MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
40. Teman Masa Kecil


__ADS_3

Selama hari libur, Felyn tidak pernah menikmatinya dengan baik. Hari-hari dilalui dengan penantian yang tak pasti. Menanti sosok sang ayah akan datang menjemputnya sesuai dengan janji yang sudah diucapkan ketika datang menghadiri hari perpisahan di sekolah.


"Ayo kita sarapan dulu, Nak!" ajak Anna. Pagi ini ia akan menemani anaknya berbelanja kelengkapan untuk masuk ke Sekolah Dasar.


Tanpa menjawab, Felyn menuju ke meja makan. Ia sangat malas makan sehingga hanya dua sendok saja yang bisa ia paksakan untuk ditelan.


Anna sudah tahu penyebabnya namun ia juga merasa gengsi untuk menghubungi Eric. Pak Nico, ayah Anna juga melarang siapa pun untuk menghubungi Eric karena menurutnya, jika Eric memang seorang pria yang bertanggung-jawab maka ia akan datang menjemput istri dan anaknya tanpa harus dipanggil.


Felyn sudah berubah menjadi anak yang pendiam dan cepat sekali tersinggung. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar dengan mencoret-coret di buku. Setiap kali Yura datang mengajaknya untuk bermain, ia selalu beralasan bahwa ia sedang mengantuk. Yura juga sudah tidak berani lagi menghubungi Eric karena diancam oleh pak Nico dan tentu saja ia tidak mau kehilangan pekerjaan sebagai penjaga toko.


Sudah beberapa kali Eric menelepon dan mengirim chat kepada Yura tapi ia mengabaikan saja dan tidak pernah menyampaikan hal itu kepada Anna.


Setelah selesai sarapan, Anna pamit kepada orang tuanya untuk keluar berbelanja keperluan sekolah anaknya.


Tiba di pusat perbelanjaan, Anna bertanya kepada anakanya tentang barang yang disukai tapi tak satu kalipun Felyn bersuara. Semua pertanyaan ibunya hanya direspon dengan gerakan bahu sehingga Anna tidak bisa mengartikan, anaknya suka atau tidak dengan barang-barang yang diperlihatkan kepadanya.


Sementara ia sibuk memilih tas sekolah, tiba-tiba bahunya ditepuk oleh seseorang yang membuatnya kaget. Ia menoleh ke belakang dan tampaklah seorang pria yang mengenakan jaket berwarna cokelat, celana jins hitam, topi hitam kombinasi putih, dan memakai masker.


Anna memperhatikan dengan saksama tapi ia sama sekali tidak mengenali pria tersebut.


"Ayo tebak, siapa aku?" ucap pria tersebut dengan tatapan mata yang teduh dan bersahabat.


"Maaf, saya tidak mengenal Anda!" sahut Anna dengan heran karena setahunya ia tidak pernah mengenal pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Nggak apa-apa kalau udah nggak kenal, silahkan belanja dulu, nanti saya akan mengajakmu istirahat di kedai yang ada di seberang jalan itu!" kata pria itu sambil menunjuk ke kedai yang dimaksud.

__ADS_1


Anna kembali memilih tas yang dianggap cocok buat Felyn walau dengan hati yang masih penasaran dengan pria yang sok akrab dengannya. Sementara itu, pria tadi masih berdiri di belakang dan terus memperhatikan Anna dengan serius.


Usai berbelanja, pria itu mengajak mereka ke kedai yang ada di seberang jalan dan tanpa diminta ia meraih barang belanjaan dari tangan Anna dan membawanya.


Anna masih ragu tapi melihat sikap pria yang sopan itu akhirnya ia menggandeng tangan Felyn lalu mengikutinya dari belakang.


"Jangan kamu katakan bahwa bocah ini adalah anakmu, dia pasti adalah ponakan, iya 'kan?" kata pria itu setelah mereka duduk menghadap satu meja.


"Maaf sebelumnya, ini adalah anak saya, namanya Felyn!" kata Anna dengan serius.


"Anna... Anna, kamu itu nggak pernah berubah yah, dari kecil selalu saja membuatku nggak tenang,"


"Maksud Anda?"


"Nana... Nana...," ucap pria itu lagi sambil geleng-geleng kepala dan tatapannya tak lepas dari wajah Anna yang semakin gelisah karena penasaran.


"Tunggu dulu, kamu pasti Randy... , Beni..., atau Gayus!" seru Anna dengan semangat. Ia berusaha mengingat masa kecilnya yang selalu ditemani oleh tiga nama tadi yang sudah ia sebut. Maklum, di kompleks mereka dulu hanya dirinyalah anak perempuan dan ketiga teman prianya itu yang selalu bersama-sama dengannya hingga mereka tamat Sekolah Dasar.


"Nggak boleh sebut tiga nama sekaligus, harus sebut satu saja!" goda pria itu lagi.


Anna masih sibuk mengingat-ingat teman masa kecilnya dan mencocokkan dengan ciri-ciri pria yang ada di hadapannya saat ini. Sementara itu pelayan sudah datang membawa minuman yang dipesan dan diletakkan di meja.


Felyn yang sudah merasa haus langsung meraih minuman dingin tersebut dan menikmatinya. Ia sama sekali tidak menghiraukan percakapan antara ibunya dengan pria itu yang asing baginya.


"Pasti tidak salah, kamu adalah Beni, iya 'kan?" tebak Anna setelah meneguk jus jeruk yang membuat kerongkongannya terasa sejuk.

__ADS_1


"Seratus buat Nana yang cantik dan ayu!" kata Beni sambil bertepuk tangan. Ia membuka maskernya lalu tersenyum manis. Senyum yang tidak pernah berubah sejak dari kecil, senyum yang tulus yang pernah dirasakan oleh Anna ketika Randy dan Gayus mengganggunya maka Beni akan datang menolongnya. Setiap hari mereka berempat selalu tampak bermain bersama namun kadang ada hal yang membuat mereka berselisih bahkan kadang berakhir dengan pertengkaran hingga tak saling ngomong antara satu dengan yang lainnya namun tidak cukup satu jam mereka tampak akur kembali.


Tanpa sadar keduanya berpelukan untuk melepas rasa rindu meski beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka tapi keduanya tidak peduli.


Setelah tamat Sekolah Dasar, orang tua Beni pindah ke Sumatera karena ayahnya ditugaskan di sana dan sebagai seorang ASN tentunya selalu patuh dengan peraturan pemerintah dan sejak saat itu mereka tidak pernah lagi bertemu.


"Apa kabar kamu sekarang?" tanya Anna melepaskan pelukannya.


"Seperti yang kamu lihat," sahut Beny melebarkan senyumnya.


Anna ikut tersenyum dan kagum melihat sahabatnya yang sudah banyak berubah. Kini tubuhnya tidak kurus kerempeng lagi tapi sudah tegap dan berisi.


"Ayo Nak, kenalan sama sahabat Mama!" kata Anna membuat alis Beni berkerut.


"Kamu serius, dia anak kamu?" tanya Beni tak percaya.


Anna mengangguk membuat wajah Beni berubah. Ia tampak sangat kecewa karena sangkahnya Anna masih single seperti dirinya.


"Kamu sedang main-main 'kan?" tanya Beni lagi yang masih berharap bahwa bocah yang sedang bersana Anna saat ini adalah ponakannya.


Selama ini ia sering bermimpi tentang Anna dan dari mimpi-mimpinya itu menimbulkan rasa rindu yang membuat dirinya nekat datang ke kota ini untuk mencarinya.


"Bagaimana dengan kamu, apa sudah punya anak juga?" tanya Anna.


"Istri aja belum, apalagi anak," sahut Beni dengan senyum yang dipaksakan.

__ADS_1


Anna terperangah karena tidsk percaya dengan ucapan sahabatnya. Suasana hening beberapa saat dan masing-masing sibuk dengan pikirannya.


__ADS_2