MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
11. Jatuh Sakit


__ADS_3

Pagi ini ibu Elma berencana datang ke rumah anaknya. Ia memperkirakan akan tiba di sana setelah Eric pergi ke kantor.


Jam mengajarnya di sekolah juga hari ini kosong di pagi hari. Nanti setelah jam istirahat baru ada jamnya di kelas XII A.


"Ehh, Ibu, mari masuk!" ajak Anna dengan sikap biasa saja. Ia sudah menerka bahwa pasti ada lagi rencana busuknya.


"Bagaimana dengan permintaan saya kemarin, apakah kamu bersedia menceraikan anak saya?" tanya ibu Elma tanpa basa-basi bahkan ia tetap berdiri di ambang pintu. Ia tidak memperdulikan Felyn yang datang menghampirinya.


Mata Anna berkaca-kaca mendengar ucapan ibu mertuanya.


"Kalau memang kamu merasa berat, Dewi siap jadi istri kedua buat Eric dan dalam waktu dekat ini mereka akan segera menikah," ucap ibu Elma lagi dengan santainya.


Usai mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan buat Anna, ibu Elma langsung pergi ke rumah kontrakan Dewi.


Dewi sudah menunggunya dengan senyum lebar. Seperti biasa ia sudah memesan kue karena tahu bahwa Tante Elma akan singgah di rumahnya sebelum ke sekolah. Semalam ibu Elma sudah mengiriminya chat sebelum berangkat.


"Apa lagi rencana kita selanjutnya?" tanya Dewi sambil menyeruput teh hangat.


Ibu Elma lalu menceritakan apa yang sudah ia sampaikan kepada Anna. Dewi sangat senang mendengarnya. Kemudian keduanya menyusun rencana selanjutnya.


Sementara itu Anna berurai air mata. Ia ingin mengadu, tapi mau mengadu sama siapa. Eric tidak akan percaya bahwa ibunya tega berbuat seperti itu.


Walau perut keroncongan, Anna tidak bisa menelan makanan. Lehernya seperti dicekik dan hal ini sudah berlangsung sejak ia menerima telepon dari ibu mertua yang memintanya untuk menceraikan suaminya.


Dalam keadaan yang lemas ia masih mampu menjawab pertanyaan suaminya ketika pulang dari kantor. Eric kaget mendengar ucapan istrinya. Ia berniat menelepon ibunya untuk menayakan secara langsung namun baru saja ia mencari nomor ibunya pada daftar kontak di ponselnya tiba-tiba Dewi pingsan.


Eric sangat panik melihat istrinya tergeletak tidak sadarkan diri. Ia berteriak-teriak minta tolong kepada tetangga.


"Ada apa?" tanya pak Alan tetangga mereka yang segera datang menghampiri ketika mendengar suara teriakan minta tolong.

__ADS_1


"Istriku... istriku sakit, ayo bantu saya membawanya ke rumah sakit!" sahut Eric dengan panik.


"Mau pakai mobil siapa? Atau Bapak sudah menghubungi pihak rumah sakit?" tanya pak Alan yang juga ikut bingung.


"Ada apa ini?" tanya Dewi yang datang menghampiri karena mendengar suara ribut-ribut.


"Istrinya Eric pingsan dan mau dibawa ke rumah sakit," sahut pak Alan.


"Silahkan pakai mobil saya!" tawar Dewi yang langsung paham duduk persolan.


Pak Alan dan Eric mengangkat tubuh Anna dan Dewi mendekatkan mobilnya ke teras rumah. Setelah itu pak Alan menggendong Felyn dan Eric memegangi istrinya dengan pahanya sebagai bantal.


Hanya butuh waktu beberapa menit saja mobil sudah tiba di rumah sakit. Perawat langsung menangani Anna yang sampai saat ini belum sadar juga.


Dewi membujuk Felyn agar mau tinggal di ruang tunggu karena papanya harus mendampingi sang istri.


Setelah mendapat penanganan, dokter menyatakan bahwa Anna harus rawat inap untuk mendapatkann perawatan yang lebih intensif.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Anna mulai membuka matanya. Ia sudah sadar. Ia mengedarkan pandangannya dalam ruangan yang tampak serba putih dan menyadari bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit. Gerakannya sangat terbatas karena ada selang infus yang terpasang pada tangannya.


"Mana Felyn?" tanya Anna dengan suara lemah.


"Ehhh, kamu udah sadar Sayang? Tadi Felyn sudah pulang ke rumah bersama ibu," sahut Eric. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa anak mereka sekarang sedang bersama Dewi.


Tadi dokter sudah menyampaikan kepada Eric bahwa istrinya sakit karena stres, ada suatu hal yang tidak bisa ia pecahkan membuat nafsu makannya hilang sehingga ia menderita karena asam lambungnya naik.


Eric sangat paham bahwa pasti keberadaan Dewi serta teror dari ibu yang membuat istrinya seperti ini.


"Kamu istirahat saja sulu Sayang, nggak usah kepikiran sama Felyn, dia baik-baik aja kok. Nih, baru aja saya telepon ibu dan dia bilang Felyn sedang asyik bermain!" kata Eric.

__ADS_1


Air mata Anna mengalir dan membasahi bantal. Pikirannya semakin kacau mengingat dirinya yang sudah tidak berdaya dan harus lagi berpisah dengan putrinya.


Eric juga tampak gelisah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini.


"Ting!" ponselnya berdering.


Eric langsung memeriksa dan muncullah beberapa foto Felyn bersama Dewi yang sedang berselfi-selfi. Sekilas ia menoleh kepada istrinya yang masih beruraian air mata. Hatinya sangat iba melihat kondisi Anna yang sangat lemah dan pipinya tampak cekung karena berat badannya turun drastis. Ia mendekati lalu mengelus-elus kepalanya dengan lembut.


Mendapat perlakuan lembut dari suaminya, hati Anna semakin teriris. Air matanya malah semakin deras mengingat pergumulan hidupnya.


Seorang suster datang ke kamar untuk mengantar makanan membuat aktifitas Eric berhenti. Ia menerima makanan tersebut dan meletakkan di meja.


"Ayo buka mulut, Sayang!" kata Eric yang sudah siap dengan sendok di tangannya.


"Ayolah, nanti kamu tambah sakit loh kalau nggak ada makanan yang turun di perutmu!" ucap Eric lagi karena Anna tidak meresponnya.


Mengingat anaknya, Anna terpaksa membuka mulutnya. Hanya tiga suap yang bisa ditelan. Ia menggeleng ketika Eric masih mengarahkan sendok ke mulutnya.


Hati Eric lega, setidaknya sudah ada sedikit makanan yang mengisi perut istrinya. Ia menyimpan makanan yang sisa itu di meja lalu mengarahkan pipet ke mulutnya agar minum air putih yang hangat.


Setelah minum sedikit air putih, Anna mencoba untuk tidur dengan menutup mata tapi pikirannya jauh melayang. Suaminya menyangkah bahwa ia sedang tidur. Ia pun keluar sebentar untuk membeli makanan dan membawanya ke kamar karena khawatir jika lama-lama meninggalkan istrinya sendirian.


Baru saja ia membuka kotak yang berisi makanan tiba-tiba Anna gelisah dan muntah-muntah. Ia segera mengurusnya, memberi air minum lalu mamanggil suster untuk memeriksa kondisinya.


"Ibu harus makan sedikit demi sedikit karena lambungnya tidak boleh kosong. Kapan lambungnya kosong maka sudah pasti ia akan mual dan muntah!" kata perawat dengan serius.


"Iya, terima kasih sarannya, suster!" ucap Eric.


Setelah Anna merasa tenang, Eric kembali menyuapinya dengan sabar namun sama seperti sebelumnya, hanya beberapa kali suap saja ia sudah menolak karena perasaannya kurang enak. Eric hanya mampu menghembuskan nafas dengan berat.

__ADS_1


Malam itu Eric menjaga istrinya dengan setia meskipun beberapa kali Dewi menghubunginya tapi ia mengabaikan.


Setelah memastikan bahwa istrinya sudah tertidur, ia keluar dan menelepon ibunya untuk menyampaikan apa yang sedang dialami oleh Anna dan berharap agar besok pagi ibunya bersedia datang ke rumah Dewi untuk menjemput cucunya.


__ADS_2