MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
74. Merasa Tersinggung


__ADS_3

Hari sudah gelap ketika Johan tiba di rumah. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi dengan perasaan sedikit lega setelah menyelesaikan urusannya dengan Dewi. Tiba-tiba ia teringat kepada Susi. Apakah ia baik-baik saja? Tadi ia pergi meninggalkan kekasihnya itu yang masih dalam kondisi belum stabil.


Gegas ia meraih ponselnya lalu menghubungi Susi namun tidak dapat tersambung. Berbagai dugaan muncul dalam pikirannya membuat ia gelisah.


Ia pun beranjak dari tempat duduknya lalu meraih kunci motor yang tergantung di dinding pada paku yang memang dikhususkan sebagai tempat menyimpan kunci motor untuk memudahkan ketika akan bepergian.


Tiba di kost Susi, ia kaget karena mendengar suara ribut-ribut dari dalam. Tergesa ia masuk dan mendapati Anna memeluk Susi yang sedang menangis sesenggukan sedangkan Eric dan Felyn duduk di lantai karena kamar itu berukuran kecil.


"Ada apa? Apakah Susi baik-baik saja?" tanya Johan dengan panik.


"Tadi Susi menghubungiku lewat ponsel dan belum sempat ngomong tiba-tiba sambungan terputus dan kami langsung menuju ke sini karena khawatir terjadi sesuatu dan benar dugaan kami, Susi kami temukan dalam keadaan pingsan," tutur Anna. Ia pikir sahabatnya pingsan karena terlalu lelah setelah pulang berbelanja dari pusat toko, melihat barang-barang belanjaan yang masih berserakan di lantai dan juga sebagian ada di tempat tidur.


"Terima kasih atas bantuannya!" ucap Johan.


Johan tertunduk, ia sangat terbebani dengan keonaran yang dibuat oleh Dewi dan ia sudah bisa memastikan bahwa Susi pingsan lagi gara-gara Dewi mengaku hamil dan meminta tanggung jawab dari pria yang sudah berjanji untuk segera menikahi dirinya.


"Ada apa denganmu? Kenapa terlihat prustasi? Bukankah besok kalian akan berangkat ke kota Baru?" tanya Eric yang menangkap ada sesuatu yang tidak beres dari sikap Johan.


Beberapa saat Johan terdiam. Ia melihat Susi yang sudah melepaskan diri dari pelukan Anna tapi matanya masih terus berair. Rupanya ia begitu syok setelah mendengar pengakuan dari Dewi, mantan kekasih Johan.


Setelah berpikir, Johan lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi hari ini dan hati Susi sedikit lega setelah mendengar bahwa urusannya dengan Dewi sudah kelar

__ADS_1


"Semoga tidak ada lagi korban berikutnya!" ucap Eric dengan kesal mengingat Dewi yang juga merupakan mantan kekasihnya bahkan cinta pertamanya.


"Yah... sebenarnya tergantung kepada laki-laki juga sih, kalau mereka menghargai dan mencintai pasangannya dengan tulus maka godaan apa pun dari seorang wanita tidak akan membuatnya terpengaruh lalu tergiur," tutur Anna.


Mendengar penuturan Anna, wajah Eric dan Johan sama-sama memerah. Ucapan Anna yang bijaksana seolah menusuk kalbu dan membuat keduanya merasa tersinggung. Mau marah tapi tidak punya dasar dan alasan karena apa yang diucapkan oleh Anna benar adanya.


"Rasakan sekarang!" kata Susi dalam hati. Ia senang melihat Johan mati kutu.


Sementara itu Anna terlihat santai saja karena ia tidak pernah tahu bahwa suaminya juga sempat terpengaruh dengan bujuk-rayu yang dilancarkan oleh Dewi waktu itu bahkan hampir juga terjerumus namun waktu itu ia masih bisa menahan diri sehingga cepat sadar dan menghindar.


"Kalian jadi berangkat besok 'kan?" tanya Anna setelah melihat kondisi Susi yang sudah membaik.


"Om Johan sama Tante Susi yang mau berangkat ke kota Baru, Sayang," sahut Anna sambil tersenyum.


"Ohhh, kirain mau ke rumah oma dan opa," ucap Felyn.


"Sabar, nanti kalau Felyn udah libur baru kita ke sana soalnya Mama juga sudah rindu sama oma dan opa!" kata Anna membuat Felyn melonjak kegirangan.


Mereka tersenyum melihat tingkah Felyn dan reaksinya itu mampu mencairkan suasana yang tadinya sempat menegang.


"Jangan lupa ajak Tante juga yah!"

__ADS_1


"Iya Tante, tapi Papa harus beli mobil dulu soalnya Felyn nggak suka naik mobil penumpang, sesak dan panas,"


Felyn tiba-tiba saja ingat waktu ia datang mememui ayahnya. Mereka waktu itu naik bus yang mengangkut penumpang termasuk dirinya bersama dengan sang kakek dan ia sangat gelisah karena kepanasan.


Eric dan Anna saling berpandangan mendengar ucapan Felyn. Mungkin ia sempat mendengar mereka saat iseng-iseng membicarakan soal mobil. Namanya juga anak kecil.


"Kalau Tante Susi ikut, Om juga nggak mau ketinggalan,"


"Boleh kok, Om dan Tante ikut tapi harus bayar!" ujar Felyn dengan serius membuat mereka melepas tawa.


Mereka masih bercengkrama ketika pelayan di rumah makan pak Hendrik datang mengantar makanan. Tanpa sepengetahuan yang lain, tadi Eric diam-diam memesan makanan sebanyak lima porsi melalui aplikasi WhatsApp dan minta diantar ke tempat kost Susi.


Berita tentang pernikahan Susi dan Johan juga sudah sampai ke telinga para karyawan yang bekerja di rumah makan dan mereka secara patungan memberikan sumbangan yang disatukan dalam amplop.


Pelayan yang datang mengantar makanan ditugaskan temannya untuk menyerahkan amplop tersebut kepada Susi, mengingat tidak ada waktu lagi karena besok Susi sudah berencana untuk pulang.


"Tolong diterima, ala kadarnya!"


"Ahh, kalian repot-repot segala, terima kasih yah!"


"Sama-sama."

__ADS_1


__ADS_2