MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
23. Teman Curhat


__ADS_3

Eric terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara ribut-ribut di luar. Dengan mengucek-ngucek matanya ia menuju ke ruang tamu dan mengintip ke luar.


"Hey, pembohong! Mana janjimu?" teriak ibu Since sambil menunjuk-nunjuk wajah Dewi.


"Sabar Bu, ini kan baru hari ketiga, jadi sebentar malam baru ada uangku soalnya saudaraku baru akan mentransfer dari Kalimantan!" sahut Dewi.


Kedua wanita di tetangga sebelah itu sedang beradu mulut hingga menjadi tontonan gratis para warga yang lewat.


Eric menggeleng-gelengkan kepalanya. "Beruntunglah saya tidak memperistri dia, sifat aslinya semakin nyata," guman Eric dalam hati.


Ia duduk di sofa. Matanya terpaut pada foto yang tergantung di dinding dengan ukuran besar. Tampak dirinya tersenyum dengan tangan memegang pundak istrinya yang duduk di kursi sambil menggendong Felyn yang saat itu baru berumur lima belas bulan. Senyum ketulusan tergambar pada wajah Anna. Eric seolah bertatapan langsung dengannya sehingga ia beranjak dari duduknya dan mendekati gambar tersebut lalu mengelus-elus wajah orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya secara bergantian.


Tak terasa air matanya mengalir ketika menyadari bahwa istri dan anaknya telah pergi membawa luka di hati. Ia hanya mampu untuk selalu mendoakan mereka siang dan malam dan selalu memohon agar Tuhan memberikan hikmat dan petunjuk agar suatu waktu mereka dapat bersatu kembali.


Minggu lalu Eric nekat lagi berangkat ke kota B dengan harapan bisa bertemu dengan anak dan istrinya namun ia hanya menuai kekecewaan, apalagi setelah melihat mainan dan pakaian yang ia gantung di dekat pintu rumah mertuanya masih tergantung dengan rapi. Artinya, selama ini yang punya rumah belum pernah datang untuk mengunjungi rumahnya.


Melihat pekarangan rumah yang bersih dan rumput-rumput liar sudah mengering, ia berpikir bahwa kemungkinan mertuanya telah menyewa seseorang untuk mengerjakan pekerjaan tersebut.


Untuk menghibur hatinya dari rasa rindu dan sepi ia meraih ponselnya dan membuka galeri untuk melihat foto kenangan bersama anak dan istrinya.


Setelah beberapa saat lamanya ia beralih ke aplikasi WhatsApp dan ia melihat ada kiriman video dari ibunya beberapa hari yang lalu. Pikirnya, pasti video ini berisi kebersamaan ibu dengan Dewi karena ia sangat paham keinginan ibunya yang ingin menjodohkan dirinya dengan perempuan tersebut.


Niatnya akan menghapus kiriman video tersebut tapi malah terputar dan matanya pun terbelalak melihat adegan panas antara ayahnya dan Dewi pada video dengan durasi yang lumayan panjang.


"Kurang ajar!" desisnya dalam hati. Tangannya mengepal dan giginya gemeletuk menahan amarah.


Ia pun menghubungi ibunya.


"Halo Nak!" terdengar sapaan dari ibunya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan keinginan Ibu yang mati-matian mau menikahkan saya dengan Dewi?"


Ibu Elma tidak menjawab, namun tangisnya pecah.


"Sekarang Ibu baru tahu 'kan, bagaimana kepribadian Dewi yang sebenarnya? Terus terang saya sangat kecewa karena istriku yang begitu tulus telah menjadi korban yang sampai saat ini saya belum tahu keberadaannya. Semua ini gara-gara Ibu yang selalu mendukung perempuan licik itu. Lihatlah Bu, ayahku pun ia embat!"


Eric memutuskan sambungan teleponnya dan kembali menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kasar.


Dewi benar-benar jahat dan murahan. Dua rumah tangga sudah ia hancurkan dalam waktu yang bersamaan.


***


Keesokan harinya Eric kembali melihat pemandangan yang serupa dengan kejadian kemarin di rumah tetangga. Tampak seorang laki-laki muda berkemeja putih sedang beradu mulut dengan Dewi. Eric sengaja berlama-lama memasang sepatunya di teras rumah agar mendengar percakapan mereka.


"Mobil ini akan kami tarik jika dalam minggu ini Mbak tidak membayar angsurannya!" kata pria tersebut dengan tegas.


"Aku akan berusaha pak," ucap Dewi.


"Nggak Pak, dalam minggu ini aku akan segera membayarnya,"


Sekarang Eric sudah tahu bahwa mobil milik Dewi yang sering kali ia pamer ternyata belum lunas.


Eric sengaja seolah-olah tidak melihat dan mendengar obrolan mereka. Ia lalu berangkat ke kantor tanpa menoleh sedikit pun. Tiba di kantor ia masih punya waktu bersantai selama lima belas menit dan waktu tersebut ia gunakan untuk menelepon adiknya karena penasaran dengan keadaan rumah tangga orang tuanya.


Erika bercerita sesuai dengan kenyataan yang dilihatnya. Dari suara adiknya lewat telepon genggam, Eric memastikan bahwa Erika menangis.


"Ibu telah mengusir ayah dan ayah pergi hanya membawa pakaian yang melekat pada tubuhnya. Ibu tidak membiarkannya untuk membawa sesuatu, termasuk ponsel." Erika menambahkan ceritanya.


Tak lupa ia juga menceritakan pengakuan ibunya yang menghakimi dirinya sendiri dan berpendapat bahwa semua yang dialami saat ini adalah akibat dari perbuatannya terhadap Anna.

__ADS_1


Masih banyak hal mereka bahas hingga jam kerja bagi Eric sudah tiba. Demikian juga dengan adiknya yang segera masuk ke ruang kelasnya unyuk menerima pembelajaran dari guru.


Eric bekerja dengan pikiran berkelana. Ia berpendapat bahwa semua kesulitan dan pergumulan yang mereka hadapi saat ini tidak akan pernah terjadi seandainya Dewi tidak datang dan menjadi pihak ketiga yang merusak rumah tangga mereka.


Ada rasa sedih dan iba saat mengingat sang ayah yang sekarang entah di mana rimbahnya. Ia tak habis pikir dengan kelakuan ayahnya itu yang telah tega menyakiti hati ibunya.


Eric berharap bahwa semua pergumulan yang dialami oleh orang tuanya akan menjadi pelajaran dan pengalaman yang sangat berarti dan dapat membuat ibunya sadar untuk menghargai orang lain serta tidak gampang terpengaruh dengan omongan seseorang.


Eric tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang selalu memperhatikan gerak-geriknya. Mata yang indah dengan bulu yang lentik milik Susi terus mengawasinya dari ruangan sebelah. Susi tahu bahwa Eric sedang bergumul karena sangat nampak dari mimik wajahnya serta tubuhnya yang mulai kurus.


Namun sejauh ini Susi tidak pernah lagi mencari kesempatan untuk menarik perhatian Eric. Perasaan suka yang ada dalam hatinya ditutupnya dalam-dalam karena ia tahu bahwa Eric bukanlah pria sembarangan.


Susi ingin melihat Eric bahagia. Entahlah, rasa apa yang ada dalam hatinya. Kini ia berniat untuk menjadi sahabat dan menjadi teman curhat bagi Eric dan bersedia membantu untuk mencari keberadaan istri dan anaknya.


Setelah jam istirahat, Susi menghampiri Eric ke ruangannya. Hal ini sudah sering ia lakukan.


"Maaf yah kalau saya kepo dengan kehidupan Bapak soalnya selama ini saya perhatikan Bapak selalu sedih, bagi cerita dong, jangan dipendam sendiri, siapa tahu saya bisa bantu!" kata Susi sambil menyodorkan makanan yang dibawa dari rumah.


"Terima kasih Susi, saya hanya selalu kepikiran dengan istri dan anakku!" ucap Eric dengan sedih.


"Kalau boleh tahu, siapa nama istri Bapak?"


"Namanya Anna,"


"Saya mau cari-cari di Facebook, siapa tahu bisa berkenalan lewat aplikasi tersebut,"


"Ya, boleh juga. Mungkin saja ia masih menggunakan akunnya soalnya saya udah nggak bisa buka karena istriku sudah memblokir akunku,"


Susi mengetik nama Anna pada layar ponselnya dan ada beberapa akun yang muncul.

__ADS_1


"Coba lihat Pak, soalnya nama Anna terlalu banyak!"


Eric melihat ke layar ponsel milik Susi dan menunjukkan foto istrinya.


__ADS_2