MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
66. Tatapan Penuh Kebencian


__ADS_3

Dewi sudah putus asa karena belum bisa menemukan Johan dan kali ini ia berusaha untuk menarik perhatian pak Gideon, tetangga pak Hendrik.


Sudah beberapa kali ia jalan dengan bapak yang bekerja di BANK itu tapi akhir-akhir ini ia merasa kesulitan untuk menemuinya. Setiap kali ia menghubungi nomor ponselnya, selalu saja istrinya yang angkat. Apakah ibu Arlin sudah mulai curiga jika suaminya berkhianat?


Kali ini sambungan telepon terhubung dan wajah Dewi seketika berbinar setelah mendengar suara pak Gideon.


"Halo Sayang, kenapa sulit sekali dihubungi? Tahu nggak, aku udah rindu berat, nih!" Dewi memulai aksinya untuk menggoda pak Gideon.


"Maaf, Cantik, selama ini ponselku dipegang oleh istriku, maklum...!" ucap pak Gideon sambil tertawa.


"Bisa nggak, kita ketemuan sekarang?" tanya Dewi dengan suara yang dibuat manja.


"Kenapa nggak, datang aja ke rumah!"


"Takut ahh, nanti istrimu marah-marah,"


"Nggak usah takut Sayang, istriku sedang tidak ada di rumah, dia sedang menghadiri acara perpisahan anaknya di sekolah!'


"Ok, deh, tunggu yah, aku segera meluncur!"


Dewi berangkat menggunakan motor matic yang baru beberapa bulan ini ia beli dengan cara mengangsur pembayarannya tiap bulan. Ia masih ingat pembayaran bulan pertama dan kedua ia bayar menggunakan uang pemberian pak Gideon dan kali ini ia berangkat dengan senang karena berharap akan mendapatkan uang yang banyak.


Ia sengaja memarkir motornya di kedai yang ada di seberang jalanan lalu jalan kaki menuju ke rumah pak Gideon. Di sana laki-laki paruh baya itu sudah tidak sabar menunggunya.


Pak Gideon mengintip dari balik jendela kaca dan seketika keningnya berkerut melihat gaya wanita yang berjalan ke arah rumahnya seperti orang yang sedang hamil. Ia pun memperhatikan dengan saksama hingga jarak Dewi semakin dekat. Perutnya sangat kentara karena ia mengenakan baju kaos yang ketat.


Raut wajah pak Gideon kini berubah. Rasa rindu yang sudah menggebu-gebu seketika hilang begitu saja tapi ia tetap membukakan pintu dan Dewi langsung masuk.

__ADS_1


Tanpa merasa sungkan Dewi memeluk dan mencium pipi pak Gideon yang masih berdiri kaku.


"Ayolah, saya sangat merindukanmu!" Dewi menggodanya dengan sentuhan-sentuhan mautnya.


"Maaf Dewi, saya tidak bisa melakukannya kepada wanita yang sedang hamil!"


"Justru itu aku datang menemui Bapak karena anak dalam kandunganku ini adalah...,"


"Kamu jangan asal nuduh yah, kamu bisa saya tuntut karena melakukan pencemaran nama baik. Jangan kira saya ini bodoh!"


"Tapi Bapak sudah berapa kali menggauliku, jadi terbukti dong bahwa anak ini adalah anak Bapak,"


Wajah pak Gideon merah padam mendengar ucapan Dewi. Ia memaksa otaknya untuk mencari alasan yang masuk akal untuk bisa lepas dari tuduhan perempuan yang ada di hadapannya saat ini.


"Sekarang juga kita ke klinik untuk memeriksakan kandunganmu. Saya mau tahu usia kandunganmu itu sudah berapa bulan!" ajak pak Gieon.


"Kenapa bengong? Pasti kamu takut ketahuan yah!" kata pak Gideon lagi.


Ia pun mengusir Dewi agar keluar dan menjauhi rumahnya.


"Asal Bapak tahu, aku punya video tentang kebersamaan kita dan tunggu aja, akan kubuat Viral!" seru Dewi sebelum ia keluar dari pintu.


Mendengar ancaman dari Dewi, pak Gideon langsung mendekati dan merampas ponsel yang ada dalam genggaman tangan perempuan itu lalu membanting ke lantai dengan sekuat tenaga. Ponsel tersebut hancur berkeping-keping menjadi beberapa bagian. Tidak hanya sampai di situ, ia mangambil kartu yang ada di dalamnya lalu merusaknya.


Dewi menangis melihat barang berharga miliknya sudah rusak.


"Makanya, jangan coba-coba mau mempermainkan saya, sana cari laki-laki yang sudah meninggalkan benih di rahimmu!" bentak pak Gideon dengan keras.

__ADS_1


Dewi menyesal telah mengancam pak Gideon padahal ia hanya berbohong karena tidak ada video yang dimaksudkan dalam ponselnya. Akibatnya, sekarang ia tidak punya lagi ponsel.


Ia pun menatap wajah pak Gideon dengan tatapan penuh kebencian lalu keluar dari rumah sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar.


Tanpa diduga, di luar ia bertemu dengan ibu Arlin bersama anaknya yang baru saja tiba.


"Hey, kamu siapa?" tanya ibu Arlin sambil memperhatikan penampilan Dewi mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Dewi mulai gemetar melihat tatapan garang dari istri pak Gideon. Ia pun mengambil ancang-ancang untuk berlari tapi tangan ibu Arlin dengan lincah mencekal pergelangan tangannya bahkan ia meminta bantuan kepada Angga untuk memegangi tangan sebelahnya.


Pak Gideon yang melihat kejadian itu segera masuk ke kamar dan berpura-pura tidur. "Tamatlah riwayatku sekarang!" katanya dalam hati. Keringat dingin mulai mengucur dari tubuhnya.


Sementara itu ibu Arlin dan Annga menarik paksa tangan Dewi dan membawanya ke teras rumah untuk dimintai keterangan.


"Kalau kamu mau selamat dari amukanku, lebih baik kamu berterus terang, untuk apa datang ke rumahku!" kata ibu Arlin dengan nafas naik-turun.


Dewi memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat. Ia takut jika salah jawab dan ibu Arlin akan mencakar wajah cantiknya dengan kuku-kuku panjangnya yang terawat baik.


"Ayo jawab!" bentak ibu Arlin karena kesabarannya sudah hampir habis.


"Ak... aku... aku," Dewi terbata-bata karena gugup dan takut.


Ibu Arlin mulai menarik rambut pirang milik Dewi dengan kasar.


"Jangan Bu, kasihan!" ucap Angga memelas. Ia gemetar melihat ibunya yang mulai kasar.


"Diam kamu, anak kecil jangan ikut campur! Wanita ini pasti ada hubungan dengan ayahmu,"

__ADS_1


Pak Gideon yang berada di kamar semakin ketakutan mendengar suara istrinya. "Mampuslah diriku sekarang!" gumamnya dalam hati.


__ADS_2