MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
70. Berjanji Akan Berubah


__ADS_3

Karyawan baru itu masih berdiri terpaku di tempat dan matanya tidak berkedip melihat Eric dan Anna yang sedang tersenyum bahagia. "Berarti sekarang mereka adalah bos saya," gumamnya.


Di sudut ruangan, Susi tersenyum ketika mendengar MC menyerukan namanya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke depan untuk menerima suapan kue dari sahabatnya seperti yangereka lakukan tadi kepada orang tua, saudara, dan juga terhadap Felyn, putrinya.


Karyawan baru itu semakin terperangah dan tidak percaya ketika melihat Susi berjalan mendekati Anna dan Eric. Ia mengucek-ngucek matanya lalu mempertajam penglihatan karena khawatir jika salah. "Benar, dia adalah Susi," desisnya dalam hati.


Rasa gembira yang tiada tara mendorong dirinya ikut maju ke depan tanpa ada rasa sungkan dan malu.


"Selamat siang semuanya, maaf saya terlambat!" ucapnya dengan wajah berbinar.


Kini giliran Eric, Anna, dan Susi yang terperanjat serta para karyawan juga ikut heran melihat Johan yang ikut maju ke depan tanpa dipersilahkan. Dalam hati mereka berpikir, kenapa ada seoramg karyawan yamg masih baru sangat lancang.


"Johan...!" ucap Anna masih dengan ekspresi kaget dan heran kenapa pria ini tiba-tiba muncul.


"Selamat siang dan terima kasih! Kamu datang tepat waktu," ujar Eric dengan senang.


Susi hanya tertunduk dengan perasaan yang berkecamuk dan hatinya dag, dig, dug ketika Johan mendekat dan menggenggam tangannya dengan erat.


Suara MC kembali menggema untuk mempersilahkan Susi kembali ke tempat menyelamatkan dirinya dari rasa gugup yang mendera. Ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Johan lalu kembali ke tempat semula.

__ADS_1


Selanjutnya acara demi acara berjalan dengan baik hingga tiba pada acara makan bersama. Para tamu secara antri mengambil makanan yang telah disiapkan secara prasmanan. Ada beberapa macam masakan yang tersedia membuat para tamu menikmati dengan lahap apalagi dilayani oleh para karyawan yang bekerja di rumah makan milik pak Hendrik. Mereka sudah terlatih bagaimana cara melayani seseorang untuk menarik pelanggan yang lebih banyak lagi. Mereka tampak ramah dan bersahabat sehingga para tamu merasa nyaman.


Dari jarak yang agak jauh, Johan memperhatikan gerak-gerik Susi dengan saksama sambil terus memikirkan dan merangkai kata-kata yang akan diucapkan nanti di depan Susi sebagai permintaan maafnya. Ia sangat menyesali sikap dan perbuatannya selama ini yang telah melukai hati kekasihnya.


Demikian juga dengan Susi, ia tidak fokus makan karena berpikir, apakah Johan mau bertanggung jawab atas kehamilannya? Untuk selanjutnya nanti dipikirkan lagi, yang terpenting sekarang bagaimana cara agar Johan mau menemui kedua orang tuanya.


Beberapa saat kemudian para tamu sudah mulai berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing dan mereka semua masih mendapat nasi kotak untuk dibawa pulang.


Pak Jasmin bersama istrinya masih tinggal bersama mereka atas permintaan Eric dan Anna karena mereka sudah menganggapnya sebagai orang tua sendiri.


"Aduh, saya lupa tadi menanyakan tentang karyawan yang baru masuk tempo hari, bagaimana kinerjanya dan apakah ia bisa diandalkan!" kata Eric kepada pak Jasmin.


"Johan, maksudnya?" tanya Eric sambil menautkan alisnya karena kurang percaya.


"Nak Eric sudah kenal orangnya?" tanya pak Jasmin yang ikut heran. Tadi ia sudah turun ke lantai satu katika Johan datang dan ikut ke depan memberi ucapan selamat kepada Eric dan Anna.


"Ada apa ini?" tanya Johan yang datang menghampiri mereka. Ia baru saja keluar dari toilet.


"Apa benar kamu bekerja di sini?" tanya Eric kepada Johan kerena masih tidak percaya dengan ucapan pak Jasmin.

__ADS_1


"Iya, saya juga nggak pernah nyangka sebelumnya jika usaha mebel ini adalah milikmu dan tolong jangan pecat saya karena saya sangat butuh dan juga sudah nyaman dengan pekerjaan ini!" sahut Johan dengan serius. Ia ingat sikapnya selama ini yang begitu kasar terhadap Eric sehingga khawatir jika Eric masih menyimpan rasa dendam terhadapnya dan bisa saja memecatnya sekarang juga.


Tampak Eric seolah berpikir keras membuat jantung Johan dag, dig, dug, termasuk juga mereka yang ada di situ, tak terkecuali dengan Susi, padahal Eric hanya akting karena ide yang bagus muncul secara tiba-tiba di kepalanya.


"Kami tidak akan memecatmu tapi ada syaratnya!" kata Eric dengan mimik wajah serius pula.


"Katakan segera apa syaratnya, pasti saya akan menurutinya!" ucap Johan tak sabar.


"Kamu harus secepatnya menemui kedua orang tua Susi untuk melamar dan setelah itu menikahi anak mereka baru boleh bekerja di sini lagi!"


Sontak Johan menoleh ke arah Susi yang duduk di kursi sambil menunduk.


"Syarat yang sangat mudah karena ini semua tergantung kepada Susi, apakah dia mau memaafkan dan mau menerima saya apa adanya," kata Johan merendah.


Susi tidak dapat lagi menahan haru, ia menangis tersedu-sedu membuat semua yang hadir di situ ikut meneteskan air mata.


"Saya sudah berjanji akan berubah dan tidak akan mengulangi lagi apa yang sudah berlalu!" kata Johan sambil menyeka air mata yang mengalir deras di pipi Susi menggunakan punggung tanggannya.


Mereka pun meninggalkan ruangan tersebut dan memberikan kesempatan kepada Johan dan Susi untuk mengeluarkan isi hati masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2