MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
46. Mengundurkan Diri


__ADS_3

Eric memasukkan surat pengunduran diri di kantor tempat ia bekerja dan setelah resmi keluar dari kantor tersebut ia pun mulai membenahi bisnis milik orang tuanya yang sudah hampir tutup.


Dengan tekad yang sudah bulat dan semangat yang tinggi, pagi ini ia berangkat dari rumah setelah sarapan di warung ayahnya menuju ke sebuah bangunan tempat usaha mebel yang terletak di tengah kota.


"Selamat pagi, Pak Jasmin!" sapa Eric ketika tiba di lokasi tempat karyawan bekerja. Di situ ia menemukan hanya tiga karyawan saja pada hal yang lalu biasanya mereka berjumlah sepuluh orang.


Pak Jasmin adalah salah seorang karyawan yang paling setia bekerja di situ dan Eric mengenalnya karena dia adalah orang kepercayaan ayahnya.


"Selamat pagi, Nak! Tumben singgah ke sini," sahut pak Jasmin. Ia n berhenti sejenak dari kesibukannya dan menemui Eric.


"Iya Pak, lagi kangen nih... gimana perkembangan usaha orang tua saya?" tanya Eric basa-basi karena sebenarnya ia sudah tahu.


"Seperti yang kamu lihat Nak, pembeli sudah sepi sejak ayahmu pergi dan akhir-akhir ini sudah semakin merosot sejak ibumu sakit dan tidak ada yang mengarahkan kami. Lihatlah, sisa kami tiga orang yang bertahan karena mau kerja apa juga jika kami ikut-ikutan mogok kerja seperti yang lain, jaman sekarang pekerjaan sangat sulit," tutur pak Jasman dengan sedih.


"Jangan patah semangat dong Pak, karena mulai sekarang saya yang akan membantumu di sini!" seru Eric dengan semangat pula.


"Yang benar? Bukankah kamu bekerja sebagai pegawaii kantoran?" tanya pak Jasmin dengan heran.


"Mulai sekarang saya akan fokus di sini, Pak!" ujar Eric untuk meyakinkan pak Jasmin.


Pak Jasmin tersenyum. Ia sangat senang mendengar kabar tersebut.


Hari itu juga Eric mulai bekerja dengan mencatat peralatan kerja yang sudah harus diganti dan juga yang perlu ditambah. Bahkan ia ikut membantu pak Jasmin untuk menghaluskan kayu sebelum dipernis.


Kedua teman pak Jasmin juga merasa senang dan bersemangat untuk melakukan pekerjaannya.


Eric juga mulai mempromosikan usaha mebel tersebut lewat media sosial dengan harga yang terjangkau dan baru saja beberapa hari setelah itu sudah ada beberapa orang yang memesan bahkan ada yang lansung datang ke lokasi untuk melakukan pembelian.


Barang yang paling laku adalah lemari perabot dan meja makan yang sudah lengkap dengan kursinya bahkan ada beberapa lemari yang sudah lama terpajang di toko juga laku terjual setelah Eric memerintahkan karyawan untuk memoles ulang dengan warna cat yang berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


"Ttrrdd, trrrdd, trrrdd....," suara getar ponsel milik Eric terdengar.


Ia segera meraih ponsel tersebut yang terletak di meja dan memeriksanya. Rupanya nomor baru yang sedang memanggil. Ia pun tersenyum karena selama ini selalu berharap bahwa jika ada nomor baru yang menghubungi dia maka sangkahnya orang itu adalah Anna.


"Halo!" sapanya dengan suara semerdu mungkin.


"Maaf, ini benar nomor Bapak yang punya usaha mebel?" suara seseorang di seberang sana.


Wajah Eric seketika berubah tapi dengan segera ia bersuara kembali setelah menghela nafas dengan berat.


"Iya, benar, ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Eric.


"Saya adalah pimpinan di sebuah sekolah swasta yang ingin memesan lemari buku sebanyak lima belas buah dan harus selesai dalam jangka waktu dua minggu ke depan karena pemakaiannya sudah sangat mendesak!"


"Oh, iya Pak, bisa... bisa, tolong kirim model dan ukuran kepada saya!"


"Oke, nanti saya kirim lewat WhatsApp,"


"Sama-sama,"


Sambungan telepon terputus. Eric tersenyum karena dapat lagi orderan baru. Ia menghampiri pak Jasmin dan mendiskusikan hal tersebut.


"Kalau kami hanya bertiga, jelas tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan itu dalam jangka waktu dua minggu," kata pak Jasmin.


"Tenang Pak, saya akan cari karyawan baru untuk membantu kita d sini!" ucap Eric.


Ia pun langsung memasang lowongan kerja melalui media sosial bagi orang-orang yang punya keterampilan di bidang yang dibutuhkan.


Keesokan harinya ada empat orang yang datang mendafatarkan diri dan dua di antaranya adalah karyawan lama yaitu Dadang dengan Bakri. Keduanya juga sudah berkeluarga bahkan sudah punya anak masing-masing dua orang.

__ADS_1


Eric dan pak Jasmin serta karyawan lainnya menyambut mereka dengan senang. Sekarang suasana sudah mulai ramai kembali sehingga mereka semakin bersemangat dan tanpa menunggu waktu yang lebih lama lagi, mereka langsung diarahkan oleh Eric untuk mengerjakan beberapa pesanan yang sudah mendesak.


Ketika mereka sudah disibukkan dengan pekerjaan, Eric juga sedang berusaha mencari stok kayu untuk disediakan agar ke depannya tidak kewalahan.


***


Sudah beberapa hari ini Susi datang ke kantor dan ia merasa ada yang hilang. Sosok Eric tak pernah muncul lagi di kantor membuat ia bertanya-tanya karena selama ini ia tidak pernah tahu berita yang ada di kantor. Ia lebih banyak menghabiskan waktu istirahat di ruangannya saja.


"Apakah Bapak tahu, Eric kemana, soalnya udah beberapa hari ini ia nggak masuk kantor?" tanya Susi kepada pak Jojo yang bekerja di kantor tersebut sebagai cleaning service ketika lewat di depan ruangannya.


"Memangnya kamu nggak tahu? Dia itu udah mengundurkan diri dari kantor ini," sahut pak Jojo.


"Mengundurkan diri? Trus dia mau kerja di mana lagi?" tanya Susi dengan heran.


"Yahhh, mana saya tahu," sahut pak Jojo lalu meneruskan langkahnya karena ia sedang terburu-buru untuk melakukan pekerjaannya.


Susi jadi bingung dan syok karena merasa kehilangan sosok pria yang telah menjadi sahabatnya selama ini serta teman curhat yang selalu menjadi pendengar setia.


Tak terasa air matanya mengalir di pipi. Ia sangat sedih karena akhir-akhir ini selalu menghindar dari Eric setelah kejadian tempo hari. Ia takut jika tiba-tiba lagi Johan datang dan membuat keributan.


Ada keinginan untuk menelepon Eric tapi nomornya sudah tidak ada pada daftar kontak di ponselnya. Banyak kontak yang sudah dihapus oleh Johan.


"Heyy, kenapa melamun? Ayo kita pulang!" seru Johan di pintu ruangan membuat Susi kaget.


Meski sudah dilarang oleh satpam agar tidak masuk ke ruangan karena waktunya sudah tiba bagi karyawan untuk pulang tapi Johan tetap memaksa karena sangkahnya ada lagi pria lain yang sedang bersama dengan kekasihnya sehingga belum keluar juga dari ruangan, sementara karyawan yang lain sudah pulang semua.


"Kenapa tidak menunggu di gerbang aja?" ujar Susi dengan wajah masam. Ia malu sama teman-temannya karena sering berbisik-bisik ketika melihat Johan dengan lancang masuk ke ruangan kerja.


"Jadi kamu marah jika saya masuk dan menjemputmu?" Johan balik bertanya dengan emosi.

__ADS_1


"Bukan begitu," kata Susi. Ia segera beranjak dari tempat duduknya lalu keluar agar perdebatan tidak semakin panjang yang biasanya berakhir dengan keributan.


Johan mengikutinya dari belakang sambil mendengus dengan kesal.


__ADS_2