MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
36. Terharu


__ADS_3

*Eric hampir saja menabrak tubuh ayahnya yang berdiri tepat di depan pintu kamar dan tanpa kata ia menggandeng tangannya menuju ke tempat pembaringan ibunya.


Melihat kedatangan suaminya, air mata ibu Elma mengalir deras. Entah apa yang kini ia rasakan. Dugaannya selama ini bahwa suaminya pasti sudah jadi gelandangan namun yang ada di depan mata saat ini adalah seorang pria paru baya yang segar dan terawat.


"Maafkan saya, Bu!" ucap pak Hendrik sambil bersimpuh di bawah lantai. Ia meraih tangan kurus istrinya dan menggenggam dengan erat.


Air mata ibu Elma makin deras. Tangannya ikut menggenggam tangan suaminya sambil menganggukkan kepala. Kini ia sadar setelah merenungi perjalanan hidupnya bahwa penghianatan dari suaminya adalah akibat dari dosa-dosanya sendiri terhadap Eric dan Anna.


"Justru saya yang mau minta maaf, Mas... tolong maafkan saya!" kata ibu Elma setelah air matanya mulai reda.


Eric dan Erika sangat terharu menyaksikan peristiwa itu dan momen tersebut tak luput dari rekaman video pada ponsel Erika lalu mengirimnya juga kepada Esty, kakaknya yang ada di Papua.


Erika yakin bahwa kakaknya juga akan merasa senang dan lega jika tahu bahwa kedua orang tuanya sudah baikan.


Eric mengajak adiknya untuk keluar dan membiarkan ayah dan ibunya berduaan di kamar. Eric duduk di bangku panjang yang ada di luar lalu merogoh saku bajunya untuk mengambil ponsel.


Ia sangat terkejut melihat enam panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal. "Astaga, ini pasti panggilan dari ayah mertua," gumamnya dalam hati.


Eric melakukan panggilan ulang ke nomor tersebut tapi hingga tiga kali pangilan berturut turut, tetap tidak ada respon membuat Eric jadi putus asa. Pikirnya, mungkin ayah mertuanya sudah kecewa lantaran panggilannya tadi tidak digubris sehingga giliran mendapat telepon balik, ia pun berbuat yang sama.


"Nak, ibu memanggilmu!" seru pak Hendrik yang muncul di balik pintu kamar.


Eric berdiri dan masuk ke kamar mengikuti ayahnya. Tampak wajah ibunya yang sudah mulai cerah walaupun tubuh masih terlihat lemas.


"Ada apa, Bu?" tanya Eric sambil mendekat ke tempat pembaringan ibunya.


"Tolong jemput istri dan anakmu sekarang!" pinta ibu Elma.


Eric terdiam mendengar ucapan ibunya.

__ADS_1


"Ayolah, Ibu ingin minta maaf kepadanya!" kata ibu Elma lagi penuh harap.


"Iya Bu, tapi ini sudah hampir sore. Besok pagi aja saya akan berangkat ke kota B, mudah-mudahan Anna dan Felyn masih mau memaafkan kita dan bersedia untuk bersatu kembali dengan keluarga kita," ujar Eric dengan ragu.


"Jangan putus asa Nak, kita harus berusaha dulu dan berjuang untuk kebaikan kamu dan keluarga kecilmu bahkan demi keutuhan keluarga besar kita!" kata pak Hendrik menyemangati anaknya.


"Terima kasih atas dukungannya, Pak!" sahut Eric.


Pak Hendrik dan ibu Elma tersenyum mendengar ucapan Eric. Ada rasa bahagia yang dirasakan oleh pak Hendrik melihat istrinya yang sudah bisa tersenyum.


"Tok, tok, tok!" suara pintu kamar diketuk oleh seseorang.


Eric bergegas membuka dan tampak Erika muncul di pintu sambil membawa makanan. Tadi ayahnya sempat menyuruh dia ke warung untuk mengambil makanan.


"Bagaimana keadaan di warung, Nak?" tanya pak Hendrik.


"Sangat ramai Ayah, tadi pak Darman memintaku untuk melayani para pembeli karena ia merasa sangat kewalahan dengan banyaknya pengunjung," jawab Erika.


Ia patuh ketika Erika hendak menyuapinya sebelum makan obat sesuai dengan saran dari dokter. Hanya beberapa kali suap saja, Erika terpaksa berhenti karena ibunya memuntahkan kembali apa yang sudah ditelannya.


Perawat segera datang memeriksa keadaan ibu Elma setelah dipanggil oleh Eric.


"Ibu nggak boleh diberi makanan dalam porsi yang banyak. Sebaiknya sedikit demi sedikit tapi sering !" kata perawat sambil mengganti cairan infus karena sudah hampir habis pada botol yang pertama dipasang tadi.


"Baiklah," ucap Erika.


Tak lama setelah minum obat, ibu Elma tertidur dengan pulas. Mungkin karena pengaruh obat sehingga ia bisa tertidur dengan pulas.


Menjelang magrib pak Hendrik dan Eric pulang ke rumah untuk mandi karena mereka akan bergantian menjaga pasien.

__ADS_1


***


Pagi ini wajah Felyn tampak cemberut karena ini adalah hari perpisahan di sekolah tapi yang ditunggu-tunggu tidak muncul padahal beberapa hari yang lalu ia sangat senang mendengar bahwa opa akan berusaha agar ayahnya bisa datang untuk menghadiri acara perpisahan di sekolah.


Anna juga terlihat sibuk sejak bangun tadi pagi. Ia memakaikan pakaian adat pada tubuh mungil anaknya lalu memoles wajahnya dengan make up sederhana.


Felyn sudah cantik dengan pakaian adat dan polesan bedak tapi wajahnya cemberut. Tak ada senyum di sana dan tatapannya datar. Hati Anna sangat sedih melihat anaknya yang tidak bersemagat tapi mau berbuat apa lagi.


Semalam ia punya keinginan untuk menghubungi Eric setelah ia mencatat nomor ponselnya yang dikirim oleh Susi tapi ayahnya melarang keras karena sudah terlanjur kecewa ketika beberapa panggilannya tidak digubris oleh Eric.


"Bersiaplah An, nih Ayah udah siap dari tadi!"


Anna terhenyak dari lamunannya. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Felyn di sekolah nanti jika melihat teman-temannya datang dengan disampingi oleh ayah dan ibunya.


"Buruan dong, nanti kita terlambat!" seru pak Nico dengan nada suara agak keras kaena melihat Anna yang kurang bersemangat.


"Oh, iya ," sahut Anna gelagapan. Ia masuk ke kamar dan mengganti pakainnya karena tadi pagi ia sudah mandi.


Anna tampak anggun memakai stelan semi jas. Ia mirip dengan wanita yang kerja di kantor. Melihat bayangan dirinya di cermin, ia tersenyum lalu keluar mendapati ayahnya serta Felyn yang sudah menunggu di teras.


"Senyum dong, Sayang! Cucu Oma nggak boleh cemberut, entar cantiknya hilang lho!" ucap ibu Nadia yang datang menghampiri mereka.


Felyn cuek dengan ucapan Omanya, bahkan ia seolah-olah tidak mendengarnya.


"Lihat tuh, Opa udah ganteng bangat dan semangat karena mau nganterin cucunya yang paling cantik!" kata ibu Nadia lagi.


"Pokoknya saya mau diantar sama ayah, bukan Opa!" seru Felyn dengan suara keras karena emosi. Matanya sudah mulai berkaca-kaca membuat Anna oma, opa dan Anna panik.


"Yah udah, ayo kita berangkat sekarang!" ajak pak Nico lalu bergegas mengeluarkan motornya.

__ADS_1


"Kami jalan dulu, Bu!" Anna berpamitan kepada ibunya. Ia menggandeng tangan anaknya lalu mengjampiri ayahnya yang sudah siap dengan kendaraannya.


"Hati-hati di jalan!" ucap ibu Nadia.


__ADS_2