
Susi dan Anna sudah berteman dengan akrab setelah bertemu di hari pernikahan Andi. Susi juga sengaja memesan beberapa perabot kepada Anna sebagai alasan agar pertemanan mereka semakin akrab hingga ia benar-benar bisa memasuki celah dan bertanya soal hal-hal yang prinsip sehubungan dengan kehidupan pribadinya.
Suatu waktu Anna menceritakan perjalanan hidupnya kepada Susi.
"Tunggu dulu, An... mantan suamimu bernama Eric?" tanya Susi berpura-pura tidak tahu.
"Iya, memangnya kenapa?" sahut Anna di seberang sana.
"Saya punya teman kerja di kantor bernama Eric tapi menurut kabar yang saya dengar, si Eric itu seorang duda, bahkan teman-teman di kantor berebut untuk cari perhatian biar bisa dekat dengan pak Eric yang ganteng dan baik hati itu,"
"Yahhh, di dunia 'kan banyak orang yang namanya sama, kalau mantan suamiku itu sudah beristri loh, ia menikahi mantan kekasihnya yang bernama Dewi,"
"Ohhh, trus bagaimana dengan Mbak, apa sudah ada rencana untuk menikah lagi?"
"Pintu hatiku sudah tertutup buat laki-laki manapun juga, saya sudah nyaman dengan kehidupanku sekarang,"
"Maaf yah, saya cuman bergurau aja, nggak usah diambil hati!"
"Nggak apa-apa kok, eh hampir lupa nih, pesanan minggu lalu apa sudah diantar kurir?"
"Sudah Mbak, barangnya sangat oke, tunggu pesanan berikut yah!""
"Siap Dek,"
Sambungan telepon terputus. Susi tersenyum karena ia sudah selangkah lagi bisa sampai pada tahap ini. Keakraban yang terjalin semakin memudahkan untuk menggali informasi selanjutnya.
***
__ADS_1
Anna termenung ketika mendengar informasi dari Yura bahwa ada seorang laki-laki yang datang mencarinya ketika ia sedang ke Irian dan yang membuat ia jadi penasaran karena Yura tidak bisa menjelaskan bagaimana ciri-ciri pria tersebut karena mengenakan masker dan helm.
Ia kembali teringat dengan status terakhir yang Eric unggah di Facebook. Namun ia berusaha mengusir pikiran-pikirannya itu dengan berbagai pertimbangan. Siapa tahu istrinya yang menggunakan akun milik suaminya. Ia tidak boleh berharap banyak karena takut tersakiti untuk kedua kalinya.
Suasana di toko sedang sepi karena hujan deras tiba-tiba datang mengguyur kota B padahal jam baru menunjukkan pukul 10.30 WIB. Anna duduk sambil mengisi waktu dengan membuka aplikasi WhatsApp di ponselnya.
Matanya terbelalak melihat foto yang dikirim oleh Susi.Tadi pagi Susi secara diam-diam mengambil gambar Eric ketika ia lewat di depan ruangan kerjanya.
(Maaf Mbak, ini foto rekan kerja saya yang bernama Eric!)
Tubuh Anna terasa dingin dan mengeluarkan keringat. Apa benar kata Susi tempo hari bahwa Eric, teman kantornya adalah seorang duda? Pertanyaan inilah yang muncul dalam benaknya.
(Iya, foto ini memang mirip dengan mantan suamiku tapi saya tidak yakin soalnya mantan suamiku itu sudah punya istri baru.)
(Ohh, iya, nanti kalau jam istirahat saya akan coba mendekatinya dan bertanya langsung kepadanya, siapa tahu ia bersedia memberi jawab.)
Anna tidak membalas lagi chat dari Susi. Ia berdiri dan menatap keluar yang sudah mulai agak terang karena hujan sudah tidak sederas tadi.
"Selamat Siang, sudah pulang dari sekolah?" Anna balik bertanya.
"Iya Kak," jawab Yura.
Seperti biasa ketika Yura sudah datang ke toko maka Anna akan pulang ke rumah untuk beristirahat.
Di kamar ia tidak bisa tidur padahal ini sudah waktunya untuk tidur siang. Ia justru penasaran dengan kabar dari Susi. Kalau memang benar foto yang dikirim tadi adalah foto Eric, tapi kenapa Susi mengatakan bahwa pria itu adalah seorang duda? Kalau memang Eric nggak jadi menikah dengan Dewi, kenapa dia nggak pernah datang menjemputku? Anna jadi pusing sendiri dengan berbagai pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
Tak lama kemudian ponselnya bergetar tanda bahwa ada sebuah pesan yang masuk. Dengan cekatan Anna segera menyentuh layar ponsel tersebut dan ternyata chat dari Susi.
__ADS_1
(Menurut pengakuan teman saya ini yang bernama Eric katanya, dulu istrinya pulang ke rumah orang tuanya karena sakit dan tidak pernah kembali lagi karena ada kesalahpahaman. Sudah beberapa kali ia berusaha untuk menjemput istri dan anaknya tapi tidak pernah ketemu karena katanya sudah pindah rumah dan tetangga yang sempat dimintai keterangan pun tidak tahu pindak ke mana. Trus dari berbagai usaha yang dilakukan ia berhasil pula mengetahui alamatnya yang baru tapi waktu ia ke sana katanya istri dan keluarganya sedang ke luar kota. Ada lagi keinginan untuk pergi karena sudah yakin bahwa alamat itu sudah tidak salah lagi tapi ia belum terima gaji, sementara simpanannya sudah digunakan sebagai modal untuk mendirikan sebuah usaha.)
Anna menghela nafas dan menghembuskan secara perlahan sebelum mengetik untuk membalas chat tersebut.
"Ting!"
Sebuah pesan masuk lagi sebelum ia mengirim balasannya.
Sebuah foto. Foto keluarga, foto ini digunakan Eric sebagai wallpaper pada ponselnya. Terlihat Anna duduk di kursi sambil menggendong Felyn dan Eric berdiri di samping dengan tangan memegang pundak istrinya.
(Ini foto Mbak 'kan? Kata Eric, ini adalah foto keluarganya)
(Bagaimana dengan istri barunya?)
(Katanya ia tidak pernah beristri lagi)
Sebenarnya Eric sudah tidak sabar ingin menghubungi Anna secara langsung untuk menjelaskan sejelas-jelasnya karena ia sudah mencatat nomor ponselnya namun saran dari Susi benar juga bahwa jangan terlalu gegabah. Secara perlahan Anna akan menyadari hal itu.
Selama beberapa hari, Susi selalu menghubungi Anna dan menceritakan keadaan Eric. Tak lupa ia juga menceritakan tentang Dewi, mantan kekasih Eric yang sudah menghancurkan rumah tangga orang tuanya.
Eric sudah menceritakan semuanya kepada Susi tanpa ada yang disembunyikan dan berharap bahwa Anna akan membuka hati kembali untuknya setelah tahu cerita yang sebenarnya.
Hubungan antara Anna dan Susi semakin akrab hingga Susi tertarik dengan tawaran Anna untuk bekerja sama membangun bisnis yang sedang digeluti.
Kini Susi juga sudah punya pekerjaan sampingan dengan ikut mempromosikan barang-barang jualan milik Anna melalui media sosial. Hasilnya cukup lumayan karena banyak teman dan kenalan yang memesan barang tersebut dan pengirimannya juga sangat cepat sehingga banyak yang menjadi langganan.
Suatu waktu Susi sengaja menanyakan bagaimana perasaan Anna saat ini terhadap Eric setelah tahu kebenaran dari peristiwa yang sudah membuatnya terpuruk dan Anna manjawab bahwa kalau Tuhan berkenan pasti mereka akan dipersatukan kembali.
__ADS_1
Susi pun meneruskan chat dari Anna kepada Eric membuat sahabatnya itu melompat-lompat seperti anak kecil yang baru saja mendapat sebuah hadiah istimewa.
Ia tidak sadar bahwa ada banyak teman kantor yang sedang melihat ke arahnya sambil tertawa dan geleng-geleng kepala.