
Ibu Arlin terus memaksa Dewi dengan bentakan agar mau buka mulut dengan bentakan hingga si pelakor itu mengaku dengan jujur membuat ibu Arlin menangis histeris.
"Awas Mas, saya akan membuat perhitungan denganmu, keluar sekarang! Saya tahu kamu ada di dalam!" teriak ibu Arlin.
Para tetangga yang mendengar ada keributan pun datang ke tempat kejadian perkara tanpa diundang, termasuk pak Hendrik dan ibu Elma yang adalah tetangga paling dekat.
"Heyy warga, hati-hati dengan perempuan ini, ia adalah seorang pelakor!" teriak ibu Erlin ketika melihat banyak warga yang datang menyaksikan keributan di rumahnya.
Melihat Dewi menundukkan kepala, ibu Erlin memegang dagunya dan mendongakkan ke atas sehingga wajah perempuan itu terlihat jelas.
"Dia lagi, dia lagi...," ucap ibu Elma dengan pelan tapi ucapannya didengar oleh ibu Erlin.
"Maaf, Ibu kenal dengan perempuan ini?"
"Perempuan itu juga yang sudah merusak rumah tanggaku,"
Wajah pak Hendrik memerah karena semua mata beralih menatap dirinya.
"Ohh, jadi dia memang sudah terbiasa... pantas aja suamiku ikut jadi korban,"
Ibu Erlin masuk ke rumah dan mengancam suaminya jika tidak mau keluar maka ia akan meminta bantuan warga untuk menyeretnya. Akhirnya pak Gideon keluar dengan wajah memerah karena malu. Ia pun dipaksa istrinya untuk mengakui perbuatannya sebagai hukuman pertama.
Angga merasa sangat malu dengan kejadian ini. Ingin rasanya menghilang saja apalagi setelah melihat Erika, kekasihnya juga ada di antara kerumunan warga.
Ibu Erlin memaki-maki suaminya dan juga Dewi di hadapan para warga. Ia merasa sangat puas setelah mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam hatinya karena sebenarnya ia sudah menaruh curiga terhadap sikap suaminya akhir-akhir ini. Belanja bulanan yang ia terima dari suaminya setiap bulan selalu berkurang, selain itu suaminya juga selalu berpenampilan yang berbeda dari biasanya.
Satu per satu warga mulai bubar karena sengatan panas matahari dan ada juga yang membubarkan diri karena sudah berhasil mengambil gambar bahkan video yang akan dijadikan bahan gosip yang bakalan viral di dunia maya.
Angga sudah lebih dulu menyelinap pergi dan masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu. Ia merebakan tubuhnya yang lelah di kasur yang empuk dengan pikiran yang kacau. Harusnya saat ini ia bersenang-senang karena telah melewati lagi satu jenjang pendidikan tapi semuanya jadi kacau karena perbuatan ayahnya yang seolah menguliti tubuhnya hidup-hidup.
"Ting!"
__ADS_1
Angga meraih ponselnya dengan malas dan membuka pesan yang masuk di aplikasi WhatsApp.
(Jalan-jalan, yuk!) pesan dari Erika.
Erika sengaja mengajak Angga untuk refresing karena ia tahu pasti bahwa saat ini kekasihnya sedang galau.
Angga berpikir sejenak dan akhirnya menyetujui ajakan kekasihnya, dari pada stres di rumah lebih baik pergi cari angin di luar.
(Ok, tunggu, saya siap-siap dulu!) Angga mengirim balasan kepada Erika lalu segera berkemas.
Di ruang tamu, ayah dan ibunya masih beradu mulut. Kini ayahnya sudah berani angkat bicara setelah warga bubar dan Dewi juga sudah pulang ke rumahnya.
Angga menutup telinga dengan kedua tangannya ketika melewati ruang tamu.
"Hay, mau ke mana kamu?" seru ibunya dengan nada keras.
Angga tahu, pasti ibunya masih dalam keadaan emosi sehingga dirinya pun kena batunya.
Ia tergesa keluar dari rumah yang hawanya terasa panas dan menghampiri Erika yang sudah menunggu di jalan.
"Kita mau ke mana?"
"Ke mana aja yang penting heppy,"
Dalam perjalanan tiba-tiba Erika punya ide untuk singgah terlebih dahulu di rumah makan milik ayahnya. Tadi ia tidak sempat mengisi perutnya di acara perpisahan karena terlalu asyik berfose ria bersama teman-temannya.
"Kita ke rumah kak Eric dulu!" kata Erika.
Angga membelok motornya sesuai keinginan Erika. Tiba di sana Erika langsung mengajaknya ke rumah makan karena perutnya sudah keroncongan. Begitu pula dengan Angga, ia juga belum makan siang.
Karyawan menyapa Erika dan Angga dengan ramah karena mereka sudah kenal baik.
__ADS_1
Seperti biasa, Erika terjun langsung ke dapur untuk mengambil sendiri makanan yang disukainya. Dari dulu ia tidak mau merepotkan karyawan walaupun sudah ditawari agar duduk saja menunggu untuk dilayani oleh mereka.
Angga lebih banyak diam karena pikirannya masih terganggu oleh peristiwa yang terjadi di rumahnya. Ia menyibukkan diri dengan ponselnya sambil menunggu Erika.
"Astaga!" desisnya ketika melihat video yang sedang beredar di media sosial. Wajahnya merah padam dan ingin rasanya pergi bersembunyi.
Video tentang kejadian di rumahnya tadi sudah viral larena ada oknum yang sengaja mengapload dan membagikan ke beberapa grup dan lebih fatal lagi, wajah Angga ikut terpampang nyata di dalam, sedang memegangi pergelangan tangan si pelakor.
"Kita makan di sebelah aja!" ajak Angga ketika Erika datang membawa makanan. Tanpa menunggu reaksi dari Erika, Angga langsung berdiri dan tergesa-gesa keluar. Ia merasa tatapan orang-orang yang berada di rumah makan sedang menghakimi dirinya.
Erika mengikutinya saja karena ia pikir kekasihnya lagi stres.
Sementara itu Eric dan Anna juga sedang membahas video yang sedang viral di media sosial.
"Dia lagi, dia lagi, bikin onar saja," ucap Eric.
"Ada apa, Kak?" tanya Erika.
"Ehh, kalian... nggak ada apa-apa, kok," sahut Eric dengan gugup karena melihat Erika datang bersama Angga. Tadi Eric melihat dengan jelas ada wajah Angga yang muncul dalam video tersebut.
Angga memaksakan diri untuk tersenyum sebagai bentuk sapaannya kepada tuan rumah .
"Numpang makan dulu, Kak!" ujar Erika.
"Silahkan!" sahut Anna sambil tersenyum.
Setelah Erika dan Angga menghilang di balik kain gorden, Eric menghampiri istrinya dan memutar kembali video yang lagi viral sambil menunjukkan wajah Angga yang ada di dalamnya.
Anna hampir berteriak karena kaget tapi ia segera menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Jangan-jangan, orang tuanya Angga yang jadi korban lagi," katanya setengah berbisik.
__ADS_1
"Bisa jadi," ucap Eric.