
Susi memgeluarkan ponsel dari tasnya ketika jam istirhat telah tiba. Ia penasaran melihat ada dua panggilan tak terjawab dari nomor baru. "Jangan-jangan Johan yang menghubungi menggunakan nomor baru," gumamnya dalam hati.
Ia memeriksa aplikasi yang lain jangan sampai ada chat dari kekasihnya tapi ternyata kosong. Ia pun mencoba menghubungi nomor yang telah melakukan panggilan tadi.
"Halo!" sapanya dengan ramah setelah sambungan ponsel terhubung.
"Iya, halo juga," jawab seseorang dari seberang.
"Oh, yah, kalau boleh tahu, Anda siapa dan ada perlu apa sehingga menghubungiku?" tanya Susi.
"Maaf sebelumnya, saya adalah ayahnya Anna, ada hal penting yang hendak saya tanyakan kepada Anda!"
"Silahkan Om, siapa tahu ada yang bisa saya bantu!"
Pak Nico lalu menanyakan kepada Susi tentang Eric dan Susi pun memberi keterangan sesuai dengan kenyataan tanpa manambah atau mengurangi dari apa yang ia lihat.
"Tolong kirim nomor ponselnya!" pinta pak Nico.
"Baik Om,"
Sebelum Susi mengirim nomor ponsel Eric kepada pak Nico, terlebih dahulu ia menghampiri sahabatnya itu ke ruangan kerjanya.
Tampak Eric sudah bersiap-siap pulang ke rumah untuk makan siang ketika Susi tiba di ruangannya. Melihat kedatangan Susi ia kembali duduk di kursi dan menatap wanita tersebut dengan saksama.
"Kok, liatnya gitu amat, sih?" tanya Susi yang merasa risih dengan tatapan lekat dari sahabatnya.
Eric tak menjawab namun tetap memandang ke arah leher Susi yang ada tanda merah kehitaman. wajah istrinya seketika terbayang di pelupuk matanya karena ia juga sering membuat stempel seperti itu dan sudah sangat lama ia tidak pernah melakukan membuat rasa rindu tiba-tiba memyeruak ke dalam hatinya.
Susi meraba lehernya lalu berkaca pada layar ponselnya dan seketika itu wajahnya memerah karena merasa malu. Semalam ia sangat terlena dengan cumbuan kekasihnya yang ternyata meninggalkan bekas walau tadi pagi sebelum berangkat ke kantor ia sudah menebalkan krim pada lehernya tapi toh, masih berbekas juga.
"Eh, maaf, ada apa yah?" tanya Eric.
"Ayahnya Anna ingin bicara denganmu dan ia minta nomor ponselmu!" sahut Susi.
"Apa kamu sudah kirim nomorku kepadanya?"
"Belum, mau minta pendapat dulu dong sama kamu,"
__ADS_1
Dengan senang hati Eric mengizinkan Susi untuk mengirim nomor ponselnya kepada ayah mertuanya.
Berselang beberapa saat, ponsel milik Eric yang diletakkan di meja kerja berdering. Ia segera meraih dan buru-buru menjawab dengan penuh semangat.
"Halo Pak!" sapa Eric dengan seramah mungkin.
"Hey Kak, ini saya, Erika!" suara Erika terdengar sangat panik.
"Ada apa, Dek?" tanya Eric pula.
"Cepat ke sini Kak, Ibu sedang tidak sadarkan diri!"
Sambungan telepon putus.
Eric meraih kunci motor dan pamit kepada Susi yang masih berdiri kaku di ruangan tersebut karena ikut panik dengan berita yang ia sempat dengar dari percakapan antara Eric dengan adiknya.
Di tengah perjalanan ponsel Eric bergetar beberapa kali tanda ada panggilan yang masuk tapi ia tidak mengubrisnya.
Dengan kecepatan tinggi ia melewati jalan raya menuju ke rumah orang tuanya.
Tiba di sana, suasana sudah ramai dengan tetangga terdekat dan di halaman rumah juga ada mobil ambulans yang datang dan siap untuk mengantar pasien ke rumah sakit.
Menurut keterangan dari warga bahwa akhir-akhir ini ibu Elma sangat jarang keluar dari rumah dan kata Erika juga bahwa sudah hampir dua minggu ini ibunya tidak pergi ke sekolah untuk mengajar.
Ia lebih banyak mengurung di kamar dan sangat jarang mengisi perutnya dengan makanan hingga tadi ia ditemukan oleh Erika di dapur dekat meja makan dalam keadaan tak sadarkan diri.
Mobil ambulas bergerak meninggalkan rumah tersebut dan Eric sudah melajukan motornya mendahului mereka ke rumah sakit.
Setelah diperiksa, petugas kesehatan segera memasang selang infus pada lengan pasien karena ia sudah kekurangan cairan. Rupanya tadi sebelum pingsan, ibu Elma sempat muntah-muntah akibat dari lambung yang kosong.
Sakit hati yang diderita sejak memergoki suaminya sedang berselingkuh dengan Dewi beberapa waktu yang lalu dan juga rasa bersalah kepada Anna yang selalu menghantui pikirannya membuat ia stres dan jatuh sakit.
Akhir-akhir ini ia semakin kesepian di rumah karena Erika sering pergi ke rumah Eric untuk membantu ayahnya berjualan dan sampai saat ini ibu Elma tidak tahu bahwa itu lah tujuan anaknya mengunjungi rumah kakaknya setiap ada kesempatan.
Setip kali Erika pulang dari rumah kakaknya, ia selalu membawa makanan dan ketika ditanya oleh ibunya dari mana asal makanan tersebut maka ia selalu jawab bahwa makanan tersebut adalah pemberian dari kak Eric.
"Bagaima keadaan ibu, Dek?" tanya Eric yang datang menghampiri adiknya di ruang perawatan.
__ADS_1
"Ibu belum sadar, Kak," jawab Erika dengan wajah sedih.
Suasana hening. Keduanya tertunduk dengan pikiran masing-masing.
"Ma... maaf... fin Ibu, An!" ucap ibu Elma terbata. Rupanya ia sedang mengigau.
"Ibu udah sadar?" tanya Erika sambil menggenggam tangan ibunya.
"Ja... jangan, jangan... Anna, jangan!" kata ibu Elma lagi dengan mata yang masih terpenjam.
Eric dan Erika saling berpandangan.
"Sepertinya ibu sedang mimpi," kata Eric.
"Iya, mungkin ia sedang merindukan istri Kakak," kata Erika menduga-duga.
Eric teringat dengan masa lalu. Ibunya tidak pernah menyukai Anna bahkan ia tega melakukan berbagai cara untuk menyakiti hati Anna. "Mungkin saat ini ibu sudah sadar dari kekeliruan yang pernah ia lakukan." pikir Eric dalam hati.
"Mungkin sebaiknya Kakak jemi 6yrsuuput ayah sekarang!" saran Erika.
"Iya, benar katamu," sahut Eric. Ia setuju dengan pendapat adiknya, siapa tahu dengan kehadiran ayahnya maka keadaan ibu bisa menjadi lebih baik. Itu yang ada di benak mereka saat ini.
Eric segera keluar dari kamar tersebut dan pergi menjemput ayahnya.
Pak Hendrik mempercayakan warungnya kepada pak Darman tetangga mereka yang sudah menjadi karyawannya selama kurang lebih dua minggu.
"Hati-hati di jalan!" kata pak Darman kepada Eric dan pak Hendrik yang sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.
"Terima kasih, tolong hubungi saya jika ada perlu!" ucap pak Hendrik.
"Baik, Pak," sahut pak Darman.
Eric segera melajukan motornya ke rumah sakit dan ketika ia membuka pintu kamar tempat ibunya dirawat, hatinya sangat lega melihat ibunya yang sudah sadar.
Pak Hendrik masih terpaku di luar. Ia merasa segan dan ragu untuk bertemu dengan istrinya.
"Mana ayah, Kak?" tanya Erika yang heran melihat kakaknya yang datang sendirian.
__ADS_1
Eric menoleh ke belakang karena mengira bahwa tadi ayahnya terus berjalan mengikutinya namun tidak ada, akhirnya ia berlari keluar.