MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
19. Pengaruh Obat Perangsang


__ADS_3

Pak Hendrik sangat senang mendapat telepon dari Dewi tapi ia baru mau mencari alasan yang tepat agar istrinya tidak curiga.


Jarum jam menunjukkan pukul setengah empat sore dan ibu Elma baru saja bangun dari tidur. Ia heran melihat suaminya yang sudah berpakaian rapi dan berjalan mondar-mandir dari ruang tamu ke ruang tengah.


"Ehh, udah bangun... saya mau pamit dulu ke rumahnya pak Regan untuk membahas soal bisnis!"


"Tumben Bapak mau keluar sore, biasanya kalau mau bahas soal bisnis, berangkatnya pagi-pagi,"


"Iya, Bu, saya juga heran soalnya pak Regan tiba-tiba menghubungiku,"


"Ya udah kalau gitu, hati-hati di jalan!"


"Terima kasih!"


Pak Hendrik bersorak dalam hati. Ia berangkat dengan bersenandung kecil. Bayangan tubuh Dewi sudah menari-nari di pelupuk matanya. Ia bahkan tidak pernah lagi menyentuh istrinya sejak mengenal perempuan muda itu.


Tiba di kontrakan Dewi, pak Hendrik melirik ke sana ke mari untuk melihat situasi sekeliling rumah lalu segera menyelinap ke dalam rumah. Dewi sudah menunggunya di ruang tamu sambil berbaring di sofa. Ia mengenakan daster yang panjangnya hanya selutut.


Pengaruh obat perangsang membuat Dewi sangat agresif sehingga pak Hendrik kewalahan untuk melayaninya. Tubuhnya sudah lemas setelah mencapai puncak kenikmatan tapi Dewi masih memaksanya.


***


Menjelang magrib, Eric bangun dari tidur karena ia merasa lapar. Ia beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Tak lupa ia ke ruang tamu untuk menutup gorden jendela dan tanpa sengaja matanya melihat motor milik ayahnya terparkir di samping rumah Dewi. Awalnya Eric pikir bahwa pasti ayah dan ibunya sedang bertamu tapi karena penasaran ia duduk dulu sejenak di sofa dan tiba-tiba ia melihat ayahnya keluar dari rumah Dewi dan langsung menghampiri motornya. Eric menunggu ibunya akan keluar juga dari rumah tersebut namun tidak ada hingga suara motor terdengar dan ayahnya berlalu. "Buat apa ayah datang ke rumah Dewi!" bisiknya dalam hati.


Eric meraih ponsel di meja lalu menghubungi ibunya karena ia sangat penasaran melihat ayahnya keluar dari rumah Dewi.


Melihat nama Eric muncul di layar ponsel, ibu Elma sangat senang karena sudah lama Eric tidak pernah lagi menghubunginya. Ibu Elma berharap Eric sudah melupakan kesalahannya dan hatinya sudah terbuka untuk menerima Dewi.


"Iya, halo Nak, tumben nelpon sama Ibu!" sapa ibu Elma.


"Ibu ada di mana sekarang?" tanya Eric tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Ada di rumah Nak, kamu mau ke sini?" sahut ibunya.


"Nggak Bu, oh ya... Ayah di mana sekarang?" tanya Eric lagi.


"Tadi dia keluar, katanya mau ke rumah pak Regan untuk membahas bisnisnya,"


"Ohhh,"


"Memangnya ada apa yah?"


"Nggak kok Bu, cuman nanya-nanya doang,"


Eric mematikan ponselnya. "Sepertinya ada yang tidak beres dengan ayah. Saya akan mencari tahu ada hubungan apa antara ayah dan Dewi," guman Eric dalam hati.


Sementara itu pak Hendrik baru saja sampai ke rumah. Ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


Tadi ibu Elma tidak sempat menyapanya waktu baru tiba di rumah karena sedang sibuk memasak di dapur. Tadi ia segera meninggalkan pekerjaannya untuk menemuinya tapi suaminya sudah terlanjur masuk ke kamar mandi. Istrinya baru datang menghampiri ketika ia sudah berpakaian.


"Tadi Eric nelpon dan menanyakanmu!"


"Entahlah, saya juga bingung karena dia hanya mengatakan bahwa sekedar nanya-nanya doang,"


Deg! Pak Hendrik duduk di tepi ranjang. "Jangan-jangan Eric melihatnya tadi saat keluar dari rumah Dewi.


Ibu Elma kembali ke dapur karena masakannya masih ada di kompor. Setelah istrinya pergi, pak Hendrik menghubungi Eric karena perasaannya tidak enak.


"Iya, halo Pa!"


"Kata Ibumu, kamu tadi cari Ayah yah?"


"Cuman sekedar bertanya aja,"


"Ohh, ini Ayah baru aja pulang dari rumah pak Regan, biasa... urusan bisnis,"

__ADS_1


Eric semakin yakin bahwa ada yang tidak beres setelah mendengar ucapan ayahnya. Nyata-nyata tadi ia melihat ayahnya keluar dari rumah Dewi dan bisa-bisanya ia berbohong.


"Ohhhh,"


Eric tidak mau lagi memperpanjang percakapan dengan ayahnya. Ia tak habis pikir dengan perjalanan hidup keluarganya yang semakin pelik.


Ia melangkah gontai ke dapur karena perutnya sudah berbunyi minta untuk segera diisi. Di kulkas hanya ada telur dan mie instan. Ia pun mengolahnya sambil membayangkan istrinya yang selalu melayaninya di meja makan dengan riang. Saat makan pun ia selalu ceria, bersenda-gurau dan kadang mengundang tawa.


Kini semua tinggal kenangan. Tak terasa matanya berkaca-kaca mengingat kenangan manis saat berkumpul dengan istri dan anaknya yang begitu menggemaskan.


Mie dan telur sudah masak. Ia memaksakan diri untuk makan karena takut jika sakit dan tidak bisa lagi pergi mencari istri dan anaknya. Ia sudah berjanji dalam hati untuk terus mencari keberadaan mereka.


Usai makan, ia membuka ponselnya dan mencari akun Facebook milik istrinya tapi rupanya Anna sudah memblokir namanya sehingga apa yang dicari tidak bisa lagi muncul. Sebenci itukah Anna kepadaku? Andai kamu tahu bahwa cinta dalam hati ini tidak pernah berubah, sekalipun ada mantan kekasihku yang selalu berusaha menggodaku. Andai kamu tahu saat ini saya begitu tersiksa tanpa dirimu.


"Trrrddd... trrddd... trrrddd!" ponselnya bergetar tanda ada sebuah panggilan yang masuk.


Ia segera memeriksa, ternyata nomor baru. Seketika matanya berbinar dan berharap bahwa nomor tersebut adalah nomor Anna yang baru.


"Halo!" sapanya dengan semangat.


"Halo Pak Eric, saya Susi, maaf yah saya ganggu Bapak!" ucap Susi. Mendengar suara Susi, mimik wajahnya pun langsung berubah dan kecewa.


"Iya, ada apa?" tanyanya dengan suara datar.


"Yuk, kita makan di luar!" ajak Susi penuh harap.


"Maaf yah, saya sudah makan!" sahut Eric lalu memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


Eric menghempaskan tubuhnya di sofa dan beberapa saat kemudian ia kembali bangun dan mengintip ke rumah tetangga karena mendengar suara kendaraan yang baru datang. Dikiranya bahwa ayahnya yang datang lagi di rumah tetangga.


Tampak seorang laki-laki yang perawakannya tinggi dan berbadan kekar turun dari motor dan Dewi pun keluar menyambut pria tersebut dengan mengalungkan kedua tangannya pada leher dan pria itu menciumnya lalu keduanya masuk kedalam rumah.


Eric sangat risih melihat adegan tersebut. Kini ia semakin yakin bahwa mantan kekasihnya itu bukanlah perempuan baik-baik.

__ADS_1


Rupanya Dewi masih dikuasai oleh obat perangsang yang ia minum tadi sehingga pak Hendrik tidak bisa memberikan kepuasan kepadanya akhirnya ia kembali menghubungi nomor ponsel milik Johan yang kebetulan sudah aktif.


__ADS_2