan selimut yang berbulu halus lalu pelan-pelan turun dari tempat tidur menuju ke kamar di mana sang suami sedang menunggu dengan tidak sabar.
"Felyn udah tidur, Sayang?"
"Iya Mas,"
"Sepertinya anak itu ngerti kalau ayah dan ibunya mau merayakan malam ini sebagai malam yang istimewa," ucap Eric sambil terkekeh.
"Ahh... Mas ada-ada aja," kata Anna tersipu malu.
Ia mengganti pakaiannya dan mengenakan baju yang sudah disiapkan oleh suaminya. Dres halus, lembut, dan tipis berwarna putih telah melekat di tubuhnya. Katanya Eric memesan dres tersebut melalui aplikasi shopee ketika sudah ada rencana untuk menjemputnya ke kota B.
Anna berdiri di depan cermin dan memandangi tubuhnya yang tampak seksi dengan dres yang dikenakannya saat ini. Eric yang juga hanya mengenakan baju dalam berwarna putih dan celana boxer datang menghampiri dan memeluknya dari belakang.
"Mas sangat merindukanmu, Sayang," ucap Eric sambil mencium punggung istrinya dengan lembut.
Bulu kuduk Anna merinding seketika saat sentuhan demi sentuhan dari Eric mulai dilancarkan.
__ADS_1
"Saya juga sangat merindukanmu, Mas," sahut Anna sambil membalikkan tubuhnya dan menengadah ke wajah sang suami. Eric segera mendaratkan ciumannya di bibir yang ranum itu dan ********** dengan pelan.