
Seharian ini Felyn tidak pernah keluar dari kamar. Ia ngambek karena Yura tidak datang menemuinya padahal kemarin Yura sudah berjanji. Bukannya lupa tapi suasana di toko lagi banjir pembeli dan Anna tidak bisa melayani sendirian.
Suasana seperti ini sudah sering terjadi ketika bantuan untuk masyarakat yang kurang mampu telah cair karena banyak uang yang beredar.
"Felyn..., Felyn, buka pintunya dong!" seru Anna ketika tiba di rumah.
Tak ada suara tapi tidak lama kemudian pintu kamar pun terbuka. Anna melihat wajah anaknya sangat kusut dan hal yang paling menyedihkan adalah anak ini sudah tidak mau lagi pergi ke sekolah meskipun oma, opa, dan ibunya sudah membujuk dengan berbagai hadiah mainan yang mahal.
Tadi Anna membeli bakso tusuk yang dijajakan oleh pedagang keliling dan berharap bahwa Felyn akan menyukainya tapi makanan itu hanya diliriknya sekilas lalu ia kembali ke tempat tidur untuk berbaring.
Anna keluar dari kamar tersebut karena percuma juga ngomong kepada Felyn. Ia benar-benar sudah mogok bicara.
"Mungkin ada baiknya kita bawa Felyn untuk bertemu dengan ayahnya, siapa tahu ia akan berubah dan mau bersekolah kembali jika ia tinggal bersama dengan ayahnya," kata pak Nico ketika mereka berbincang-bincang di ruang tengah.
"Hal ini tentunya sangat berat buat kita semua tapi demi keselamatan dan masa depan Felyn maka kita harus rela berkorban," sambungnya lagi karena ibu Nadia dan Anna sudah tertuduk dengan sedih. Keduanya tidak mampu lagi untuk berkata-kata karena pada kenyataannya mereka tidak sanggup untuk berpisah dengan Felyn tapi melihat keadaannya yang sangat memprihatinkan maka usul dari opanya perlu dipertimbangkan.
Tanpa meminta pendapat lagi pak Niko langsung mencari nomor seseorang pada ponselnya. Tapi ia tampak kecewa karena tidak dapat terhubung dengan nomor yang sedang dituju.
"Coba kamu hubungi Susi soalnya ponsel saya tidak bisa nyambung!" kata pak Nico kepada Anna.
"Udah lama juga saya tidak bisa hubungi dia," sahut Anna.
"Kalau begitu kita mau cari di mana lagi nomor ponsel Eric," ucap pak Nico lagi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Mereka diam beberapa saat sambil mencari-cari solusi dari masalah yang sedang dihadapi.
"Siapkan pakaiannya Felyn sekarang dan sebentar sore atau besok pagi saya akan mengantar dia untuk bertemu dengan ayahnya!" kata pak Nico dengan tegas. Ia sudah tidak tega melihat penderitaan cucunya yang makin hari makin memprihatinkan.
Dengan derain air mata Anna mulai mengemas pakaian anaknya ke dalam tas yang berukuran sedang. Hatinya pedih karena akan berpisah dengan anaknya untuk waktu yang tidak diketahui sampai kapan dan berpisah untuk berapa lama.
Keesokan harinya pak Nico dan Felyn berangkat ke kota A dengan naik bus. Ibu Nadia dan Anna memeluk dan menciuminya sebelum naik ke atas bus yang akan mengantar mereka.
__ADS_1
"Kalau udah puas tinggal bersama dengan papa di sana, telepon saya biar Mama jemput kamu!"
"Siap, Ma," jawab Felyn.
Mereka saling berpandangan mendengar suara Felyn karena barusan lagi terdengar. Suara yang mereka selalu rindukan kini terdengar lagi. Mungkin ia sudah mau bicara karena senang mau bertemu dengan ayahnya.
Sekali lagi Anna menciumnya dan melepas dengan ikhlas demi kesembuhan anaknya.
Felyn melambaikan tangan ketika mobil bergerak meninggalkan tempat itu dan oma serta Anna berdiri dan memandangi mobil tersebut hingga hilang di tikungan jalan.
Sore hari bus yang ditumpangi tiba di kota A dan mereka turun tepat di depan rumah Eric.
Pak Darman dan istrinya mengira bahwa yang singgah adalah pelanggan mereka.
"Tunggu dulu..., kalau tidak salah, itu 'kan Felyn!" kata pak Darman menunjuk ke arah Felyn yang berjalan terseok-seok dan sudah hampir tiba di teras rumah. Duduk lama di mobil membuat tubuhnya lemas dan opanya tidak bisa menggendong dia karena harus menjinjing tas yang berisi pakaian milik Felyn.
Pak Darman masih mengenali wajah Felyn. Ia langsung menemuinya diikuti oleh ibu Lastri karena penasaran dengan kedatangan Felyn yang tiba-tiba dan Eric juga tidak pernah bercerita bahwa anaknya akan datang.
"Ehhh, Nak Felyn udah besar, yah," kata pak Darman sambil mengusap kepala Felyn.
"Selamat sore, Pak!" sapa pak Darman dengan hormat. Ia tahu bahwa orang tua yang datang bersama dengan Felyn adalah ayah mertua Eric karena ia sudah pernah bertemu sebelumnya ketika datang di rumah ini beberapa waktu yang silam.
"Selamat sore juga, ayahnya Felyn ada?" tanya pak Nico ketika sudah dipersilahkan duduk di kursi yang ada di teras.
"Nggak lama lagi dia akan tiba dari kerjaannya," jawab pak Darman. Ia duduk menemani pak Nico dan memberi kode kepada istrinya agar membuat minuman untuk disuguhkan kepada Felyn dan opanya.
Tanpa menunggu lagi ibu Lastri bergegas ke warung. Ia kembali dengan membawa nampan yang berisi minuman hangat lalu menyuguhkan kepada pak Nico dan felyn.
Ketika mereka sedang minum, Eric pulang dari tempat kerjanya. Felyn berlari dan menemui dia dan alangkah terkejutnya ia ketika membuka helm dan melihat anaknya berlari menghambur ke dalam pelukannya.
"Papa, saya datang!" teriak Felyn.
__ADS_1
" Apakah saya tidak bermimpi?" ucapnya menyambut pelukan Felyn. Ia pun memeluk dan mencium anaknya lalu menggendongnya.
Eric menimang-nimang anaknya dengan gembira dan terharu hingga tanpa disadari matanya berair.
"Kenapa papa menangis?" tanya Felyn dengan heran.
"Nggak, Papa nggak nangis Sayang," sahutnya sambil tersenyum setelah menyeka air matanya.
Ia berjalan menuju teras sambil terus menggendong anaknya.
"Udah lama, Pak?" tanya Eric sambil menyalami ayah mertuanya dengan sopan.
"Sekitar tiga puluh menit yang lalu, maaf kalau kedatangan kami yang tiba-tiba ini mengganggumu!" ucap pak Nico.
"Sama sekali tidak Pak, malahan saya sangat bersyukur dan berterima kasih karena Bapak masih mau datang ke rumah saya," kata Eric.
Pak Darman meninggalkan mereka karena ia tahu pasti istrinya sudah kewalahan di warung untuk melayani pelanggan.
Mata Eric melihat ke arah pintu karena ia sudah sangat rindu untuk bertemu dengan Anna. "Ah, mungkin dia sedang menyiapkan makanan di dapur," pikirnya.
"Saya mau langsung pamit dan tolong jaga Felyn!" kata pak Nico membuat Eric kaget.
"Kenapa secepat itu, Pak?" tanya Eric.
Iya, Opa nggak boleh pulang sekarang!" ujar Felyn pula. Ia turun dari gendongan ayahnya dan menghampiri opanya.
"Kamu 'kan udah ketemu sama papa jadi Opa pulang dulu,"
"Nggak boleh, Opa nggak boleh ninggalin saya di sini!" Felyn merengek-rengek.
Akhirnya pak Nico menginap karena Felyn tidak mau lepas dan tidak membiarkan dia untuk pulang.
__ADS_1
"Yuk, kita ke dalam!" ajak Eric.
Pak Nico mengikuti Eric ke dalam rumah sambil menggandengan tangan cucunya. Tak ada yang berubah dengan keadaan di rumah tersebut. Masih sama ketika ia pernah datang untuk menjenguk anak cucunya beberapa waktu yang lalu.