
Tiba di kantor Eric bukannya langsung bekerja pada hal ia sudah mendapat teguran dari pimpinan kantor dua hari yang lalu karena pekerjaannya tidak beres. Buru-buru ia memeriksa ponselnya yang sejak tadi aktif tapi nada deringnya dimatikan.
Dugaannya benar, ada belasan chat yang masuk di aplikasi WhatsApp dari satu nomor yang sengaja tidak disimpan dengan nama pemilik nomor tersebut.
(Kakak, tolong temui aku nanti malam yah, soalnya aku ingin memberimu sesuatu!) ini adalah chat terakhir yang Dewi kirim. Eric pun mulai mengetik untuk membalasnya.
(Kalau kamu memang cinta sama saya, tolong berhentilah kirim pesan karena istriku sudah mulai curiga dan ini bisa berakibat fatal. Nanti malam saya akan mengabulkan permintaanmu tapi sekali lagi, tolong jangan kirim lagi pesan ke ponselku!) Eric mengirim pesan tersebut setelah berulangkali membacanya.
(Terima kasih sebelumnya Kak, saya janji tidak akan menghubungimu lagi lewat ponsel tapi ingat yah, sebentar malam kamu harus datang ke rumahku!)
Eric menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar setelah membaca balasan dari Dewi. Ia bingung memikirkan alasan yang tepat agar sebentar malam bisa keluar dan pergi menemui mantan kekasihnya itu.
"Trrrddd, trrrddd, trrrddd!" ponselnya berdering.
"Halo!" sapa Eric dengan hormat.
"Segera setor berkas yang sudah dari kemarin berada di mejamu!" suara pak Haris terdengar tegas.
Sambungan telepon langsung terputus sebelum Eric berbicara. Ia pun tergesa-gesa memeriksa map yang diminta oleh pimpinan dan setelah menemukan ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena laporan itu sama sekali belum tersentuh. "Ini semua gara-gara Dewi, bisa-bisa saya kena omelan lagi dari bos," umpatnya dalam hati.
Sudah hampir dua jam Eric berkutat dengan laporannya tapi nggak kelar-kelar juga. Bunyi ponselnya membuat ia keringat dingin sebelum berbicara. Kali ini ia sudah harus menghadap, apa pun hasilnya karena sudah tidak ada tawaran lagi untuk bisa mengulur-ulur waktu.
"Apa yang kamu buat ini? Saya heran dengan perubahanmu, dulu kamu sangat giat dan teliti membuat laporan serta tidak pernah telat untuk menyetornya tapi akhir-akhir ini pekerjaanmu sudah mulai tidak becus. Ingat yah, sekali lagi kamu berbuat seperti ini maka saya tidak segan-segan untuk memecatmu!" kata pimpinan perusahaan dengan tegas setelah selesai memeriksa laporan yang disetor oleh Eric.
"Iya Pak, saya minta maaf dan berjanji akan bekerja lebih baik lagi!" ucap Eric dengan gugup.
Eric meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah gontai. Ia sangat menyesalkan kehadiran Dewi yang membuat hidupnya terganggu dan tidak ada hak baginya untuk mengusir dia dari rumah kontrakannya saat ini.
Selama ini ia bekerja dengan nyaman dan hidup berbahagia bersama sang istri yang lemah lembut. Kinerjanya di kantor selalu mendapat pujian bahkan ia sering mendapat bonus di akhir bulan.
***
__ADS_1
Sejak sore tadi Dewi sudah bersiap-siap, mulai dari luluran, mandi, dan bersolek di depan cermin. Isi lemari sudah hampir setengahnya berada di luar karena dicoba satu per satu untuk memilih mana yang paling pas di tubuhnya.
Dres berwarna navi tanpa lengan menjadi pilihan terakhir karena setelah berputar-putar di depan cermin ia sangat puas melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang indah serta warna baju tersebut sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih dan mulus.Tak lupa ia menyemprot tubuhnya dengan parfum yang sangat harum.
Di meja, makanan sudah tertata rapi. Tadi ia memesan makanan dan kue yang harganya mahal untuk menarik perhatian Eric agar terkesan dengan jamuannya sehingga ia akan ketagihan untuk bertamu.
Setelah itu ia pun duduk di ruang tamu menunggu sang mantan. Sesekali matanya melirik ke arah jam yang tergantung di dinding. Sudah pukul sepuluh malam tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Dewi ingin menghubungi lewat ponsel tapi niatnya diurungkan karena tadi sudah berjanji untuk tidak melakukan hal itu lagi.
Sementara itu Eric yang berada di rumahnya sedang berjalan mondar-mandir karena tidak yakin bahwa istrinya sudah tertidur nyenyak atau belum.
Sekali lagi ia masuk ke kamar untuk meyakinkan dirinya. Dari pintu ia sudah mendengar suara ngorok istrinya secara teratur dan ia mendekatinya, tampak mulutnya terbuka sedikit menandakan bahwa tidurnya sangat nyenyak.
Ia pun keluar lalu menutup pintu kamar dengan pelan. Jantungnya berdebar-debar saat kakinya melangkah keluar dari pintu utama namun tekadnya sudah bulat untuk menemui Dewi dengan harapan setelah pertemuan ini mantannya itu akan berhenti mengganggu rumah tangganya.
Sebelum ia mengetuk pintu rumah Dewi, pintu itu sudah terbuka dan tuan rumah menyambutnya dengan senyum lebar. Senyum yang pernah membuatnya tergila-gila dan selalu membuat jantungnya berdebar.
"Kok lama bangat, Kak?" tanya Dewi dengan manja.
"Saya sangat terburu-buru, jadi tolong katakan apa maksudmu mengundangku ke sini?" ucap Eric dengan cepat.
Aroma parfum yang tercium dari tubuh Dewi mengingatkan lagi kenangan yang sudah pernah dikubur dalam-dalam. Eric jadi terkesima ketika menyadarinya.
"Aku ingin kita seperti dulu lagi!" ucap Dewi dengan manja. Jemarinya yang lentik mengelus wajah Eric dengan lembut. Hal ini sering ia lakukan waktu mereka masih pacaran.
"Sadarlah Dek, saya sudah punya istri dan anak!"
"Aku tahu Kak, tapi cinta di dalam sini masih berkobar,"
Dewi meraih tangan Eric dan meletakkan di dadanya. Tangan Erik gemetar saat bersentuhan langsung dengan kulit putih yan mulus bahkan sebagian jarinya tepat berada di gundukan kenyal. Ingatan Eric kembali pada gambar yang dikirim oleh Dewi ke ponselnya tadi siang.
"Maaf Dewi, saya harus pulang soalnya takut jika Anna terbangun dan mencariku!" kata Eric seraya berdiri namun Dewi malah memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Jangan buat aku kecewa Kak, lihatlah di meja makan, makanan sudah kusiapkan khusus buat pria yang sangat kucintai!" ucap Dewi sambil pelan-pelan menarik tangan Eric menuju ruang makan.
Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, Eric menuruti ajakan Dewi.
"Maaf, saya udah makan di rumah!" kata Eric karena melihat Dewi sedang menaruh makanan di piring.
"Pokoknya Kakak harus makan baru boleh pulang, ayo buka mulut, aku suapin!" seru Dewi setengah memaksa.
Akhirnya Eric meraih piring dari tangan Dewi yang sudah berisi nasi dan lauk. Ia melahapnya dengan cepat karena ingin cepat-cepat pulang.
Dewi tersenyum melihat tingkah Eric yang sangat gugup. Sengaja ia duduk di depannya dengan kaki terbuka untuk menarik perhatian sang mantan.
Eric berusaha untuk tidak tergoda walau hasrat sudah bergelora. Ia meneguk segelas air putih lalu pamit.
"Saya harap mulai saat ini kamu jangan mengganggu saya lagi, karena permintaanmu sudah saya penuhi!" kata Eric.
Dewi tidak menjawab tapi ia memeluk Eric dengan erat lalu mendaratkan ciuman di bibirnya dengan lembut membuat Eric terperangah. Melihat sikap Eric yang tidak menolak, Dewi pun ******* bibir itu sampai ia mendapat respon dari lawannya. Eric terlena dengan kepiawaian Dewi memainkan lidahnya sehingga secara sadar ia begitu menikmati hingga ciuman itu harus berakhir karena keduanya sudah sulit untuk bernafas.
"Maaf, saya pulang dulu!" kata Eric tergesa.
"Terima kasih kunjungannya Sayang, dan rumahku ini akan selalu terbuka untukmu. Lihatlah di ponselku sudah merekam apa yang sudah kita lakukan malam ini dan jika kamu tidak menuruti kemauanku maka video ini akan kuperlihatkan kepada Anna!" ujar Dewi sambil tersenyum.
"Apa-apaan sih? Kamu mau menjebakku yah?" bentak Eric dengan wajah memerah.
"Jangan marah dulu Sayang, bukankah tadi kamu menikmati ciumanku? Itu baru ciuman Sayang, besok-besok mantan terindahmu ini akan membuatmu mabuk kepayang!" ujar Dewi dengan senyum kemenangan.
Eric mengepalkan tangannya karena merasa tertipu.
"Aku akan menunggumu tiga kali dalam seminggu, kalau kamu nggak datang yah... kamu udah tahu akibatnya!"
"Dasar... !"
__ADS_1
Eric keluar dari rumah Dewi dengan hati gusar sedangkan Dewi tertawa dengan puas karena rencananya sudah berjalan dengan lancar.
Sebenarnya Dewi sudah menikah dengan pria yang kaya raya, kakak tingkat mereka dulu waktu masih kuliah tapi pernikahannya hancur lantaran suaminya suka main perempuan, akhirnya Dewi minta cerai walaupun mereka sudah dikaruniai seorang anak laki-laki. Sekarang anak itu dirawat oleh kedua orang mantan suaminya karena Dewi kalah di pengadilan tentang hak asuh bagi anaknya.