MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
42. Jangan Ikut Campur Urusanku!


__ADS_3

Hari ini Eric bekerja di kantor seperti biasanya namun ada yang berbeda dari Susi, sahabatnya. Akhir-akhir ini Susi agak berubah dan tidak seagresif seperti yang lalu-lalu. Cek per cek ternyata Johan membatasi pergaulannya hingga ponselnya pun hanya berisi beberapa nomor saja bahkan bisnis yang dilakoni dan baru saja mulai berkembang harus ia korbankan sehingga hubungannya dengan Anna juga sudah terputus.


Awalnya Susi sangat tidak setuju dengan arah pikiran Johan tapi kekasihnya itu beralasan bahwa semua yang dilakukan itu karena rasa cinta dan ia tidak mau kehilangan perhatian dari dirinya karena harus mengurus bisnis.


"Selamat pagi Susi!" sapa Eric dengan ramah dan ia ingin memancing sahabatnya, siapa tahu ada info baru tentang Anna yang diketahui oleh Susi.


"Selamat pagi juga!" sahut Susi kurang semangat.


"Kamu sakit?" tanya Eric.


"Nggak kok, tapi hati saya lagi galau gara-gara Johan sudah menghapus semua nomor ponsel orang-orang di ponselku yang menurutnya nggak penting, termasuk nomor ponsel kamu dan juga Anna padahal bisnisku bersama Anna sedang berkembang. Ia juga melarangku untuk bergaul dengan sembarang orang dan tidak boleh dekat-dekat dengan pria lain," sahut Susi dengan sedih.


"Wahhh, keterlaluan bangat tuh pacar kamu, baru pacaran aja udah ngatur-ngatur sampai ngelarang-larang, apalagi nanti kalau sudah jadi pasangan suami-istri," ucap Eric ikut yang ikut sebal mendengar penuturan sahabatnya.


"Iya juga sih, kemarin aja waktu kami ke Mall dan di sana ada seorang pria yang saya juga nggak kenal tapi dengan ramah ia menyapa sambil tersenyum dan otimatis saya jawab dan balas senyumannya membuat Johan naik darah bahkan dengan kasar ia menarik tanganku untuk menjauh dari pria tersebut," ungkap Susi.


"Trus, kamu diam aja? Laki-laki yang kayak gitu nggak usah di pertahankan!"


Susi sudah terisak-isak karena hatinya terasa pedih. Ia tidak bisa lepas lagi dari Johan karena semua miliknya sudah diserahkan secara utuh kepadanya. Bayangan peristiwa sebulan yang lalu kembali muncul dalam pikirannya. Saat itu Johan datang ke rumahnya dan dengan bujuk rayu mautnya ia berhasil meyakinkan dirinya sehingga tanpa ragu Susi mempersembahkan apa yang selama ini dijaganya dengan baik karena rencana akan ia perrsembahkan kepada suaminya kelak di malam pertama.


Tak dapat dipungkiri bahwa malam itu Susi juga sangat menikmati permainan yang disuguhkan oleh Johan dan keduanya melakukan atas dasar cinta. Tak ada yang perlu disesali karena Johan sudah berjanji bahwa bulan depan ia akan segera menikahinya namun sikap Johan yang sangat membatasi pergaulannya kini membuat Susi merasa tertekan.


Susi tahu bahwa Johan sangat mencintainya karena terbukti dari perhatiannya yang dapat dirasakan setiap saat.


"Maaf Susi kalau saya ikut campur urusan pribadimu!" kata Eric. Ia merasa besalah melihat sahabatnya bersedih.


"Nggak apa-apa," ucap Susi sambil menunduk.


Mendengar bel berdentang, Eric segera ke ruangannya dan langsung sibuk dengan pekerjaan yang sudah menantinya di meja. Di tengah kesibukannya sesekali ia menyempatkan diri untuk memeriksa ponselnya.

__ADS_1


Ada pesan dari Esty. Ia membukanya dan tak percaya dengan foto yang dikirim oleh kakaknya. Anna sedang berada di restoran bersama seorang pria. Keduanya tampak sangat menikmati kebersamaannya.


Tak lama kemudian masuk lagi pesan di ponselnya dan pengirimnya masih sama. Sebuah video yang membuat mata Eric terbelalak dan nafasnya naik-turun. Bagaimana tidaj, pria dalam video yang berdurasi satu menit itu meremas jemari Anna sambil menatapnya dengan mesra.


Jari-jari Eric mengetik dengan lincah untuk memperjelas apa yang baru saja ditontonnya.


"Kakak dapat dari mana ini foto dan video ini?"


Eric mengirim chat tersebut kepada kakaknya dan langsung centang dua berwarna biru.


"Saya yang ambil sendiri foto dan videonya, kebetulan kakak melihatnya di sebuah restoran tampat kami singgah,"


Eric mengusap wajahnya dengan kasar setelah membaca balasan chat dari Esty. Ia tidak percaya namun kenyataan sudah berbicara. Mungkin Anna sudah menemukan kebahagiaannya. Itu yang ada dalam pikiran Eric saat ini.


Sepanjang hari itu ia tidak bisa lagi fokus untuk bekerja hingga tiba waktunya untuk pulang. Ketika lewat di ruangan kerja Susi ia mendengar suara isak tangis.


"Kamu kenapa, Susi?" tanya Eric sambil memegang bahu sahabatnyasa


"Ada apa dengan Johan?" tanya Eric semakin penasaran.


"Ia memintaku lagi untuk melayaninya,"


"Ttrus, masalahnya apa?"


"Saya takut,"


c


"Takut kenapa?"

__ADS_1


"Takut dosa dan juga takut hamil,"


Eric jadi bingung karena kehabisan bahan untuk ngomong lagi kepada Susi. Di satu sisi ia ingin pulang saja tapi di satu sisi juga ia tidak tega meninggalkan sahabatnya sendirian.


"Oh, jadi ini kelakuan kamu di belakangku, pantasan aja panggilanku diabaikan karena kamu sedang berduaan dengan pria lain," seru Johan yang tiba-tiba mucul di pintu membuat Eric merasa tersinggung.


"Anda jangan salah paham, saya adalah teman kerja sekaligus bersahabat dengan Susi!" balas Eric.


"Oh, yah, bukankah kamu adalah suami Anna? Tolong jangan ikut campur dengan urusan kami! Urus saja rumah tanggamu yang tidak beres itu!"


"Hey, jangan bawa-bawa persoalan rumah tangga saya jika kamu tidak tahu duduk permasalahannya!"


"Anda berani membentakku?"


Johan memegang kerah kemeja yang dikenakan oleh Eric dengan emosi yang menyala-nyala dan tanpa diduga Eric menginjak jari kakinya dengan tekanan yang keras sehinga ia berteriak kesakitan dan melepaskan cengkramannya.


Susi menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa ketakutan melihat kekasih dan sahabatnya yang terbawa emosi.


"Makanya jangan coba-coba cari gara-gara denganku!" kata Eric sambil berlalu.


Setelah Eric berlalu, Johan menatap Susi yang masih menangis sesenggukan dengan geram.


"Apa yang kau tangisi?"


Tak ada suara membuat Johan semakin marah. Ia berdiri lalu keluar dari ruangan kerja tersebut sambil membanting pintu dengan keras.


Susi semakin sesenggukan melihat sifat asli kekasihnya yang sangat brutal dan tak pernah disangkah-sangkah sebelumnya. Sikap manis dan mesranya sudah hilang entah ke mana membuat Susi sangat menyesal. Baru beberapa bulan ini ia mengenal Johan sebagai laki-laki yang penyayang dan perhatian. Seorang pria yang sudah mampu menggetarkan hati dan membuat hatinya selalu berbunga-bunga hingga tanpa segan telah menyerahkan kesuciannya kepada pria tersebut sebelum waktunya.


Setelah merasa agak baikan Susi bangkit dari duduknya dan meraih tas yang ada di meja lalu pulang ke rumah membawa segala beban berat yang membuatnya lelah. Ia tidak mengetahui bahwa Johan masih mengawasinya dari warkop yang ada di dekat kantor.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama ia menunggu dan dari arah timur muncul sebuah grab yang ia pesan.


__ADS_2