MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
65. Tidak Mau Merepotkan


__ADS_3

Sudah satu minggu Susi menginap di rumah Anna namun kabar tentang keberadaan Johan belum ada. Ia sudah mulai merasa tidak enak menumpang gratis namun untuk pulang ke rumah orang tuanya juga pun ia tidak berani sebelum menemukan ayah dari anak yang ada dalam kandungannya.


"Maaf An, jika kehadiranku di sini membuatmu repot!" kata Susi karena merasa bersalah ketika melihat Anna begitu lelah saat tiba di rumah.


"Nggak boleh ngomong seperti itu, Susi! Kami ikhlas kok, mau menolong kamu," ucap Anna.


"Mungkin ada baiknya jika saya cari pekerjaan sambil terus mencari-cari keberadaan Johan, pekerjaan apa pun yang penting halal soalnya saya bosan nggak ngapa-ngapain di rumah," tutur Susi dengan serius.


Anna dan Eric sangat paham perasaan Susi saat ini, tapi mau kerja di mana, sementara kondisi tubuh sahabatnya itu juga tidak stabil karena pengaruh kehamilan.


"Tapi kamu masih lemas," kata Anna.


Susi terdiam. Ia membenarkan ucapan Anna bahwa dirinya masih lemas dan tidak mungkin ada orang yang mau mempekerjakan dirinya dalam keadaan yang demikian namun ia juga tidak mau merepotkan mereka secara terus- menerus.


"Apakah ada kemungkinan jika saya membantu-bantu ibu Lastri di rumah makan?" tanya Susi yang tiba-tiba punya ide.


"Kamu yakin mau kerja di rumah makan?" tanya Eric.


Susi mengangguk senang untuk meyakinkan Eric dan Anna karena ia tidak mau selalu menumpang secara gratis di rumah mereka.


"Kalau kamu memang mau kerja, itu soal gampang, tinggal menghubungi ayah saja," ujar Eric.


Keesokan harinya Susi sudah diperbolehkan kerja di rumah makan dan ia diberi pekerjaan yang gampang seperti memotong sayuran.


"Jangan dipaksakan yah, kalau kamu nggak tahan dengan bau bumbu!" kata ibu Lastri kepada Susi yang beralih untuk mengupas bawang setelah pekerjaannya memotong sayur telah selesai.


"Nggak, kok, Bu," sahut Susi sambil tersenyum. Ia sangat senang karena bisa bekerja dan juga punya banyak teman. Ia sangat cepat akrab dengan karyawan yang lainnya.

__ADS_1


Ibu Lastri mendapat tugas khusus dari Anna untuk memantau Susi agar tidak memaksakan diri untuk bekerja mengingat usia kandungannya yang masih sangat muda.


Susi masuk kerja mulai dari pukul tujuh pagi dan pulang ke rumah pada pukul lima sore untuk istirahat. Hari pertama kerja ia merasakan tubuhnya sangat letih tapi hari-hari berikutnya ia sudah mulai terbiasa bahkan sedikit beban pikirannya mulai berkurang setelah mempunyai kesibukan.


Susi berencana mencari rumah kost karena merasa tidak pantas jika tinggal serumah dengan orang yang sudah berumah tangga. Ia meminta bantuan kepada sesama karyawan untuk mencari rumah kost yang dekat dan bisa dijangkau dengan jalan kaki dari rumah makan.


"Kebetulan di tempat saya masih ada kamar yang kosong kalau kamu mau tinggal di sana," kata Naya, salah seorang karyawan yang tugasnya sebagai pelayan.


"Apakah letaknya jauh dari sini?" tanya Susi.


"Dekat bangat, nggak sampai lima menit kita jalan kaki," sahut Naya.


Tiga hari kemudian Susi pamit kepada Eric dan Anna untuk pindah ke rumah kost. Awalnya Anna keberatan karena mengkhawatirkan kondisi sahabatnya tapi alasan yang dikemukakan juga sangat masuk akal sehingga membiarkan sahabatnya untuk tinggal di rumah kost yang letaknya tidak jauh dari rumah.


Anna membantu Susi mempersiapkan segala perabotan yang diperlukan nantinya di sana.


"Oke, terima kasih!" sahut Susi.


"Semoga Johan cepat pulang dan masalahmu segera diurus!"


"Amin!"


Anna pulang ke rumahnya. Di sana suaminya sudah menunggu karena ia ingin mengajak Anna untuk menemui seseorang yang baru saja menelepon dan memesan lemari sebanyak lima puluh unit. Eric merasa perlu untuk bertemu langsung dengan orang tersebut agar lebih jelas tentang ukuran dan model yang diinginkan.


"Felyn mau ikut juga, Pa!" rengek Felyn.


"Kali ini Papa nggak ngizinin soalnya matahari sangat terik. Nanti kalau kita udah punya mobil baru Felyn bisa ikut, ke mana aja," Eric membujuk anaknya.

__ADS_1


Felyn tampak kecewa dan wajahnya cemberut.


"Tuh, ada Vasya!" ujar Eric melihat Vasya sudah datang. Sebelumnya Eric telah menghubungi ibu Lastri dan meminta agar Vasya datang ke rumah untuk menemani Felyn.


Wajah Felyn langsung berubah setelah melihat sahabatnya datang. Vasya datang sambil membawa mainan boneka barbie yang sudah mulai usang karena warnanya sudah pudar.


"Main, Yuk!" ajak Vasya.


"Ayukkk!" seru Felyn.


Keduanya langsung bergegas menuju ke teras rumah. Rupanya keinginan Felyn yang mau ikut orang tuanya sudah sirna seketika.


Eric dan Anna tersenyum melihat anaknya yang sudah asyik bermain bahkan ia hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh sedikit pun ketika mereka berpamitan.


Eric menemui orang yang sudah menghubunginya tadi di restoran Bintang di kota tersebut. Mereka pun berkenalan sambil bersalaman. Rupanya bapak itu adalah seorang pebisnis yang berasal dari luar kota dan lemari yang akan dipesan akan dipasarkan di kota tetangga.


Sebelum membicarakan hal pokok, pak Leon terlebih dahulu memesan makanan untuk mereka bertiga.


Usai menikmati makanan yang disajikan oleh pelayan, pak Leon memulai percakapannya dengan Eric sedangkan Anna menyibukkan diri dengan ponselnya.


"Saya akan coba dulu bisnis ini dan jika berhasil dan lancar maka tunggu pesanan berikut!" kata pak Leon dengan semangat.


"Amin, ditunggu!" ujar Eric.


Mereka pun berpisah.


Sebelum pulang ke rumah, Eric dan Anna singgah di toko mainan anak-anak dan membeli dua buah boneka barbie model terbaru untuk Felyn dan Vasya.

__ADS_1


__ADS_2