
Makanan sudah tersaji di meja. Tampak ibu Elma gelisah dan berjalan mondar-mandir karena Dewi belum muncul juga pada hal ia sudah menghubunginya satu jam yang lalu.
Sementara itu di ruang tamu, Eric tampak sibuk dengan ponselnya sedangkan ayahnya tampak gelisah sama seperti ibunya yang berada di dapur. Pak Hendrik sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Dewi. Sebentar-sebentar ia berdiri dan melihat ke arah jalan lalu duduk kembali sambil menghembuskan nafas dengan berat.
"Ada apa Ayah, kenapa gelisah?" tanya Eric dengan heran melihat tingkah ayahnya yang sangat gelisah.
"Nggak ada apa-apa kok, cuman sedikit lapar nih tapi ibu kamu belum memanggil kita," sahut pak Hendrik.
"Kalau begitu, ayo kita samperin ibu ke dapur soalnya saya juga udah lapar bangat, nih!" ajak Eric dan langsung beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju ke dapur diikuti oleh ayahnya.
"Ternyata benar, ibu sudah menyiapakan semuanya. Yuk kita makan!" kata Eric lagi.
Pak Hendrik ikut duduk menghadap meja makan lalu menyantap makanan tersebut. Ibu Elma tampak bingung tapi ia tidak bisa mencegah suami dan anaknya untuk menunggu dulu sebentar.
"Kok, Ibu diam saja? Yuk kita makan ramai-ramai!" ajak Eric.
"Ohh, iya, Nak," sahut ibu Elma.
Mereka pun menikmati makanannya tanpa suara. Tampak Eric sangat menikmati masakan ibunya karena sudah hampir dua minggu ini tidak pernah makan dengan tenang. Makannya juga hanya sedikit, mungkin karena kurang istirahat sehingga selerah makannya jadi berkurang ditambah lagi dengan pikiran yang sedang kacau.
Usai makan, Eric dan ayahnya duduk-duduk di ruang tengah sedangkan ibunya masih beres-beres di dapur.
Tiga puluh menit telah berlalu, Eric pun pamit kepada kedua orang tuanya karena rasa kantuk sudah menyerangnya. Ia ingin beristirahat di rumahnya karena besok harus masuk kantor lagi.
"Bermalam di sini aja, Nak!" kata ibu Elma yang masih berharap bahwa Dewi akan segera datang.
"Terima kasih Bu, nanti lain kali!" sahut Eric. Ia segera beranjak dari duduknya dan keluar. Tidak lama kemudian suara kendaraannya menghilang dari pendengaran kedua orang tuanya.
Berselang sepuluh menit, Dewi baru muncul. Ia turun dari ojek sambil menenteng sebuah kotak kue berukuran sedang.
Dengan percaya diri ia melangkah masuk ke rumah yang pintunya terbuka. Pak Hendrik yang duduk di sofa kaget sekaligus gembira atas kehadiran Dewi yang sudah sejak tadi ia tunggu-tunggu.
Bau wangi dari tubuh Dewi menusuk hidung menambah rasa simpatik. Pak Hendrik mempersilahkan Dewi duduk.
Ia pun duduk tepat di depan pak Hendrik sambil memamerkan kecantikan dan penampilan seksinya. Rok yang dikenakan di atas lutut sehingga paha mulusnya terlihat nyata membuat pak Hendrik nyaris tidak bisa bergerak. Melihat hal itu, Dewi sengaja melebarkan kakinya lalu menggerakkan di bawah kolong meja menyentuh kaki pak Hendrik.
Keduanya saling bertatapan sambil tersenyum namun senyumnya memudar ketika mendengar suara ibu Elma.
"Waduhhh, kenapa lambat sekali datang, cantik? Eric baru aja pulang soalnya udah ngantuk bangat katanya, maklum udah beberapa hari ini tidak pernah istirahat!" kata ibu Elma dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok Tante, besok-besok ada waktu lagi," sahut Dewi dengan suara manja.
"Iya juga sih," ucap ibu Elma sambil melirik dos makanan di meja.
"Hampir lupa Tante, nih gorengan, masih hangat loh!" kata Dewi sambil menyodorkan dos yang berisi gorengan kepada ibu Elma.
"Aduh, repot-repot segala," ucap ibu Elma basa-basi. Ia menerima dos tersebut dan membawanya ke belakang. Tak lupa ia meneriaki Erika yang berada di kamarnya untuk ikut mencicipi gorengan tersebut.
Ketika ibu Elma berlalu ke dapur, Dewi pindah dan duduk berdampingan dengan pak Hendrik. Ia sengaja duduk tanpa jarak untuk menggodanya karena keuangannya sekarang sudah menipis padahal baru aja seminggu sudah terima gaji di kantornya.
"Boleh nggak, Om antar aku pulang nanti ke rumah?" tanya Dewi dengan wajah yang sangat dekat ke wajah pak Hendrik sehingga laki-laki itu merasakan hangat hembusan nafasnya.
"Om kira kamu datang pakai mobil," sahut pak Hendrik heran.
"Nggak Om, tadi aku naik ojek ke sini," sahut Dewi.
Bagi pak Hendrik, suara perempuan muda yang ada di sampingnya bagaikan alunan musik yang sangat merdu dan mampu menentramkan hatinya.
"Nanti saya izin sama istriku,"
"Ihh, Om takut yah sama tante?"
"Nggak juga sih, namanya juga suami-istri... yah harus dong saling menghargai,"
"Mari, dicicipi!" kata ibu Elda lalu duduk di samping suaminya.
Mereka menikmati munuman tersebut sambil bercengkrama. Sesekali terdengar suara gelak tawa yang riuh.
"Sepertinya udah larut nih, aku harus pulang tapi... takut pulang sendiri. Tadinya aku berani ke sini karena berharap ada Eric yang akan mengantarku pulang, ternyata dia udah pulang duluan," ucap Dewi dengan pelan.
"Kamu bermalam aja di sini, nggak usah khawatir, tuh ada kamar tamu yang kosong atau kalau mau tidur aja di kamar Erika!" kata ibu Elma.
"Besok aku harus pagi-pagi ke kantor, takutnya nanti terlambat kalau nginap di sini," ujar Dewi sambil mengedipkan mata sebelah untuk memberi kode kepada pak Hendrik agar ia ngomong kepada istrinya tapi orang tua itu malah gugup.
"Aduh... gimana yah?" ucap ibu Elma bingung.
"Boleh nggak aku diantar ama Om?" pinta Dewi dengan suara memeles
"Oh, iya, nggak apa-apa 'kan Pa, tolong antar dulu calon mantu kita!" pinta ibu Elma penuh harap.
__ADS_1
Dengan cepat pak Hendrik mengangguk. Bukankah itu yang ditunggu-tunggu sejak tadi? Ia segera beranjak dari duduknya dan meraih kunci motor yang ada di meja dekat TV lalu ke kamar memakai jaket. Pak Hendrik yang sudah berumur empat puluh delapan tahun itu tampak lebih muda dari usianya.
"Ayo Nak, Om antar!" ucap pak Hendrik dengan mimik wajah biasa-biasa saja. Ia menyembunyikan rasa bahagia yang memenuhi seluruh rongga hatinya saat ini.
"Mari Tante, aku pulang dulu!" ucap Dewi lalu mengikuti pak Hendrik ke luar.
Setelah Dewi duduk manis di belakang, pak Hendrik langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tanpa diminta Dewi melingkarkan tangannya di pinggang dan menyandarkan kepalanya di punggung pak Hendrik.
Pak Hendrik memperlambat laju kendaraannya dengan harapan bisa menikmati perjalanan di malam hari yang dingin bersama dengan seorang perempuan cantik.
Gesekan kedua gunung kembar dirasakan oleh pak Hendrik di punggungnya membuat hatinya berdebar-debar.
"Om, punya uang nggak?" tanya Dewi memulai aksinya.
"Punya, memangnya kamu butuh berapa?" tanya pak Hendrik dengan cepat karena ia senang dengan elusan tangan halus yang meraba-raba dadanya.
"Lima ratus ribu aja Om, soalnya aku mau bayar sewa rumah dan gajiku kemarin sudah habis buat pengobatan salah seorang adikku," sahut Dewi dengan bualannya.
"Nanti Om berikan jika kita sudah tiba di rumahmu," kata pak Hendrik.
Senyum mengembang di bibir Dewi. Ia sengaja meminta dengan nominal sedikit, namanya juga baru awal, makin lama makin bertambah nominalnya.
Pukul 11.30 WIB keduanya tiba di rumah kontrakan. Pak Hendrik pura-pura mau langsung balik tanpa memberikan uang yang diminta oleh Dewi tadi namun seperti yang ada dalam otaknya, perempuan itu menarik lengannya dan mengajak masuk ke dalam rumah.
Setelah menutup pintu, Dewi duduk di pangkuan pak Hendrik lalu memberikan ciuman mesra.
"Hadiah buat Om karena sudah rela mengantarku pulang!" katanya sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher pak Hendrik.
Nafas pak Hendrik turun-naik mendapat perlakuan mesra dari Dewi. Ia pun tak mau menyia-nyiakan waktu yang ada. Dua gunung kembar dan kenyal kini menjadi incarannya karena dari tadi sudah menampakkan diri setengahnya.
Dewi paham keinginan pak Hendrik. Ia membuka dua buah anak kancing bajunya pada bagian depan sehingga gunung kembarnya sudah tampak tapi masih malu-malu karena belum terlihat secara keseluruhan.
"Wauhhh, cantiknya!" bisik pak Hendrik yang takjub melihat benda kenyal yang sudah menggelantung dengan bebas di depannya.
"Ayolah Om, aku haus ingin disentuh!" ucap Dewi sambil meraih tangan kekar milik pak Hendrik dan meletakkan pada gundukan kenyal yang mulus.
Pak Hendrik tersenyum karena ibaratnya sedang mendapat durian runtuh. Jiwa mudanya seketika menguasai dirinya membuat Dewi kagum karena tidak menyangkah bahwa orang tua ini ternyata lebih hebat dari pria yang pernah bersamanya.
"Tunggu dulu Om, mana janjinya tadi?" kata Dewi dengan manja.
__ADS_1
"Oh, iya, Om hampir lupa," ujar pak Hendrik. Segera ia merogoh saku celananya, mengambil dompet dan mengelurkan uang berwarna merah sebanyak lima lembar lalu memberikan kepada Dewi yang masih duduk manis di pangkuannya.
Hampir satu jam pak Hendrik dan Dewi bermain hingga ponsel miliknya berdering. Ibu Elma yang menelepon suaminya. Pak Hendrik sangat kecewa karena permainannya belum tuntas tapi ia harus pulang sekarang juga agar istrinya tidak curiga.