MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
51. Jangan Sampai Menyesal


__ADS_3

Hari ini ibu Elma pergi berbelanja ke pasar, mumpung hari libur karena tanggal merah. Bulan lalu suaminya membeli sebuah kendaraan roda empat yang digunakan untuk berbelanja kebutuhan di warung yang kini telah berubah menjadi rumah makan dan sudah mempekerjakan beberapa karyawan.


Pak Darman dan ibu Lastri yang diberi tugas untuk mengawasi para karyawan dan mencatat bahan-bahan yang dibutuhkan. Kadang kala mereka sendiri yang berbelanja ke pasar, hanya saja pak Darman belum bisa menyetir mobil sehingga pak Hendrik masih turun tangan.


Pak Hendrik hanya sesekali datang ke rumah makan setelah memberi kepercayaan kepada pak Darman dan ibu Lastri. Kini ia lebih banyak di rumah, mangantar istrinya ke sekolah di pagi hari dan menjemputnya saat pulang. Ia mengisi waktunya untuk menata kebun sayur yang ada di pekarangan rumahnya. Kebun itu tidak luas karena hanya beberapa bedengan saja tapi hasilnya sangat lumayan. Selain untuk dikonsumsi di rumah juga sebagian hasilnya dibawa ke rumah makan.


"Apakah masih ada yang mau dibeli?" tanya pak Hendrik kepada istrinya. Ia tampak gelisah karena secara tak sengaja melihat Dewi berada yang juga di tempat tersebut.


"Iya Mas, saya mau beli baju buat Erika," sahut ibu Elma setelah membayar harga bumbu-bumbu dan sayuran yang sudah diantar ke mobil oleh karyawan yang bekerja di toko langgananya itu.


Nafas pak Hendrik naik-turun karena Dewi semakin dekat dan berjalan ke arah di mana mereka berada. Ia membelakangi agar tidak terlihat oleh perempuan yang sudah menghancurkan hidupnya itu.


"Ada apa Mas, kok gelisah?" tanya ibu Elma dengan heran.


"Nggak ada apa-apa, tapi sepertinya saya lapar. Gimana kalau kita pulang saja, anti malam baru kita jalan-jalan ke Mall biar Erika juga ikut dan bisa pilih sendiri apa yang ia butuhkan, sekalian juga Ibu belanja di sana," kata pak Hendrik beralasan.


"Oke," sahut ibu Elma dengan penuh semangat. Ia sangat senang bila diajak untuk jalan-jalan, apalagi kalau jalan-jalannya ke Mall, di sana ada banyak barang-barang yang bermerek.


Pak Hendrik melangkahkan kaki menuju parkiran mobil dengan cepat hingga istrinya ngos-ngosan memburunya di belakang.


Hatinya lega saat sudah duduk di belakang setir. Kini ia mulai mengatur nafasnya hingga normal kembali.


"Mas udah lapar bangat yah? Tunggu saya telepon ibu Lastri agar dia siapkan makanan buat kita!"


"Terima kasih atas perhatiannya, Sayang!"

__ADS_1


Pasangan ini sangat romantis sejak keduanya akur kembali. Pak Hendrik sudah berubah total dan hal itu sangat dirasakan oleh ibu Elma. Tubuhnya sudah mulai segar dan berisi kembali bahkan ia tampak lebih muda dari usia yang sebenarnya. Semangat hidupnya sudah kembali dan ia merasakan hidupnya lebih baik dari sebelumnya.


Tiba di rumah makan miliknya, keduanya disambut oleh karyawan dengan sopan dan penuh hormat apalagi pak Hendrik selalu menampakkan sikapnya yang ramah. Ia berbasa-basi dengan menanyakan kabar sambil tersenyum penuh kekeluargaan. Ibu Elma juga sudah mulai meniru sikap suaminya membuat pak Hendrik merasa senang dan semakin bersemangat.


Di meja sudah terhidang makanan kesukaan mereka. Aromanya kini sudah membuat pak Hendrik lapar benaran karena tadi rasa lapar hanya digunakan sebagai alasan agar tidak bertemu dengan si pelakor. Banyak hal yang ia hindari karena istrinya bisa saja mengamuk di pasar jika Dewi cari masalah lagi.


"Terima kasih Bu Lastri, sudah menyiapkan makanan buat kami!" ucap ibu Elma.


"Sama-sama Bu, dengan senang hati karena sudah menjadi kewajiban kami," sahut ibu Lastri dengan ramah.


Kehidupan perekonomian pak Darman dan ibu Lastri kini juga sudah mulai berubah. Kalau dulu mereka hanya menjadi buruh harian jika ada yang memerlukan tenaganya, sekarang sudah mempunyai pekerjaan tetap dan gajinya juga dinaikkan oleh pak Hendrik secara bertahap. Sedikit demi sedikit ia mulai merenovasi rumahnya bahkan kebutuhan anak-anaknya sudah dapat terpenuhi, malahan lebih dari cukup. Itulah sebabnya mereka sangat bersyukur dan berterima kasih kepada keluarga pak Hendrik yang sudah mempekerjakan di rumah makan miliknya.


Satu hal sebagai modal utama bagi mereka dalam bekerja adalah kejujuran dan selama bekerja di tempat tersebut tak satu kali pun ditemukan adanya ketidakjujuran pada mereka berdua. Itulah sebabnya pak Hendrik memberikan keparcayaan penuh kepadanya.


Usai menikmati makanannya, Pak Hendrik dan ibu Elma menemui cucunya yang sedang bermain di teras rumah bersama dengan Vasya, anak ibu Lastri.


Felyn sangat senang karena kedatangan oma dan opa yang sering membawa mainan untuknya. Matanya melirik ke sana ke mari namun kali ini ia tidak melihat sesuatu seperti biasanya. Opa dan omanya saling berpandangan karena mengerti dengan bahasa tubuh yang diperlihatkan oleh cucunya.


"Hari ini Oma dan Opa nggak bawa ole-ole soalnya nanti malam kami mau mengajak kamu jalan-jalan ke Mall," kata ibu Elma dengan lembut.


"Hore, hore... jalan-jalan, jalan-jalan," seru Felyn dengan riang membuat opa dan omanya tersenyum bahagia.


"Opa dan Oma juga harus janji untuk beli mainan buat Vasya!" kata Felyn lagi.


"Oh, iya, nggak masalah, sayang... Nak Vasya mau dibeliin mainan apa?" tanya ibu Elma dengan ramah.

__ADS_1


Vasya menunduk karena merasa malu sambil menyibukkan diri dengan menyisir rambut boneka barbie milik Felyn.


"Beliin boneka barbie soalnya Vasya nggak punya biar besok-besok kami bisa main boneka bersama-sama!" ujar Felyn mewakili temannya.


"Beres Sayang, tolong ingatkan Oma nanti yah biar nggak lupa lagi, maklum Oma udah tua jadi cepat lupa!"


"Siap Oma,"


Pak Hendrik dan ibu Elma masih menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak sambil mengawasi cucunya yang sedang bermain. Dalam hati ada rasa iba melihat Felyn yang terpisah dari ibunya sejak beberapa waktu yang lalu dan sampai saat ini Eric dan Anna belum juga baikan. Entah apa yang masih menjadi jurang pemisah di antara mereka.


"Kapan ibumu datang ke sini?" tanya ibu Elma kepada Felyn.


"Kata papa, nanti kalau saya libur, kami akan jemput mama," sahut Felyn dengan polos.


"Kapan kamu libur?" tanya pak Hendrik.


"Nggak tahu," jawab Felyn.


Mereka diam beberapa saat dengan pikiran masing-masing.


"Sebaiknya kita bertindak Mas, biar Eric tidak menunda-nunda waktu lagi untuk menjemput istrinya karena banyak hal yang dijaga jangan sampai anak kita menyesal seumur hidup!"


"Kamu benar Bu, nanti malam kita ajak Eric juga untuk jalan-jalan, sekalian kita bahas hal ini, siapa tahu ada solusi tepat yang kita temukan,"


Menjelang sore keduanya pamit kepada ibu Lastri dan sekalian menitipkan cucunya seperti biasa karena Eric belum pulang dan Felyn juga sudah terbiasa dengan hal tersebut sejak ia tinggal bersama ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2