MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
68. Tidak Pernah Mengabaikan


__ADS_3

Pagi ini pak Jasmin menghubungi Eric untuk menyampaikan bahwa ada seseorang yang datang melamar pekerjaan di tempat kerja mereka.


Eric pun memberikan kepercayaan kepada pak Jasmin untuk melihat kemampuan yang dimiliki oleh orang tersebut karena ia memang sudah merencanakan untuk menambah karyawan baru sehubungan dengan banyaknya permintaan dari konsumen.


Usaha mebel tersebut semakin maju karena sudah dikenal sampai ke luar kota. Eric dan Anna juga sudah sibuk mengurus bahan-bahan yang akan diolah oleh karyawan menjadi suatu barang yang akan dijual.


Walaupun sibuk, keduanya tidak pernah mengabaikan urusan Susi yang belum menemui titik terang sementara perutnya semakin hari semakin membesar.


"Minggu depan tepatnya tanggal tiga puluh satu Agustus adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-delapan tahun. Momen ini harus kita rayakan dengan acara kecil-kecilan!" kata Eric sambil menikmati kopi yang disuguhkan oleh istrinya.


"Terserah aja sama Mas. Kira-kira mau dirayakan di mana?" tanya Anna.


"Pokoknya kamu aja yang atur, deh," ujar Eric.


"Gimana kalau kita rayakan di toko mebel?" usul Anna.


"Nah, itu usul yang bagus, nanti kita perintahkan para karyawan untuk membersihkan ruangan atas," ujar Eric sambil mengancungkan jari jempol ke arah istrinya.


Keduanya pun mulai membuat konsep, siapa-siapa saja yang akan diundang karena acara yang akan digelar cukup sederhana saja.


"Ting, ting, ting...!" ponsel Anna berdering.


Anna membuka ponsel dan tampak wajah Yura tertera di layar sembari tersenyum manis.

__ADS_1


"Halo Kak, apa kabar?" serunya dengan gembira.


"Kabar baik, Dek," jawab Anna dengan senang pula.


Yura pun berbagi cerita tentang banyak hal. Cerita tentang toko, cerita tentang hubungannya dengan Beni, dan masih banyak lagi membuat Anna sangat senang dan merasa rindu untuk pulang.


Hampir satu jam keduanya bercerita ria hingga ponsel terasa panas dan akhirnya Yura memutuskan sambungan telepon setelah menyampaikan ucapan terima kasih karena telah dipekerjakan di toko milik kedua orang tua Anna selama kurang lebih tiga tahun sekaligus minta izin untuk pamit karena ia berencana melanjutkan pendidikan pada bangku kuliah di luar kota.


Beni akan membiayai perkuliahan Yura karena ia sudah punya tekad yang bulat untuk memperistrinya ketika sudah cukup umur meskipun harus menunggu beberapa tahun lagi.


***


Selama beberapa hari ini Eric dan Anna tidak pernah muncul ke toko mebel karena sibuk mempersiapkan acara ulang tahun pernikahannya. Kedua orang tuanya juga sangat mendukung bahkan mereka ingin acaranya digelar sacara besar-besaran hingga berjanji akan membantu soal dana tapi Eric dan Anna menolak dengan halus.


Eric menghubungi pak Jasmin agar mengundang semua karyawan beserta istri dan anak-anak mereka serta tetangga yang ada di dekat toko untuk ikut dalam acara yang akan digelar besok.


Tak lupa juga Anna mengajak Susi dan mereka berangkat bareng ke sana menggunakan mobil. Pagi tadi pak Hendrik dan istrinya datang menjemput mereka.


Wajah Susi sudah agak cerah bila dibanding dengan hari-hari kemarin. Katanya ia sudah makan secara normal dan sudah jarang merasa mual. Mungkin masa ngidamnya telah lewat.


Felyn dan Vasya juga tak ketinggalan. Kebetulan hari ini sekolah mereka diliburkan karena ada kegiatan para guru yang dihadiri juga oleh guru-guru berasal dari sekolah lain.


"Harusnya Anna masuk salon dulu, dong! Ini ' kan hari bersejarah dalam kehidupan kalian," kata ibu Elma ketika mereka sudah dalam perjalanan.

__ADS_1


"Tanpa ke salon pun, istriku udah cantik loh, Bu," gurau Eric.


"Iya, Ibu tahu, tapi maksudnya biar tambah cantik," kata ibu Elma.


"Iya Bu, nanti sampai di sana baru nyalon," ucap Anna dengan santai.


Ibu Elma tak menanggapi jawaban mantunya. Sebenarnya dalam hati ia mau protes. Apa tidak akan makan waktu lagi jika sampai di toko atau gedung yang akan dituju baru mau mencari salon? Beruntung kalau ada tapi kalau nggak, atau tempatnya jauh sementara acaranya akan digelar pukul sebelas siang ini.


"Felyn juga mau nyalon, Ma!" celetuk Felyn membuat mereka tertawa.


"Iya Sayang, tenang aja, ada tante Susi yang siap, kok!" sahut Anna sambil tersenyum.


Susi mengangguk untuk meyakinkan Felyn bahwa ia bisa melakukan hal itu.


Tak lama kemudian mobil sudah masuk ke pekarangan toko dan si situ sudah ada beberapa karyawan yang menyambut mereka. Beberapa di antaranya belum datang karena hari masih pagi.


Setelah Eric memarkir mobil ia bersama ayahnya langsung naik ke lantai dua untuk melihat segala yang sudah dipersiapkan oleh karyawannya.


"Mereka benar-benar bertanggung jawab dengan tugas yang dimandatkan," kata Eric tersenyum puas melihat ruangan yang sudah ditata dengan rapi dan indah.


Pak Hendrik juga mengagumi perkembangan usaha anaknya yang sudah maju. Selama ini ia sudah tidak pernah muncul ke tempat ini dan hanya mendengar cerita dari anaknya tapi saat ini ia sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri.


Berbagai model lemari yang sudah jadi dan siap dijual berjejer dengan rapi dalam toko sebagai bukti bahwa usaha ini sedang berkembang pesat.

__ADS_1


__ADS_2