
Ibu Nadia berteriak histeris ketika masuk ke kamar untuk membawakan makanan buat Anna dan mendapati anaknya itu sedang tak sadarkan diri sementara ponsel miliknya masih menyala di sampingnya.
"Ada apa Bu?" tanya pak Nico yang segera datang menghampiri istrinya ke kamar setelah mendengar suara teriakan.
"Tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar Pak!" seru ibu Nadia panik.
Ia memberi pijatan pada kening anaknya dan menggosok tubuhnya menggunakan minyak kayu putih yang telah dibawa suaminya.
Pak Nico meraih ponsel Anna karena mendengar suara dari benda tersebut lalu mengusap layarnya.
"Astaga... pasti ini yang membuat anak kita pingsan!" katanya dengan geram.
"Ada apa, Pak?" tanya ibu Elma penasaran.
Anna menggeliat setelah mencium bau minyak kayu putih. Air matanya mengalir di pipi mengingat pesan dan video serta foto-foto yang dikirim oleh ibu mertuanya melalui aplikasi WhatsApp pada ponselnya.
"Syukurlah Nak, kamu sudah sadar!" ucap ibu Nadia.
Ia meraih segelas air putih yang masih hangat dan memberikan kepada Anna yang sudah duduk dan bersandar pada dinding tempat tidur dengan bantal sebagai pengalas.
"Sekarang Papa tahu, kamu sakit karena masalah ini 'kan?" ucap pak Nico sambil mengarahkan layar ponsel ke arah Anna.
"Astaga, jadi Eric sudah menikah dengan perempuan lain? Pantas aja ia diam saja ketika saya bertanya tentang rumah tangganya ketika ia datang membesuk istrinya tempo hari!" ujar ibu Nadia. Ia mengambil ponsel tersebut lalu membaca chat yang dikirim oleh ibunya Eric.
__ADS_1
Dengan wajah memerah menahan emosi, ia keluar dari kamar anaknya menuju ke ruang tengah untuk mencari ponselnya.
"Tidak usah basa-basi, sekarang juga buat surat cerai secara resmi karena terus terang kami selaku orang tuanya Anna tidak ingin bila anak kami punya madu. Kenapa kamu tidak terus terang kepada kami bahwa kamu sudah punya istri kedua? Anak kami pasti akan segera sembuh jika kamu melepaskan dia secara resmi!" kata ibu Nadia dengan suara setengah teriak setelah ponselnya tersambung dengan ponsel Eric.
"Apa maksud Ibu ngomong begitu? Saya nggak ngerti!" sahut Eric karena kaget dan terkejut.
"Nggak usah bersandiwara, ibumu sudah memberitahukan semuanya kepada Anna!" kata ibu Nadia lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Tak lupa ia meneruskan ke ponsel Eric semua pesan, foto, dan video yang dikirim oleh ibunya tadi lalu kembali ke kamar untuk menemui Anna.
"Nggak usah ditangisi lagi An, kalau memang suamimu telah memilih jalan tersebut. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, jadi mulai sekarang kamu harus belajar untuk melupakan dia dan fokuslah dengan anakmu. Felyn butuh kasih sayang dan perhatianmu!" kata ibu Nadia untuk menghibur anaknya.
"Iya, benar kata ibumu, kamu harus bangkit dan buktikan kepada mereka bahwa kamu juga bisa. Banyak kantor-kantor yang butuh pekerja sepertimu dan saya yakin lambat laun kamu akan bisa melupakan si Eric itu jika kamu sudah sibuk dengan pekerjaan!" sambung pak Nico.
Ia pun menghubungi pak Hendrik dan memintanya agar segera mengurus perceraian antara Eric dan Anna. Pak Hendrik hanya melongo ketika mendengar perkataan pak Nico yang tegas karena ia tidak tahu bahwa istrinya sudah senekat itu, ingin menikahkan Eric dengan Dewi.
Pak Nico juga menelepon ibu Elma dan menyampaikan hal yang yang sama seperti ia sampaikan kepada pak Hendrik lalu memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu respon balik. Ia kesal karena merasa dipermainkan oleh mereka. Setelah itu ia kembali ke kamar Anna, mengambil ponselnya lalu mengeluarkan kartu yang ada di dalamnya.
Pak Hendrik tidak mau jika keluarga Eric terus mengganggu kehidupan anaknya. Ia sendiri telah memblokir nomor ponsel mereka dan tak lupa juga ia menyuruh istrinya untuk melakukan hal yang sama.
***
Setelah Eric pulang dari kantor, ia mencoba menghubungi ponsel istrinya tapi tidak bisa terhubung lalu ia mengirim chat tapi tetap sama. Nomor yang dituju sedang tidak dapat dihubungi. Ia memberanikan diri untuk menghubungi nomor ponsel mertuanya tapi dua-duanya juga tidak bisa tersambung membuat Eric pusing.
__ADS_1
Dengan gusar ia meraih jaketnya yang tergantung di dinding kamar lalu pergi ke rumah orang tuanya.
Dalam perjalanan ia sudah merangkai kata-kata yang akan disampaikan kepada ibunya sebagai protes karena tidak setuju dengan niatnya untuk memisahkan dirinya dengan Anna.
Belum juga ia berkata-kata saat tiba di rumah orang tuanya, ibunya sudah lebih dulu berkata-kata dengan memutar-balikkan fakta. Ibu Elma sudah menduga bahwa Eric pasti akan datang ke rumah sehubungan dengan pesan dan foto-foto serta video yang dikirim kepada Anna sehingga ia mencari akal agar Eric tidak marah kepadanya.
"Tadi mertuamu menghubungi kami lewat telepon dan mengatakan bahwa Anna sudah tidak mau menjadi istrimu. Katanya ia ingin agar kita segera mengurus surat cerai secepatnya karena sebetulnya ia tidak bahagia bersamamu bahkan ia telah menuduh bahwa kita telah menggunakakan ilmu hitam yang membuat Anna sakit. Kami sebagai orang tuamu sangat tersinggung dengan tuduhan mertuamu itu dan sebaiknya kamu nggak usah lagi peduli sama istrimu, apalagi mau menengoknya ke sana karena tadi pak Nico juga mengancam kami untuk melakukan perhitungan dengan kamu jika kamu masih berani untuk menemui anak mereka!" kata ibu Elma panjang lebar.
"Iya Nak, tadi pak Nico dan ibu Nadia memaki-maki saya dan mengamcamku juga jika kita sampai menunda-nunda untuk mengurus perceraianmu dengan anak mereka," sambung pak Hendrik untuk menambahkan perkataan istrinya.
Keduanya sangat yakin bahwa anak mereka akan percaya dengan semua itu.
"Oh, ya, trus apa yang Ibu sudah sampaikan kepada Anna tadi pagi? Bukankah itu yang memancing kemarahan mertuaku?" tanya Eric dengan wajah memerah.
"Ibu nggak pernah menghubungi Anna," sahut ibu Elma gugup.
Eric membuka ponselnya lalu mengarahkan layarnya kepada ibunya. Di situ ada foto- foto yang ia kirim kepada Anna tadi pagi. Ibu Elma tidak bisa lagi mengelak karena apa yang diperlihatkan oleh Eric adalah bukti nyata bahwa benar dialah pelakunya.
"Saya sudah tahu maksud Ibu sehingga tega menghancurkan rumah tanggaku tapi saya akan tetap mempertahankan apa yang benar sekalipun nyawaku yang akan jadi taruhannya," ucap Eric lalu keluar dari rumah orang tuanya meninggalkan ayah dan ibunya yang kebingungan.
Pak Hendrik dan ibu Elma tidak menyangkah bahwa cinta Eric kepada Anna benar-benar kuat. Namun bagi pak Hendrik, kenyataan ini membuatnya senang karena dengan begitu ia akan terus bisa punya kesempatan untuk mendekati Dewi karena sesungguhnya Eric adalah saingan terberatnya. Ia pun mengulum senyum dan berlalu meninggalkan istrinya yang masih bingung.
Ibu Elma menghempaskan tubuhnya yang berat ke sofa. Ia tak habis pikir dengan sikap Eric yang telah menutup diri buat Dewi, mantan kekasihnya. Dewi sangat cantik dan punya body yang seksi, dia seorang wanit karir, walaupun punya banyak uang tapi ia masih mau bekerja. Sangat berbeda dengan Anna yang setiap harinya hanya berkutat dengan pekerjaan di rumah dan sama sekali tidak punya penghasilan. Ia hanya mengharapkan gaji dari suaminya.
__ADS_1
Ia membandingkan juga dengan dirinya yang setiap bulan dapat gaji tapi masih saja selalu kekurangan padahal sang suami juga punya bisnis yang pendapatannya jauh lebih besar dibanding dengan penghasilannya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil.