MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
85. Dia Sudah Berubah


__ADS_3

Pagi ini, Eric mengajak istrinya toko mm mebel. Anna sangat senang karena ia bisa bertemu lagi dengan Susi, sahabatnya dan sekalian nyalon.


Tiba di sana Eric menemui pak Jasmin sedangkan Anna langsung ke tempat tinggal Susi. Bangunan itu agak kecil tapi mereka sudah menjadikan sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggal.


Kamar tidur hanya satu, dan dapurnya sekaligus dijadikan ruang makan. Bagian depan sudah ditata khusus untuk usaha "salon".


"Tumben kemari pagi-pagi," sapa Susi menyambut kedatangan sahabatnya.


"Iya, lagi bete di rumah!" sahut Anna.


Kenzo juga sangat senang melihat Krisna datang ke rumahnya. Keduanya seperti saja orang dewasa yang saling merindukan.


Susi membongkar mainan Kenzo di ruang depan dan menyuruhnya bermain bersama dengan Krisna.


Setelah mereka asyik bermain Anna meminta kepada Susi untuk merapikan rambutnya yang sudah enam bulan terakhir ini tidak pernah diberi vitamin.


"Ngomong-ngomong, beli tasnya di mana?" tanya Susi. Ia tertarik dengan tas milik Anna.


"Kamu mau juga?" tanya Anna.


"Iya, cantik bangat, pasti harganya mahal,"


"Nggak kok, harganya sangat terjangkau dan kalau kamu mau, saya bisa antar ke tokonya!"


Susi senang dengan ucapan sahabatnya. Ia ingin sekali membeli tas yang mirip dengan milik Anna. Dua hari yang lalu ada banyak pelanggan yang datang ke tempatnya untuk di make up karena ada acara pernikahan. Susi bahkan harus bangun pada pukul tiga dini hari karena takutnya tidak sempat menyelesaikan pekerjaan untuk mempercantik para pelanggannya.


Sekarang dompetnya lagi tebal dan ia juga ingin membeli sesuatu tanpa harus menadahkan tangan kepada sang suami. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi ingin segera jalan-jalan bareng sahabatnya.


"Kapan kita mau jalan-jalan ke toko buat beli tas?" tanya Susi setelah mengeringkan rambut sahabatnya.


"Kalau saya sih, kapan-kapan aja," sahut Anna sambil memandangi wajahnya yang sedikit berubah dengan potongan rambut yang berbeda.

__ADS_1


"Besok pagi, boleh?"


Anna menganggukan kepala tanda setuju.


Mereka lalu bersantai dan mengobrol sambil mengawasi Krisna dan Kenzo yang sedang asyik bermain mobil-mobilan.


Anna sudah memberitahukan kepada suaminya agar tidak buru-buru pulang ke rumah karena ia ingin memuaskan hati Krisna untuk bermain dengan teman sebayanya. Maklum, di kompleks tempat tinggal mereka tidak ada anak-anak yang sebaya dengan Krisna jadi ia hanya bermain dengan Felyn dan Vasya.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan sikap suamimu selama ini, apa ia masih mengekangmu?" tanya Anna.


"Saya sangat bersyukur karena ia sudah berubah. Mungkin karena saya pernah mengancam dia bahwa jika sifatnya itu tidak bisa ia tinggalkan maka perceraian akan terjadi," sahut Susi.


Anna mempertanyakan soal tersebut karena Susi pernah curhat lantaran tidak kuat dengan sikap Johan yang melarangnya untuk bergaul dengan orang lain, bahkan tetangga sekali pun.


"Syukurlah kalau dia sudah insaf, mudah-mudahan kalian selalu bahagia,"


"Amin!"


Para karyawan juga senang jika sekali-kali mendapat rezeki seperti itu. Mereka berkumpul di sebuah ruangan lalu makan bersama.


Pak Jasmin adalah karyawan yang paling senior dan para karyawan lainnya sudah menganggap dia sebagai orang tua dan seiring dengan perkembangan usaha mebel ini, Eric telah memberikan keringanan kepadanya dengan mengurangi job kerja yang selama ini menjadi tugasnya, mengingat umur semakin bertambah tua dan tenaga juga sudah tidak sekuat yang dulu. Namun Eric tidak mengurangi gajinya, malah ia tidak segan membantu jika bapak itu punya keperluan.


Seperti beberapa waktu yang lalu, pak Jasmin minta pinjaman buat istrinya yang berjualan kue. Jualan kue adalah pekerjaan yang sudah lama ditekuni oleh istrinya dengan berjalan mengelilingi komleks-kompleks perumahan setiap harinya. Ia harus bangun subuh untuk membuat kue dan berangkat pagi-pagi sekali untuk menjajakannya.


Usia yang semakin tua memaksanya untuk berjualan di rumah saja karena semangat tak pernah pudar untuk terus berjualan kue dan mereka butuh uang untuk membuat kios di depan rumah, karena itulah ia meminta pinjaman kepada Eric.


Sebenarnya mereka punya anak yang tersebar di beberapa kota karena tuntutan pekerjaan dan juga ada di antara mereka yang ikut suami, namun keduanya tidak pernah meminta sesuatupun kepada anak-anaknya karena pikirnya mereka juga sudah punya keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.


"Kami pamit dulu!" kata Eric kepada para karyawan.


"Oke, hati-hati di jalan!" sahut pak Jasmin mewakili.

__ADS_1


Susi juga segera kembali ke rumahnya karena ada pelanggan yang datang, katanya mau nyalon buat ke acara nikahan teman.


Para karyawan juga kembali melanjutkan pekerjaannya di bawah pengawasan pak Jasmin. Kadang kala juga pak Jasmin memberikan tugas tersebut kepada Johan jika ada urusan lain yang harus ia tangani.


Keesokan harinya Susi tampak semangat menyiapakan semua kebutuhan suaminya karena ia berencana mau keluar rumah dan semalam ia sudah memberitahukan rencana tersebut.


"Kami berangkat dulu, Mas!" pamit Susi. Ia sudah memesan grab yang akan membawanya ke rumah Anna.


"Iya Sayang, hati-hati di jalan dan pulangnya jangan sampai larut!" ujar Johan sambil mencium pipi Kenzo. Ia juga sudah siap dengan pakaian kerjanya.


Susi tersenyum. Ia merasa geli dengan ucapan suaminya karena tidak mungkin juga ia akan pergi dan pulangnya sampai larut malam, apalagi sambil membawa anak kecil.


Tiba di rumah Anna, Susi turun dan rupanya sahabatnya itu juga sudah menunggu dan siap berangkat. Mereka mau jalan menggunakan motor sehingga Krisna dan Kenzo dititip sama bibi Ima.


"Bibi nggak usah ngerjain pekerjaan yang lain yah, sampai kami pulang, jadi fokus aja jagain kedua bocah ini. Ingat, jangan sampai lengah!" ucap Anna kepada pembantunya sebelum berangkat.


"Baik, Bu!" jawab bibi Ima penuh hormat.


Setelah mereka pergi, Bibi Ima menggandeng tangan kedua bocah yang usianya belum cukup dua tahun dan masuk ke dalam rumah. Krisna di sebelah kanan dan Kenzo di sebelah kiri. Bi Ima mengeluarkan mainan milik Krisna dari box besar dan membiarkan kedua anak itu memilih sendiri mainan yang disukai. Tak lupa ia menutup pintu rumah dan menguncinya.


"Ini punyaku!" seru Krisna dengan keras sambil merampas pistol mainan dari tangan Kenzo.


"Eh, eh, nggak boleh gitu, Nak, ayo kita main mobil-mobil aja, yah!" bujuk bi Ima dengan lembut karena melihat mata Kenzo sudah berkaca-kaca.


Krisna menggeleng dan mengarahkan pistol mainannya ke tubuh Kenzo membuat anak itu berlari ke dekat bi Ima.


"Ngenggg... ngenggg...," bi Ima menirukan suara mobil.


Krisna meletakkan pistol mainanya dan mengambil mobil-mobil lalu menyodorkan kepada Kenzo.


Hati bi Ima jadi lega melihat kedua bocah itu sudah akur dan bermain mobil-mobilan.

__ADS_1


__ADS_2