
Entah mengapa, setiap kali Eric punya niat untuk menghubungi nomor ponsel Anna yang diberikan oleh Susi tempo hari, niatnya itu diurungkan karena ia merasa.tidak sanggup menerima kenyataan jika pada akhirnya Anna sudah benar-benar melupakan dan tidak ingin lagi berdamai dengan dirinya walaupun Susi selalu meyakinkan bahwa istrinya masih cinta dan pastinya juga ingin rujuk kembali.
Hari ini ia tidak masuk kantor karena ada cuti bersama. Kesempatan ini digunakan untuk membantu ayahnya di warung melayani para pelanggan.
"Trrdd, trrdd, trrdd!" ponsel bergetar di saku celananya.
Ia meninggalkan pekerjaannya dan menjawab telepon yang masuk.
Pada layar ponsel muncul wajah imut anaknya yang sangat menggemaskan.
Tadi Felyn ikut ke rumah kost Yura karena hari ini adalah hari libur. Felyn terus merengek-rengek dan minta agar Yura menghubungi ayahnya.
Eric pun buru-buru masuk ke rumah karena tidak mau terganggu pada saat berbicara dengan anaknya.
Air mata haru mengalir di pipi Eric. Ia sangat bahagia bisa melihat anaknya yang sedang berbicara kepadanya sambil tersenyum manis.
"Kok, Papa nangis, sih?" kata Felyn dengan wajah masam.
"Nggak Sayang, Papa senang karena kamu mau bicara dengan ku," ucap Eric setelah membersihkan wajahnya dari air mata dan mengulas senyum yang terindah.
"Papa, Felyn sangat rindu, nih!"
"Papa juga sangat rindu sama kamu dan juga sama mama,"
"Kalau begitu, Papa ke sini dong!"
Tiba-tiba ada suara derap langkah yang mendekat membuat Yura segera meraih ponsel tersebut dari tangan Felyn dan mematikan. Felyn ingin protes sikap Yura tapi jari telunjuk Yura sudah berada di bibirnya sebagai syarat agar diam. Akhirnya ia pun patuh kepada Yura walau hati bertanya-tanya karena tidak mengerti.
Rupanya Anna yang datang karena ia ingin mengajak Felyn ke Mall dan sekalian minta kepada Yura untuk menjaga toko.
Semalam Anna telah berjanji kepada anakanya untuk mengajak dia jalan-jalan le Mall. Mereka segera berangkat setelah Felyn mengganti pakaiannya.
"Sekarang kamu boleh minta apa saja biar Mama belikan tapi barangnya jangan juga yang terlalu mahal!" kata Anna kepada Felyn ketika mereka sudah tiba di Mall.
__ADS_1
Felyn hanya diam dan menyamakan langkahnya dengan langkah ibunya yang menggandeng tangannya. Ia sedang memikirkan ayahnya sehingga tidak fokus dengan perkataan ibunya.
Sudah hampir satu jam keduanya menelusuri lorong dengan aneka jenis jualan tapi tak satu pun yang menarik hati buat Felyn.
"Ayo dong Nak, silahkan dipilih!" kata Anna ketika mereka berada tepat di depan rak boneka dengan berbagai ukuran.
"Kita pulang aja, yuk!" ucap Felyn yang kurang bersemangat.
"Semalam kamu bilang sama Mama bahwa kamu pengen bangat belanja mainan di Mall. Nah, sekarang kita udah berada di sini, masakan mau langsung pulang sementara kita belum membeli sesuatu?" sanggah Anna dengan wajah sedikit kecewa.
"Maaf Ma, saya nggak jadi beli sekarang!" ujar Felyn sambil menarik-narik tangan ibunya.
Anna mengikuti saja kemauan anaknya meski ia merasa ada yang aneh, bahkan ketika diajak untuk menikmati minuman dingin sebelum pulang ia menolak juga, sehingga mereka pulang ke rumah tanpa membawa apa-apa.
***
Pak Nico dan ibu Nadia sangat senang melihat Anna yang sudah bersemangat.
"Semoga dia sudah bisa melupakan mantan suaminya," kata ibu Nadia sambil menuang kopi hangat ke gelas yang ada di meja.
"Ada apa dengannya, Mas?" tanya ibu Nadia.
"Beberapa hari terakhir ini saya perhatikan, wajahnya selalu muram dan setiap kali saya antar-jemput ke sekolah, sepertinya ia kurang bersemangat." pak Nico menjelaskan dengan serius.
Keduanya terdiam. Sebenarnya ibu Nadia juga menyadari hal tersebut tapi ia bingung untuk berbuat. Ia tahu bahwa cucunya pasti sangat merindukan kasih sayang dari ayahnya, sementara ayahnya sudah menjadi milik orang lain.
Ada keinginan untuk menawarkan agar Anna mencari laki-laki yang bisa menjadi pengganti ayah buat Felyn tapi rasanya kurang tepat. Banyak hal yang dijaga oleh ibu Nadia, apalagi melihat anaknya yang sudah mulai banyak berubah.
Keesokan harinya Felyn sengaja tidak mau bangun seperti biasanya. Ia enggan berangkat ke sekolah karena malas mendengar teman-temannya yang selalu membanggakan ayahnya yang akan datang mendampingi pada hari perpisahan.
"Ayo bangun Nak, nanti telat ke sekolah!" kata Anna dengan lembut sambil mengguncang bahu anaknya dengan pelan.
"Ahh, saya masih ngantuk, nih!" sahut Felyn beralasan.
__ADS_1
"Lihat tuh, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB!" seru Anna.
"Hari ini saya nggak mau ke sekolah, Ma!" ucap Felyn sambil menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
"Nggak boleh gitu dong!" Ayo bangun, nanti Mama yang antar ke sekolah!" bujuk Anna lagi.
"Nggak, kalau saya bilang nggak, ya nggak! Saya mau ke sekolah diantar sama ayah, seperti teman-teman yang lain!" seru Felyn dengan nada melawan membuat ibunya kaget. Baru kali ini ia mendengar anaknya berbicara keras.
Tidak lama kemudian pak Nico muncul di pintu kamar. Ia sudah siap untuk mengantar cucunya ke sekolah sebagai rutinitasnya setiap hari.
Melihat cucunya yang masih berbalutkan selimut, ia pun jadi heran.
"Cucu Opa lagi sakit yah?"
"Nggak kok, Opa! Saya udah nggak mau sekolah kalau bukan papa yang antar,"
Pak Nico dan Anna saling berpandangan.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya pak Nico setelah tiba di dapur. Tadi ia memberi kode kepada Anna agar keluar dari kamar dan membiarkan cucunya tinggal sendirian. Ia juga tidak mau memaksa cucunya untuk ke sekolah.
"Saya juga bingung, Ayah," jawab Anna dengan wajah sedih. Ia merasa gengsi untuk menghubungi Eric.
"Kita bisa saja menelepon Eric agar datang menghadiri perpisahan anaknya tapi yang jadi masalah jika istrinya tidak mengizinkan," kata ibu Nadia.
"Kata teman saya, Eric nggak pernah menikah sejak saya tinggal di sini," ucap Anna membuat kedua orang tuanya saling berpandangan.
"Yang benar?" ucap pak Nico dan ibu Nadia hampir bersamaan.
Anna mengangguk. Pak Nico meminta nomor Susi kepada Anna dan berbicara melalui ponsel. Ia jadi penasaran dengan ucapan Anna sehingga nekat menghubungi nomor yang diberikan oleh anaknya.
Wajah pak Nico tampak kecewa karena sudah dua kali melakukan panggilan tapi tidak ada jawaban. Nomor yang dihubungi sedang aktif tapi tidak diangkat.
"Mungkin ia sedang kerja sehingga tidak menjawab," kata Anna memberi penjelasan melihat ayahnya yang sedang gusar. Apalagi setelah mendengar istrinya yang mengatakan bahwa Felyn tidak mau bangun untuk sarapan pagi.
__ADS_1
"Pokoknya kalau sampai nanti siang telepon saya tidak diangkat maka saya akan berangkat ke kota A untuk menemui Eric secara langsung," kata pak Nico dengan serius.
Pak Nico tidak ingin cucunya larut dalam kesedihan karena bisa berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangannya kelak.