MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
43. Tidak Memaksa


__ADS_3

Karakter Felyn sudah benar-benar berubah. Ia tumbuh menjadi anak yang sukar sekali diajak untuk bicara hingga semua orang di rumah sangat pusing dibuatnya.


"Felyn, Felyn, ayo bangun Nak!" seru Anna membangunkan anaknya karena jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB dan Felyn belum bangun juga.


Tak ada sahutan membuat Anna mendekati anaknya yang masih berbalutkan selimut tebal lalu meraba keningnya.


"Astaga, kamu sakit Nak, panas tubuhmu sangat tinggi!" ucap Anna dengan panik. Ia keluar memanggil ayah dan ibunya di dapur.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang!" seru pak Nico dengan panik.


Anna hanya kebingungan dan tak tahu mau berbuat apa. Ia baru kaget setelah ibunya berteriak memanggil sekali lagi karena mobil yang dipesan sudah siap di depan rumah untuk mengantar mereka ke rumah sakit.


Pak Nico menggendong cucunya dan membawa ke mobil dan di mobil pun ia tetap mendekapnya hingga tiba di rumah sakit.


Para perawat dengan lincah menjemput dan membawa pasien ke ruang pemeriksaan untuk mendapat penanganan.


Selama Felyn diperiksa oleh dokter, keluarga menunggu di luar karena hanya satu orang saja yang diperbolehkan untuk mendampingi pasien.


Tampak wajah pak Nico dan ibu Nadia sangat cemas dan sebentar-sebentar menoleh ke arah pintu dan berharap bahwa perawat akan muncul dan membawa berita yang baik.


Ibu Nadia berjalan mondar-mandir dengan gelisah sementara suaminya juga tampak sangat cemas karena sejak dari rumah tadi cucu mereka sudah tidak sadarkan diri membuat ia sangat gelisah.


Tiga puluh menit telah berlalu dan akhirnya pintu ruangan pun terbuka. Seorang dokter keluar dan pak Nico langsung mencegatnya di pintu.


"Bagaimana keadaan cucu saya, Dok?"


"Sepertinya ada sesuatu yang menjadi beban pikirannya tapi kami sudah memberinya obat dan sekarang demamnya sudah mulai agak turun,"


"Terima kasih, Dok!"


"Sama-sama,"


Felyn dipindahkan ke ruang perawatan dan pak Nico bersama istrinya pun menuju ke kamar yang ditunjukkan oleh petugas sebagai tempat untuk merawat cucu mereka selanjutnya.

__ADS_1


Menjelang sore, Beni datang ke rumah sakit setelah mendapat informasi dari Yura bahwa Felyn sedang sakit dan dirawat di sana.


"Eh, Kak Beni belum balik ke Sumatera?" tanya Anna dengan heran.


"Baru kembali lagi dari sana kemarin, An," sahut Beni.


Beni hanya beberapa hari berada di Sumatera dan ia kembali lagi ke kota B untuk mengurus bangunan yang akan segera didirikan di lokasi milik orang tuanya.


"Halo anak cantik! Apa sudah agak baikan?" sapa Beni dengan ramah. Ia menghampiri Felyn yang terbaring lemah dan selang infus juga membatasi pergerakannya.


"Sudah lumayan, karena ia sudah siuman," sahut Anna mewakili anaknya untuk menjawab pertanyaan Beni karena Felyn masih sangat lemah.


"Syukurlah kalau begitu," kata Beni.


"Tahu dari mana bahwa kami di sini?" tanya Anna.


"Tadi saya sempat ke rumah dan hanya Yura yang ada di sana dan dialah yang menyampaikan kepadaku," jawab Beni.


"Oh, iya, ayah dan ibu baru saja pulang dari sini dan mungkin tadi kalian berpapasan di jalan," kata Anna.


Sebenarnya Felyn sangat malas untuk makan tapi setelah dibujuk oleh ibunya akhirnya ia membuka mulut juga dan hanya bisa menelan seperempatnya dari isi piring yang ada.


Setelah itu ia minum obat dan beberapa saat ia mulai mengantuk dan tertidur dengan pulas.


"Apakah tidak ada kemungkinan jika kamu baikan dengan suamimu?" tanya Beni dengan serius. Ia turut prihatin melihat keadaan Felyn yang hidup menderita akibat ketidakharmonisan kehidupan rumah tangga orang tuanya.


"Entahlah Ben," sahut Anna dengan dibarengi helaan nafas yang berat.


"Jika memang sudah tidak ada lagi harapan maka izinkanlah saya untuk menggantikan posisinya dan saya berjanji akan menjadi suami yang bertanggung jawab, baik terhadap kamu juga terhadap Felyn. Kamu nggak usah khawatir An, saya akan menganggap Felyn sebaggai anak sendiri!" tutur Beni membuat Anna bungkam.


Jujur, Anna sama sekali tidak punya rasa apa-apa terhadap Beni. Ia telah menganggapnya sebagai saudara dan sahabat karena sesungguhnya cinta yang ada dalam hatinya hanya buat Eric.


"Saya tahu ini berat bagi kamu tapi tolong pikirkan masa depan Felyn!" kata Beni lagi.

__ADS_1


"Terima kasih, nanti saya akan pikirkan!" ucap Anna.


Keduanya terdiam beberapa saat.


"Saya nggak mau punya papa yang lain, titik!" teriak Felyn membuat ibunya dan Beni kaget karena ternyata anak itu sudah terjaga dan mendengar perbincangan mereka.


Anna dan Beni saling berpandangan.


"Maaf Ben, kamu sudah dengar sendiri ' kan anak saya tidak menginginkan orang lain untuk menggantikan papanya jadi tolong mengertilah dan saya harap kamu jangan berubah karena hal ini. Saya ingin persahabatan kita tetap terjalin hingga waktu yang tak terbatas!" tutut Anna.


"Tidak mungkin juga saya akan paksakan karena bisa jadi masalah akan lebih besar jika sesuatu dipaksakan," ucap Beni. Kembali ada kekecewaan yang harus ia terima karena ia sudah mendengar sendiri alasan yang sangat mendasar.


"Terima kasih atas pengertiannya!" kata Anna dengan rasa haru.


"Kebahagianmu adalah kebahagiaanku juga, berjuanglah untuk mempertahankan cintamu dan saya akan berusaha untuk membantumu!" ucap Beni dengan tulus.


Ia memeluk Anna dengan penuh rasa sayang seperti terhadap adiknya sendiri. Ia tahu diri bahwa rasa yang pernah ada dalam hatinya tidak mungkin dipaksakan. Anna merebahkan kepalanya di dada Beni. Sekarang ia merasakan bahwa ada orang yang melindunginya. Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipi.


"Sekali lagi, terima kasih atas pengertiannya!" ucap Anna sambil menatap lekat wajah sahabatnya.


"Sama-sama Dek, mulai sekarang jangan segan-segan menyampaikan kepadaku jika ada pergumulanmu, saya akan menjadi teman dan sahabat untukmu!" ujar Beni sambil mencium pucuk kepala Anna dengan penuh kasih sayang.


Sorot mata Felyn membuat Anna sadar sehingga perlahan ia menarik diri dari pelukan Beni sambil menyeka air mata yang masih meleleh di pipi dengan punggung tangannya.


Felyn membuang muka dengan kesal dan sikapnya sangat jelas bahwa ia sangat membenci Beni karena telah memeluk ibunya.


"Dengar Om, tolong jangan peluk-pelukan lagi sama mama!" seru Felyn dengan tatapan lurus kenatap langit-langit kamar.


Anna dan Beni saling berpandangan mendengar ucapan Felyn dengan nada yang penuh kebencian.


"Maaf Nak, tadi itu Om memeluk mama kamu karena saya udah anggap ia sebagai adikku sendiri!" ucap Beni untuk meyakinkan Felyn.


"Om jangan bohong, tadi saya udah dengar semua percakapan kalian!" sanggah Felyn.

__ADS_1


"Jangan gitu dong sama Om Beni, dia itu orangnya baik dan tidak mungkin mau nyakitin kamu!" ujar Anna karena merasa tidak enak dengan ucapan kasar yang keluar dari mulut anaknya.


Felyn diam dan membalikkan tubuh membelakangi mereka.


__ADS_2