MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
81. Depresi


__ADS_3

Anna mundur ketika perempuan itu datang menghampiri sambil menadahkan tangan ke arahnya dengan tatapan yang menakutkan.


Melihat Anna yang ketakutan, Eric segera menyerahkan Kenzo kepada Susi lalu menghampiri istrinya. Ia juga merogoh dompet yang ada di saku celananya dan mencabut selembar uang pecahan lima puluh ribu lalu memberikan kepada perempuan itu.


Seketika itu juga perempuan tersebut tertawa terbahak-bahak. Tampak deretan giginya yang rapi namun kurang terawat.


"Astaga, Dewi...!!!" seru Eric dengan kaget.


"Dewi???" seru Anna pula dengan dahi berkerut.


"Iya, dia adalah Dewi," sahut Eric.


Susi datang menghampiri mereka dan ia juga yakin bahwa perempuan yang kurang waras ini adalah Dewi.


Dewi tidak peduli dengan mereka. Ia pergi dengan senang sambil mengibas-ngibaskan uang pemberian Eric di tangannya.


Dalam kebingungan, seorang penjaga toko datang menghampiri mereka dan menceritakan tentang kehidupan perempuan yang sehari-harinya berada di sekitar toko tersebut karena ia sudah tidak punya tempat tinggal lagi.


Dewi sudah diusir oleh kedua orang tuanya. Pak Aril dan ibu Zena sudah tidak sanggup lagi menerima kenyataan hidup yang dialami oleh Dewi yang selalu membuat masalah dan mempermalukan keluarga. Setelah mengusir Dewi dari rumah, silih berganti orang-orang datang menagih utang yang jumlahnya tidak sedikit membuat mereka stres sehingga mereka terpaksa menjual rumahnya lalu pindah ke daerah lain tanpa sepengetahuan Dewi.


Tidak ada lagi yang mau peduli dengan kehidupan Dewi waktu itu meski perutnya sudah besar hingga ia melahirkan. Nasib malang menimpa bayinya saat lahir. Bayi itu sudah tidak bernyawa dan mungkin hal ini juga yang membuat nyawa Dewi hampir melayang.


Dalam keadaan yang lemah dan tak berdaya serta tidak punya biaya hidup lagi, menyebabkan ia depresi berat.


Anna merasa iba mendengar cerita dari penjaga toko tersebut. Matanya sampai berkaca-kaca.


Sementara itu di bawah pohon yang tumbuh di sudut halaman toko tampak Dewi duduk di tanah tanpa sehelai alas dan menikmati roti sambil sesekali tertawa.

__ADS_1


"Tolong gendong Krisna dulu!" kata Anna.


Eric meraih Krisna dari gendongan istrinya. Setelah itu Anna berjalan menghampiri Dewi dan Susi pun ikut di belakangnya sambil menggendong Kenzo.


"Hey, kalian mau ke mana?" seru Eric kepada mereka.


Anna dan Susi mendengar seruan Eric tapi keduanya tidak mengubris dan terus saja melangkah.


"Masih lapar, Mbak?" tanya Anna dengan lembut. Ia melihat roti yang dimakan oleh Dewi sisa sedikit.


Dewi melotot ke arah Anna dan beberapa saat kemudian ia tertawa lagi.


"Kalian siapa, kenapa peduli kepadaku?" tanya Dewi dengan mata melotot.


"Kami ini temanmu, masakan Mbak lupa," sahut Anna.


"Kalian pasti bohong soalnya aku nggak punya siapa-siapa lagi, jadi tolong pergi sekarang juga!" Kata Dewi dengan tegas.


Anna dan Susi saling berpandangan dan Susi memberi kode dengan bahasa isyarat kepada Anna agar menjauh dari tempat itu. Keduanya meninggalkan Dewi dan kembali bergabung dengan Eric. Rupanya Johan juga sudah datang ke tempat itu.


"Untuk apa kalian memperdulikan perempuan itu? Apa yang ia alami sekarang itu adalah akibat dari perbuatannya," seru Johan dengan kesal. Ia sudah mendengar berita dari Eric tentang perempuan yang ditemui oleh Anna dan Susi.


"Jangan gitu dong, Mas! Kita harus peduli terhadap orang lain!" ujar Susi.


"Perempuan itu adalah pelakor yang tak pantas untuk dikasihani. Ayo, kita meneruskan perjalanan!" ajak Johan setengah memaksa.


Mereka tidak jadi masuk ke toko untuk membeli karena Johan tampak kurang senang. Mereka berjalan menuju ke tempat parkiran namun Anna kembali menengok ke belakang dan seketika itu juga ia berlari mendapatkan Dewi yang sudah rebah di tanah.

__ADS_1


Anna sangat panik dan berteriak minta tolong kepada suaminya agar datang membantu menggotong tubuh Dewi untuk dinaikkan ke mobil dan selanjutnya akan dibawa ke rumah sakit.


Johan sangat kesal karena diajak oleh Eric untuk melakukan perintah Anna namun ia juga tidak bisa meolak. Wajahnya ditekuk ketika mengangkat tubuh yang kurus itu.


"Sebaiknya kita langsung bawa dia ke rumah sakit jiwa!" usul Johan yang masih kesal karena merasa direpotkan


"Benar juga, kita antar dia sekarang!" ujar Anna dengan semangat.


Mereka semua naik ke mobil dan Johan yang naik motor mengikuti dari belakang.


Melihat niat istrinya yang tulus ingin menolong Dewi, Eric sangat terharu sehingga ia tidak mau banyak protes walau dalam hati sebenarnya sependapat dengan Johan.


Tiba di rumah sakit jiwa, mereka disambut oleh petugas di sana. Para petugas itu membantu Eric dan Johan untuk menggotong tubuh Dewi lalu dibaringkan di bangsal yang sudah disiapkan.


"Tolong diperiksa dan dirawat, Pak, karena sepertinya ia pingsan! Masalah biaya, tidak usah khawatir, nanti kami yang bertanggung jawab!" kata Anna setelah tiba di kamar perawatan.


Petugas itu memeriksa keadaan Dewi dengan serius lalu memberitahukan bahwa ia bukan pingsan tapi tidur. Rupanya ia sangat kekenyangan setelah makan roti tadi sehingga membuatnya tertidur pulas.


Mereka saling berpandangan sambil tertawa karena merasa geli namun tawa mereka langsung berhenti karena melihat Dewi membuka mata.


Ia memandang sekeliling lalu berteriak-teriak seperti orang yang ketakutan. Beberapa petugas datang dan berupaya menenangkan tapi malah mereka kalah karena Dewi sangat kuat dan mengamuk akhirnya ia disuntik dengan obat penenang.


Setelah Dewi ditangani oleh petugas, mereka pun pamit.


"Tolong hubungi nomor ini ketika ada apa-apa dengan perempuan tadi!" kata Anna sambil menyodorkan kartu namanya kepada salah seorang petugas.


"Siap, Bu," sahut petugas itu dengan sopan.

__ADS_1


Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Dia atas mobil mereka lebih banyak diam karena sibuk dengan pikiran masing-masing.


__ADS_2