MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
52. Meresahkan Saja


__ADS_3

Malam harinya pak Hendrik, ibu Elma dan Erika sudah bersiap berangkat ke Mall. Kendaraan diarahkan ke rumah Eric untuk mengajaknya ikut serta.


Eric dan Felyn juga sudah siap menunggu di teras rumah ketika mereka tiba di sana.


Mereka berangkat dengan hati yang senang. Ketika dalam perjalanan Eric lebih banyak diam dan hal ini menjadi perhatian kedua orang tuanya.


"Kapan kamu menjemput Anna?" tanya Ibu Elma kepada Eric.


"Entahlah, Bu," sahut Eric dengan lesu.


"Harusnya kamu tegas dan bertindak cepat. Apa pun risikonya harus dihadapi dan jangan menyerah! Atau kamu mau jika ada pria lain yang meminangnya?" ujar pak Hendrik.


Eric tertunduk lesu dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari ayahnya karena sesungguhnya dalam hati ia sangat tidak rela jika Anna sampai menjadi milik orang lain tapi untuk menjemputnya ke sana ia merasa sungkan tanpa ada izin dari kedua orang tua Anna.


Sementara kedua orang tua Anna juga berharap bahwa jika Eric masih mencintai dan menginginkan Anna untuk kembali maka pasti ia akan datang menjemputnya.


Intinya di sini, kedua belah pihak saling berharap tanpa ada komunikasi yang jelas sehingga yang terjadi adalah kesalahpahaman yang tak berujung.


"Siapkan dirimu dan kita menjemput istrimu hari jumat mendatang!" kata pak Hendrik dengan tegas.


"Tapi...," sahut Eric dengan ragu.


"Tapi apa? Apa kamu sudah punya kekasih baru sehingga tidak mau menjemput istrimu? Ingat, anak kamu sangat butuh perhatian dan pendampingan seorang ibu tapi bukan dari ibu tiri melainkan ibu kandungnya!" ujar pak Hendrik.


"Nggak Ayah, hanya saja saya berpikir, apakah Anna mau pulang atau bagaimana,"


"Itu persolan di belakang, yang terpenting sekarang adalah kita menjemputnya,"

__ADS_1


Erika dan Felyn tidak memperdulikan percakapan serius yang terjadi selama perjalanan. Keduanya malah sedang main tebak-tebakan dengan poster yang terpajang di hampir di setiap bagian pinggir jalan yang didominasi oleh foto atau gambar caleg.


Tidak lama kemudian mobil sudah tiba di Mall. Mereka segera turun. Pak Hendrik membiarkan istri, anak, dan cucunya masuk ke Mall untuk berbelanja sedangka ia bersama Eric menunggu di parkiran karena masih ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan kepada anaknya sehubungan dengan usaha yang akan dilakukan agar Anna mau kembali.


"Terserah Ayah aja, mana baiknya!"


"Saya sudah memikirkan matang-matang tentang rencana ini, kita tinggal menunggu waktu yang tepat untuk berangkat ke sana.


Sudah hampir satu jam keduanya duduk di sebuah bangku panjang yang ada di dekat parkiran tapi ibu Elma, Erika, dan Felyn masih belum kembali juga.


"Selamat malam!" sapa seseorang yang suaranya sudah tak asing lagi bagi mereka.


Rupanya Dewi datang juga ke tempat tersebut. Ia datang bersama Johan sambil bergandengan tangan dengan mesra. Sontak pak Hendrik dan Erik kaget saat melihat kedatangan mereka, terutama Eric yang sudah mengenal laki-laki yang datang bersama Dewi yang tak lain adalah kekasih sahabatnya, Susi.


Sapaan Dewi tak mendapat jawaban, malah pak Hendrik dan Eric langsung buang muka.


Tak lupa Eric mengambil gambar mereka menggunakan ponselnya. Ia akan menjadikan foto tersebut sebagai bukti untuk diperlihatkan kepada Susi nantinya ketika bertemu karena nomor ponselnya sudah tidak bisa dihubungi.


"Kenapa juga wanita itu muncul lagi, meresahkan saja," kata pak Hendrik dengan pelan tapi suaranya sangat kelas didengar oleh Eric dan ia pun sependapat dengan ayahnya.


"Iya Ayah, kita harus berhati-hati dan jangan sekali-kali meladeni dia!" ucap Eric.


Pak Hendrik mengajak Eric untuk masuk ke Mall biar tidak kepikiran terus dengan si pelakor yang sudah menghancurkan rumah tangga mereka.


Keduanya geleng-geleng kepala ketika berpapasan dengan orang-orang terkasihnya masing-masing menjinjing barang belanjaannya. Tampak wajah mereka berseri-seri wjij alau sedikit lelah.


Tanpa dikomando, pak Jendrik dan Eric langsung menghampiri dan membantu untuk meringankan beban mereka.

__ADS_1


"Saya udah haus bangat, nih" seru Felyn dengan suara serak. Ia sudah capek berkeliling di Mall sehingga tenggorokannya terasa kering.


"Sabar Sayang, nanti kita singgah di restoran soalnya di sana makanan dan minumannya enak, loh!" bujuk Eric dengan lembut.


Sebenarnya di Mall tempat mereka saat ini ada juga tersedia makanan dan minuman tapi Eric menghindari pertemuan dengan Dewi dan Johan yang bisa saja menimbulkan masalah baru.


Felyn mengangguk menuruti perkataan ayahnya lalu naik le mobil sambil mendekap boneka berbie yang dibeli oleh oma buat Vasya, teman sepermainannya.


"Apa saja yang kamu beli, Erika?" tanya pak Hendrik ketika mobil sudah melaju meninggalkan area Mall.


"Banyak bangat, soalnya kebutuhan saya juga banyak," sahut Erika sumringah.


Ia sangat puas karena tadi ibunya membebaskan dirinya untuk membeli apa saja yang dibutuhkan. Ia pun bebas memilih beberapa potong pakaian dan beberapa pasang sepatu yang tren pada masa kini. Tak lupa juga ia membeli farfum yang wanginya sangat mewah dan juga tak ketinggalan, alat make up yang lengkap.


Demikian juga dengan ibu Elma, ia membeli tiga buah tas kekinian dan satu set perhiasan emas. Soal uang, ibu Elma tidak pusing karena suaminya menyerahkan semua kartu ATM miliknya untuk dipergunakan.


Eric menghentikan mobil berhenti tepat di depan restoran yang sering ia kunjungi ketika masih berdua dengan Anna. Tempat ini banyak menyimpan kenangan yang indah dan sulit untuk dilupakan. Saat Anna mengidam dulu ia selalu merindukan untuk makan di tempat ini karena menurutnya, selain masakannya enak dan segar, tempat ini juga sangat bersih walaupun terlihat sederhana.


Mereka duduk mengelilingi satu meja dan mulai melihat daftar menu yang ada lalu memesan makanan tersebut sesuai dengan keinginan masing-masing.


Eric memesan makanan yang sering ia makan dulu bersama dengan Anna dan selama berada di tempat itu, ingatannya tak lepas dari kenangan masa lalu.


Erika dan Felyn tampak sangat bahagia menikmati minuman segar yang dipesannya tadi. Rasa haus dan lelah hilang seketika.


Bagaimana dengan usahamu saat ini? Apakah sudah ada kemajuan?" tanya pak Hendrik kepada Eric setelah mereka selesai makan.


"Sepertinya saya akan menambah satu gedung lagi karena semakin hari semakin banyak permintaan dan karyawan biasanya kewalahan. Jadi saya juga akan menambah karyawan dua atau tiga orang lagi," jawab Eric.

__ADS_1


Selama ia mengurus bisnis milik orang tuanya, Eric terlihat semakin sibuk namun ia tidak pernah lalai untuk mengurus anaknya. Hanya saja di siang hari kadang kala ia menitipkan Felyn kepada pak Darman dan ibu Lastri untuk mengawasi setelah pulang dari sekolah.


__ADS_2